JAKARTA - Tahun 2017, itu merupakan tahun prihatin dunia olahraga Indonesia. Di tahun ini, Indonesia tidak mampu beranjak dari peringkat lima besar pada SEA Games Malaysia. Sejarah buruk ini mengulang prestasi pada SEA Games Singapura 2015.

Terakhir, di tahun ini juga Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) dijadikan 'korban' dari kegagalan Kontingen Merah Putih memperbaiki peringkat di negeri Jiran tersebut. Padahal, semua memahami bahwa kegagalan tersebut bukan sepenuhnya kesalahan Satlak Prima pimpinan Achmad Soetjipto.

Tetapi, masalah pasokan anggaran pelatnas dari Kemenpora yang tersendat-sendat itu menjadi penyebab utamanya.  

Ternyata, pembubaran Satlak Prima yang disebut memotong birokrasi dan mempercepat pasokan anggaran itu belum juga terbukti. Awan hitam itu tetap saja tak bergeser.

Kenapa demikian? Sejak Satlak Prima resmi dibubarkan melalui Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2017 tetap saja masalah anggaran belum juga terselesaikan. Waktu telah terbuang sia-sia hampir 2 bulan.

Apakah mungkin masalah anggaran pelatnas bisa dipastikan akan terealisasikan Januari 2018 sesuai janji Menpora Imam Nahrawi?

Sepertinya janji tersebut akan terkendala. Kenapa? Karena, pembahasan masalah anggaran dipastikan akan memakan waktu.

Apalagi, Kuasa Pengguna Anggaran Satuan Kerja Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga baru saja menetapkan Anggota Tim Verifikasi Anggaran Pelatnas Asian Games 2018 tertanggal 19 Desember 2017.

Anggota Tim Verifikasi yang terdiri dari Adhi Purnomo.(Ketua), M Yunus (Sekretaris) dengan anggota Hari Setiono, Twisyono, Enny Purnamawati, Muhammad Aziz Ariyanto, Del Asri, Dadi Surjadi, Hifni Hasan, Dikdik Jafar Sidik dan Yusuf Suparman dipastikan membutukan waktu dalam menentukan nilai anggaran yang diberikan kepada masing-masing cabor. 

Apalagi, 40 cabang olahraga Asian Games 2018 telah mengajukan anggaran kalau ditotalkan mencapai Rp1,2 triliun yang melebihi anggaran yang tersedia. 

Perlu diketahui bahwa Kemenpora melalui Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga telah mengunumkan alokasi anggaran pelatnas Asian Games sebesar Rp550 miliar.

Boleh-boleh saja ada wacana cabor prioritas akan mendapatkan anggaran lebih besar. Contohnya, cabang olahraga unggulan seperti cabang karate, dayung, taekwondo, angkat besi, dan bulutangkis yang menjadi unggulan selama ini.

Lantas bagaimana nasib cabang non prioritas seperti berkuda yang mengajukan anggaran pelatnas sebesar Rp60 miliar.  Belum lagi cabor jetski dan bridge yang disebut-sebut di atas kertas berpeluang meraih medali emas. 

Kita kan tahu persis bahwa biaya pembelian kuda dan perawatannya sangat besar. Belum lagi peralatan jetski dan uji cobanya serta Bridge yang melibatkan pelatih dunia dengan program pelatnas mengikuti kompetisi di Amerika dan Eropa.

Apakah kepentingan jetski dan bridge yang berpeluang meraih emas itu akan dikesampingkan?

Lantas bagaimana Kemenpora sebagai penanggung jawab prestasi memenuhi keinginan Presiden Jokowi agar Kontingen Indonesia bisa menembus 10 besar di Asian Games 2018?  Hanya waktu lah yang bisa menjawabnya. Azhari Nasution, Redaktur GoNews.co yang Juga Wartawan Senior Olahraga