Kembali ke Habitat

Kembali ke Habitat
Senin, 11 Juli 2016 18:51 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali, MM
KATA habitat berarti lingkungan dan ke kebiasaan juga diartikan tempat tinggal semula. Kembali kehabitat dalam tulisan ini maksudnya kembali kebiasaan (Habitual). Bulan Ramadhan dijuluki para pakar dan para pengamat sebagai ''bulan tampil saleh''. 

Orang siap memasukinya dengan berbagai cara, terutama dalam segi penampilan. Orang ingin menunjukkan bahwa dia juga seorang muslim yang baik, mulai dari pakaian muslim dan muslimah. Selama ini tidak menutup aurat, sekarang berjilbab seperti artis. Selama ini jarang solat, selama Ramadhan rajin ke mesjid. Selama ini sombong dan angkuh, mulai ramah. Selama ini pelit, sekarang mau bersedekah, mau menyumbang anak yatim dan tolong menolong.

Pokoknya selama bulan Ramadhan sepertinya ajaran islam teramalkan dengan baik. Damai betul dunia ini rasanya, yang ada manusia manusia berakhlak dan bertuhan. Tidak ada anarkis, tidak ada saling tuding, saling fitnah, saling menjelekkan, apalagi saling bunuh. Sekali lagi, damai, sejuk dan toleran kehidupan dunia ini, betul betul ideal. Bagaimana dengan kehadiran Syawal? Mulai bergeser, tadinya berjilbab, sekarang ber-jilboob, malah kembali setengah telanjang seperti artis artis.

Tadinya solat, kemesjid, sekarang mulai putus hubungan. Tadinya ramah, sopan, sekarang mulai sombong, cuek dan merasa berkuasa. Tadinya ada rasa kepedulian terhadap sesama, terutama kaum dhuafa, sekarang menjauh. Tadinya ada rasa malu, rasa risih, sekarang mulai hilang. Tadinya ada rasa takut berbuat kemungkaran, berbuat zalim, sekarang mulai menyusun strategi kembali untuk korupsi dan menindas.

Ads
Tadinya cocok antara ucapan dan perbuatan, sekarang pecah kongsi dan seterusnya. Begitulah keadaan yang kita lihat, yang terasa, dimana kehidupan ini rupanya penuh kepalsuan, penuh rekayasa, terutama oleh para pemimpin dan politisi disemua tingkat dan jajarannya.

Pertanyaan lagi, sampai kapan kondisi ini kita nikmati? Jawabannya tentu tergantung kepada kita semua, tanpa kecuali, terutama para pemimpin dan politisi. Yaitu ada kesadaran untuk berubah dan sekaligus siap berubah. Jika tidak, maka perlu direnungkan puisi singkat berikut ini,

Ingatlah wahai sahabat, bahwa dunia ada karena perubahan. Kitapun ada karena perubahan. Jika kita tidak berubah, maka perubahanlah yang akan merubah kita, jika itupun tidak merubah diri kita, berarti hidup telah kita ubah menjadi kematian.

Mari kita berusaha terus untuk menjadi insan Robbani, yaitu insan yang berakhlak mulia dan bertauhid yang mantap sepanjang hayat. Tidak hanya sekedar insan Ramadhani, yaitu berislam hanya selama Ramadhan. Insya Allah.***

Penulis adalah pengamat sosial dan keagamaan.
Kategori:Opini
wwwwww