Opini

Tarman Azzam, Sang Orator PWI

Sabtu, 10 September 2016 07:49 WIB
Penulis: H Mulyadi
Tarman Azzam, Sang Orator PWIH Mulyadi

H.TARMAN AZZAM (67) yang dikenal juga sebagai Sang Orator PWI, Jumat pukul 09:23 WIT meninggal dunia di Ambon, Provinsi Maluku. Menurut salah seorang pengurus PWI Pusat Ilham Bintang, Almarhum tutup usia akibat terkena serangan jantung. Jenazahnya dibawa ke Jakarta ke rumah duka, yang beralamat di Jalan Wijaya Kusumah III/3 No. 118 Perumnas Klender, Jakarta Timur sekitar pukul 16.00 WIB. Tarman Azzam, lahir di Bangka tanggal 11 Desember 1949. Ia mempunyai isteri bernama Aas Sudiasih dan mempunyai anak bernama Moh. Iskandar.

Di lingkungan wartawan ia sering tampil sebagai orator dalam berbagai kegiatan pers. Gaya pidatonya memikat dengan nada suara mendekati bariton. Ia juga acap muncul diberbagai kegiatan kewartawanan dengan menyanyi di pentas. Salah satu lagu kegemarannya yaitu: Semalam di Malaysia. Selain aktif dalam dunia kewartawanan, almarhum merupakan alumni Lemhanas sekaligus sebagai dosen. Salah satu pesan kepada para wartawan muda, jangan lupa terus belajar, banyak membaca buku dan bertanyalah mengenai pengalaman hidup sebagai jurnalis kepada kalangan tua. Di Provinsi Riau tiga wartawan tua yang selalu berjumpa di berbagai kesempatan adalah Moeslim Kawi, Rida K Liamsi dan H. Mulyadi (penulis sendiri). Meskipun ia memiliki pengalaman luas, tetapi sikapnya rendah hati. Di wilayah Indonesia nyaris tidak ada provinsi yang tidak dikunjunginya. Baik di Indonesia Barat maupun Indonesia Timur.

Salah satu ciri khas almarhum adalah kemampuannya berorganisasi dan bersilaturahim dengan sesama rekan wartawan baik di daerah maupun pusat. Ia banyak meninggalkan kenangan bagi organisasi PWI dengan karya-karya monumentalnya. "Kita harus mengisi hidup untuk kepentingan masyarakat yang luas dimana pun kita berada" ujarnya dalam sebuah percakapan di Pekanbaru. Salah seorang pengurus PWI yang mengagumi sosok almarhum adalah Atal S Depari. "Saya merupakan murid almarhum" ujarnya. Tarman Azzam merupakan sosok wartawan yang mengakui kehebatan para pemimpin kita seperti Soekarno, Soeharto dan lain-lain. Selain mengagumi ia juga bersifat kritis terhadap kelemahan para pemimpin tersebut. Namun jangan lupa melihat sesuatu dengan kaca mata jernih, sehingga tidak larut dalam kultus berlebihan. Demikian juga jangan berlebihan merendahkan martabat para pemimpin kita.

Salah seorang rekan wartawan senior yang lebih dulu bertugas di lingkungan Istana adalah Daud Sinjal yang pernah menjadi pemimpin redaksi surat kabar "Sinar Harapan" yang terbit di Jakarta. Kebaikan almarhum melekat juga dihati seorang wartawan senior di Provinsi Riau, yakni Moeslim Kawi. Jika ada peristiwa penting, ia berusaha menitip pesan kepada penulis dengan mengatakan, "Jangan lupa sampaikan salam saya kepada Pak Tarman".

Di hari jumat yang barokah, Tarman Azzam meninggal dunia dengan tenang. Selamat jalan Sang Orator PWI semoga amal ibadah mu diterima disisi Allah SWT. Amin ya robbalallamin..

Ads
Kategori:Opini
wwwwww