Agar Puasa Tak Sekedar Ritual

Minggu, 13 Mei 2018 19:24 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali
Agar Puasa Tak Sekedar RitualH Iqbal Ali
RAMADAN selalu dinanti. Hamba Allah beriman bersiap-siap untuk menikmatinya. Puasa Ramadan jelas merupakan perintah agama. ''Hai orang beriman, puasalah kamu seperti orang terdahulu, mudah mudahan kalian termasuk kelompok muttaqiin'', (Al Baqarah: 183).Hakikat dari ibadah puasa adalah : Pengendalian Diri dari hal-hal yang dilarang (kemungkaran) sekaligus mengajarkan prinsip hidup jujur, (At Taubah: 119). Selanjutnya memantapkan rasa malu (al hayaa’u syukbatu minal iman). Dan yang tak kalah pentingnya hikmah puasa adalah aspek kesehatan. Begitupula puasa menumbuhkan rasa simpati terhadap kaum duafa.

Prof Dr H Dadang Hawari (psikiater) mengatakan yang termasuk keluarga besar kemungkaran, dikelompokkan kedalam 5 M. Pertama, madat, yaitu keluarga besar narkoba. Kedua, miras dengan segala turunannya termasuk oplosan. Ketiga, main judi dengan segala jenisnya. Keempat, maling, terutama korupsi. Kelima, MA (selingkuh, zina, prostitusi). Prof Hawari melanjutkan, jika puasa benar-benar dilaksanakan dengan baik dan benar maka seorang muslim apalagi muttaqin pasti anti (menjauhi) 5 M di atas, karena kualitas iman dan taqwanya semakin baik.

Sayang, antara keinginan dan kenyataan hampir selalu pecah kongsi, tidak cocok. Kenyataan dan fakta dilapangan menunjukkan bahwa umat islam dari segi pengetahuan sudah oke, banyak tahu tentang suruhan dan larangan agama, tapi tak diamalkan. Rambu-rambu agama dilabrak.

Ads
Lebih parah lagi, yang tak masuk akal terjadi. Yang tak mungkin jadi kenyataan. Tak diduga, dilakukan. Contoh (sudah diketahui umum) dimana dua Menteri Agama dipenjara (korupsi), ketua umum partai Islam yang menyebut partainya paling bersih, dipenjara (korupsi) dan pegawai Kementerian Agama korupsi pengadaan Alquran.

Ada yang sedang viral akhir-akhir ini yaitu kasus travel umrah. Tega-teganya merampok uang calon jemaah umrohnya, dimana pemilik dan pengurusnya berlagak sangat islami, berpakaian gamis, berjilbab. Rupanya pakaian tersebut hanya untuk menutupi kejahatannya.

Tak heran jika mereka dikatakan ''preman berjubah'' dan penggarong-penggarong professional. Mereka orang islam, puasa, salat, haji dan seterusnya. Itulah orang fasik, mengaku islam tapi perilaku mengikuti setan. Dimana mereka dengan santainya mempermainkan agama. Berbuat ingkar dan makruf silih berganti, buat gaduh dengan pernyataan-pernyataan kontroversial lalu pergi umrah untuk mengelabui dan menutupi perbuatan-perbuatannya yang tak menyenangkan. Yusbihu mukminan, wayumsi kafiran (pagi beriman, sorenya kafir).

Sekali lagi kita sebut, apabila kaum muslimin betul-betul puasa dengan baik dan benar diyakini tidak akan berbuat 5 M, karena dia punya rasa malu baik kepada sesama apalagi terhadap Allah. Sebaliknya jika masih ada salah satu dari 5M berarti puasa hanya sekedar ritual dan rutinitas saja. Sekarang bagaimana kita? Mari kita tanya diri sendiri sekaligus jawab dengan jujur. Mudah-mudahan kita jauh dari 5 M tersebut melalui puasa yang sebenarnya. Insya Allah predikat muttaqin milik kita sekaligus negeri kita selalu mendapat rahmat sepanjang masa, aamiin.***

Drs H Iqbal Ali, MM adalah Ketua STISIP Persada Bunda 2008-2016/Mubalig IKMI Riau

Kategori:Opini
wwwwww