Home >  Artikel >  Opini

Munaslub Golkar Harus Diserahkan ke Mekanisme yang Demokratis

Munaslub Golkar Harus Diserahkan ke Mekanisme yang Demokratis
Pengamat Politik Ferdy Hasiman.
Sabtu, 14 Mei 2016 01:35 WIB
Penulis: Ferdy Hasiman
JAKARTA- Jalan keluarnya mengatasi persoalan Golkar saat ini adalah melakukan Munaslub yang fair, demokratis, tanpa intimidasi, dan politik uang. Munaslub demokratis ini akan mengubah banyak kultur di Golkar bahwa menjadi Ketua Umum, tak harus memiliki banyak uang, tetapi harus memiliki kapasitas, integritas agar mampu membawa Golkar ke masa kejayaan baru.

Golkar yang jaya akan mengembalikan kepercayaan publik yang sudah mengalami defisit tajam paska reformasi tahun 1998. Itu mengisyaratkan ada politik kerendahan hati di kalangan elit untuk menyerahkan persoalan ke mekanisme partai yang demokratis.

Munaslub Golkar di Bali yang berlangsung tanggal 15-17, juni, 2016 harus mampu menghasilkan pemimpin yang mampu mengembalikan jati diri partai beringin. Artinya, pemimpin yang mampu membuat Golkar tak diombang-ambing kepentingan ketua umum partai.

Perpecahan internal Golkar muncul karena perebutan kekuasaan di tingkat elit. Pada jaman Orde Baru, Golkar memang sangat kompak, karena disatukan oleh kepentingan Soeharto dan kroni-kroninya. Paska reformasi kondisi itu sudah jauh berbeda. Paska reformasi, siapa saja yang ingin mengendalikan dan mengontrol Golkar untuk kepentingan pribadi dan golongan, akan mendapat resistensi besar dari internal Golkar.

Ads
Golkar tak sama dengan Partai Demokrat yang bergantung penuh pada Susilo Bambang Yudhoyono. Kelompok elit di tubuh Golkar tak terpusat pada satu kekuasaan tunggal, tetapi banyak elit. Maka, siapa saja yang ingin memulangkan Golkar ke politik dinasti atau membangkitkan kembali spirit oligarki, akan mendapat perlawanan keras dari internal partai.

Untuk itu, Munaslub Golkar di Bali harus hindari politik uang. Politik uang akan menghasilkan elit oligarkis dalam tubuh Golkar. Elit oligarkis hanya akan menggunakan Golkar sebagai instrument untuk kepentingan elit, bukan masa depan partai. Politik uang akan menghasilkan pemimpin Golkar yang korup dan ruang bagi calon Golkar yang memiliki cacat hokum untuk menang sangat terbuka lebar.

Jika calon yang cacat hukum menang, itu artinya, Golkar ke depan hanya sibuk menangkis serangan lawan politik pada elit partai Golkar. Pemimpin Golkar yang cacat hukum juga sangat mudah dikendalikan kekuasaan. Itu artinya, Golkar tak akan memiliki jati diri sebagai partai besar.

Munaslub harus mampu menghasilkan pemimpin Golkar yang memiliki energy positif membangun Golkar ke depan. Karena tugas pemimpin baru Golkar harus mampu mengakomdasi dua kubu yang selama ini bertikai. Ketua Umum Golkar yang baru juga harus mampu mempersiapkan kader-kader di daerah agar mampu bertarung dalam Pilkada serentak 2017 mendatang.

Pemimpin Golkar yang baru juga harus mampu melakukan system meritokrasi atau kaderisasi yang baik agar kelak Golkar bisa memiliki kadar yang dipersiapkan untuk menjadi Presiden tahun 2019. Itu bukan tugas mudah, tetapi memerlukan pemimpin yang bisa memberi energy positif untuk membangun Golkar. Ferdy Hasiman, Pengamat Ekonomi-Politik, LPI.
Editor : Daniel Caramoy
Kategori : Opini
www www