MEDAN - Sebagai upaya menurunkan jumlah penderita penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia khususnya di Sumatera Utara, Prodia berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Setelah menyelenggarakan seminar bagi masyarakat umum terkait kanker dan dengan pemeriksaan Genomics - CArisk, kali ini Grha Prodia memberikan pengetahuan tentang pemeriksaan Genomik kepada puluhan dokter di Medan.

Dr. dr. Gatot Susilo Lawrence, LAO, MSc, SpPA(K) menjelaskan, pengetahuan genetik saat ini masih minim. Padahal dalam pengaplikasian di bidang medis, adanya pemeriksaan genomik membuka paradigma baru dalam menilai risiko penyakit yang mendukung preventive medicine.

“Pemeriksaan genomik ini ditujukan untuk menilai resiko seseorang terhadap beberapa penyakit diantaranya adalah CArisk yakni untuk melihat risiko terhadap beberapa jenis penyakit kanker. Lalu DIArisk untuk melihat risiko seseorang terhadap penyakit diabetes. Sehingga bisa dilakukan pencegahan penyakit-penyakit ini,” katanya dalam seminar pemeriksaan Genomik bersama puluhan dokter Medan yang digelar di Grha Prodia Medan, Sabtu (7/9/2019).

Sebab, lanjut Dr. Gatot ada sepuluh penyakit tidak menular, salah satunya penyakit kanker yang menjadi penyakit terbanyak di Indonesia.

“Saat ini kita sudah mampu mendeteksi secara awal sebelum akhirnya seseorang itu memiliki penyakit kanker dengan tingkat keganasan yang tinggi salah satunya melalui pemeriksaan genomik di Prodia ini maka pencegahan bisa dilakukan dengan baik,” sebutnya.

Sementara itu, Dr. dr. Dina Keumala Sari, MG, SpGK mengatakan dengan adanya pemeriksaan nutrigenomics diharapkan bisa mencegah penyakit PTM dari awal.

“Kita ketahui penyakit tidak menular itu semakin meningkat seperti penyakit jantung, obesitas, diabetes, kanker, hipertensi dan lainnya. Jadi kalaulah kita bisa melakukan pencegahan di awal itu akan lebih baik dari pada sudah sifatnya kuratif atau mengobati,” katanya.

Setelah pemeriksaan gen, lanjutnya untuk penunjang lainnya yakni dari segi nutrisi. Bila penemuan gen sudah dilakukan dan sudah diketahui maka bisa mengantisipasi atau memberikan penatalaksanaan nutrisinya sesuai dengan gen yang sudah ada.

“Jadi pemeriksaan ini cukup sekali seumur hidup dan bisa menggambarkan bagaimana respon tubuh kita terhadap makanan, metabolisme dan termasuk pula aktivitas kita. Kalau sekiranya kita sudah tahu secara genetik maka kita akan mudah dalam memberikan asupan nutrisi sesuai yang diharapkan. Sehingga 10 sampai 15 tahun akan datang penyakit -penyakit PTM itu sudah jauh lebih berkurang. Kita tidak bisa menutup mata saat ini bahwa kematian penyebab PTM di Indonesia cukup tinggi,” terangnya.

Sementara itu, Adrian Susanto, M.Farm, Apt dari Prodia mengatakan pemeriksaan gen ini bertujuan sebagai upaya pencegahan.

“Apalagi saat ini hasilnya dilakukan di klinik dan tak perlu dikirim sampai ke luar negeri,” pungkasnya.