Home >  Berita >  Peristiwa

Sumber Pertumbuhan Ekonomi Investasi dan Ekspor Masih Lemah di Sumut

Sumber Pertumbuhan Ekonomi Investasi dan Ekspor Masih Lemah di Sumut
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara (Sumut), Wiwiek Sisto Widayat saat diwawancarai media mengenai pertumbuhan ekonomi di Sumut dalam Triwulan III 2019.
Kamis, 07 November 2019 07:59 WIB
Penulis: Anita
MEDAN-Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara (Sumut) pada Triwulan III tercatat tumbuh 5,11 persen di Triwulan II tumbuh 5,25 persen dan di Triwulan I tumbuh 5,3 persen. Bila di rata-rata pertumbuhan ekonomi untuk di Sumut tumbuh tumbuh 5,22 persen. Dari pertumbuhan ekonomi Sumut ini bila dilihat dari sisi permintaannya selalu didorong konsumsi rumah tangga yang pangsanya mencapai 56 persen.

Hal ini dikatakan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara (Sumut), Wiwiek Sisto Widayat sebab di Triwulan III 2019. konsumsi rumah tangga tumbuh 4,9 persen dan dinilai cukup tinggi.

"Tetapi sumber-sumber lain masih di bawah rata-rata seperti misalnya investasi hanya 2,6 persen, ekspor dan impor hanya tumbuh 1 persen. Ini menjadi tantangan kita bagaimana kita meningkatkan investasi. Lalu mendorong ekspor. Untuk investasi tentu arus ada investasi bentuk bangunan dan non bangunan. Karena pangsa investasi di Sumut cukup tinggi ada 33 persen pangsanya," terangnya pada media pada kegiatan bincang media di Doffee Cafe Jalan T. Amir Hamzah Medan, Rabu (6/11/2019).

Untuk itu, sambungnya bila sumber-sumber lain seperti investasi dan ekspor bisa tumbuh 8 persen di Triwulan I, II dan III maka Sumut bisa mengungkit pertumbuhan ekonomi Sumut di 2024. Dan, bisa tumbuh di atas 5,4-5,5 persen.

"Ini yang kita harapkan. Lalu, potensi sumber-sumber ekonomi permintaan salah satunya juga dari konsumsi pemerintah. APBD sampai September kemarin baru 50-55 persen. Artinya masih ada 45 atau 45 persen lagi. Ini merupakan sumber pertumbuhan ekonomi di Sumut. Yang selanjutnya memang sedikit agak susah mengenai ekspor. Bagaimana kita mendorong ekspor ini karena masih tergantung dengan ekspor komoditi seperti palm oil, cpo, karet dan juga kopi," bebernya.
Ads

Sementara dari data koleksi yang ada harga-harga komoditas di Internasional dari komoditas ini belum membaik. Maka yang harus didorong adalah kuantitasnya. Bila harga masih turun tetapi kuantitasnya apakah bisa kita dorong. "Jadi apakah mereka bisa meningkatkan kuantitasnya tidak? Jadi bila bisa meningkatkan itu ekspor kita bisa naik," pungkasnya.*
www www