Home >  Berita >  Peristiwa

Krisis Corona, Panen Padi di Samosir Tak Kembali Modal

Krisis Corona, Panen Padi di Samosir Tak Kembali Modal
Sabtu, 25 April 2020 11:03 WIB
Penulis: Helbos Sitanggang
SAMOSIR-Ditengah krisis pandemi Corona virus disease (Covid-19) yang kini sedang melanda dunia, sebagian besar petani padi di Kabupaten Samosir, juga harus menerima kenyataan pahit. Dimana, hasil panen padi tahun ini tak kembali modal. Hal itu dikarenakan tanaman padi tepat pada usia membuahi, kekurangan air akibat terancam musim kemarau.

Menurut penuturan salah satu warga petani padi, warga desa Pardugul, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Pak Rey Sitanggang (35), kepada GoSumut, Sabtu (25/4/2020), akibat hasil panen tahun ini yang tidak setimpal dengan modal yang sudah dikeluarkan, banyak petani padi merugi.

"Pastilah banyak diantara kami petani padi secara khusus yang ada di Desa ini dan desa tetangga, Panampangan yang mengalami kerugian. Bagaimana tidak, dari hasil panen, modal saja tak kembali. Padahal, biaya keluar sudah banyak mulai dari pengolahan, penanaman, pemupukan, dan membeli jaring. Belum lagi uang keluar untuk memompa, serta tenaga dan waktu yang tersita selama perawatan hingga masa panen tiba," papar Pak Rey.

Ia menjelaskan, walau tidak semua petani padi mengalami hal yang sama, namun bila dibandingkan dengan tahun lalu, lebih banyak dari mereka yang terdampak tahun ini akibat kemarau, dan hasil panen turun drastis.
Ads

"Yang menanam pada bulan Oktober dan November 2019, hasil panen mereka memang cukup bagus. Tetapi kami warga petani padi yang melakukan penanaman di bulan Desember 2019 hingga awal Januari 2020, hasil turun sangat drastis," jelasnya.

Dimana, sambungnya, dari 3 rante lahan padi miliknya, hasil tahun lalu mencapai 60 kaleng kering (sudah dijemur), namun tahun ini hanya keluar 10 kaleng basah (belum dijemur).

Lebih jauh ia mengungkapkan, selain karena kemarau, ada beberapa faktor penyebab menurunnya hasil padi hingga gagal panen tahun ini, yakni terlambatnya musim tanam akibat proyek desa yang waktu pengerjaannya selalu bersamaan dengan waktu musim tanam, irigasi yang belum mumpuni, serta serangan hama keong mas.

"Kami, masih termasuk petani padi tadah hujan yang bergantung pada alam. Biasanya mulai mengolah lahan bulan Oktober. Dan masa tanam, biasanya selesai hingga akhir Desember. Sementara, pelaksanaan proyek fisik desa, seperti pembangunan atau rehab irigasi, dan lainnya, sering pula berlangsung pada bulan yang sama. Akibatnya, masa pengolahan dan menanam kerap terganggu," ungkapnya.

Untuk itu, kedepan kata dia, diharapkan pemerintah desa, bisa menyesuaikan pelaksanaan pengerjaan proyek fisik desa dengan tidak mengganggu musim pengolahan lahan sawah padi dan masa pertanaman, serta menyiapkan operator khusus menangani handtraktor yang juga kerap jadi kendala.

"Kita berharap, pemerintah desa bisa menyikapinya dengan baik. Pengerjaan proyek desa tidak mengganggu masa tanam padi. Selain itu, handtraktor juga kerap jadi kendala karena operator. Kita berharap, pemerintah desa juga memikirkan hal itu demi kesejahteraan masayarakat petani. Saya juga berharap, semoga wabah Corona ini segera dan cepat berakhir," tutupnya.

Pantauan GoSumut, memanfaatkan musim yang kini sedang penghujan di Kabupaten Samosir, beberapa warga petani padi Kecamatan Pangururan yang sudah selesai panen padi, telah mengolah kembali lahannya. Sebagian sudah selesai melakukan penanaman jagung dan padi.
www www