Sajak Cinta Si Elang Laut Semarakkan Ramadhan di Kampoeng Seniman

Sajak Cinta Si Elang Laut Semarakkan Ramadhan di Kampoeng Seniman
Syamsul Rizal alias Tok Laut melantukan sajak-sajak Si Elang Laut.
Rabu, 15 Mei 2019 21:24 WIB
Penulis: Arsyad
TANJUNGBALAI-Lantunan musikalisasi musik sajak-sajak cinta Si Elang Laut turut menyemarakan Ramadhan di Kampoeng Seniman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Kota Tanjungbalai (DKTB) sebulan penuh selama bulan psuci ramadhan 1440-H.

Tak asing lagi dikalangan para seniman, sajak cinta berjudul Si Elang :Laut menyuarakan karya nyata penyair Kota Kerang Tanjungbalai Syamsul Rizal yang akrab disapa Tok Laut. " Beliau cukup banyak menelurkan karya-karya puisi bernuansa religi maupun umum, dan bahkan Tok Laut juga dikenal sebagai salah seorang pencipta lagu berirama melayu dan salah satu diantaranya berjudul "Cinta Lara ".

"Kini diarena Ramadhan di Kampoeng Seniman yang digelar DKTB dibawah pimpinan tokoh seniman muda Khuwailid Mingka yang akrab disapa Bung ZAwang, Syamsul Rizal kembali menorehkan beberapa karya terbaiknya. Selain sajak cinta Si Elang laut, juga syair yang berjudul Pengantin Sufy yang isinya antara lain "Kemarin kulihat memakai tali pinggang levis,Berjalan menuju titik nol,Bersama rupa rupa langkah,Ia terus berteriak melolongkan amarah, Mencari sajadah yg hilang,Bergerombol menyusun angka angka,Dari desa hingga kota,Lelaki berpeci hitam, Kulihat terdiam diperempatan jalan,Memandangi gerombolan yang lalu lalang,Tak bernapsu untuk ikut dibelakang,Sebab ia hanya memakai tali pinggang anyaman pintalan,Yang ia ambil dari gubuk tua tempat penyair tinggal".

Syamsul Rizal berpesan kepada kaum milenial untuk lebih kreatif. "Kalian harus berpegang teguh bahwa pengetahuan adalah sumber kebijaksanaan, rabuk bagi kecerdasan manusia, selain kuasa wacana atas praktik berkesenian kalian. Karena itu, gemari dan gauli buku-buku kehidupan,"ungkapnya.
Ads

"Saya berharap, kalian tak bersikap ahistoris atau anakronis atas sejarah kreatif lingkunganmu. Jangan sampai asa menghapus sejarah selaik bumerang memenggal peran sendiri. Ekstrapolasi tak mesti diberangkatkan dari titik nol kilometer. Jangan, jangan bertindak gegabah. Belajarlah dari hikmat sejarah."

"Anak-anaku, ingatlah, manusia tak hidup dalam ruang-waktu hampa. Persaingan atau pertengkaran kreatif adalah bianglala dalam kesenian. Karena kita percaya, pelangi kesenian adalah testamen kebudayaan, maka anak-pinakkan ide-ide jenial nan kreatif. Hidupi ia dengan penuh seluruh dalam proses kesenian kalian. Di tengah-tengah minimnya atensi atau peran negara, sekalian seniman muda sebaiknya bersinergi. Cermati seluruh peluang, potensi dan tantangan kreatif habitus tempat engkau tumbuh membesar. dan ambil langkah strategis, giatkan aktivisme.tumbuhkan eksperimentasi, galilah kedalaman budaya dan seni,"harapnya.*
www www