TOKYO - Penyimpangan perilaku di jejaring internet, saat seseorang meminta kenalannya untuk berfoto "selfie" dalam keadaan tanpa busana, bakal disasar sebagai sebuah perbuatan kriminal.

Tapi, langkah itu bukan terjadi di Indonesia. Ide ini justru muncul di ibukota Negeri Matahari Terbit, Jepang.

Seperti dikutip dari laman Asahi Shimbun, langkah itu dijajaki Pemerintah Kota Tokyo sejak 10 Februari lalu.
Hal ini menyusul meningkatnya aktivitas remaja, bahkan anak di bawah umur, dengan foto cabul bergambar diri sendiri dan mengirimkannya kepada orang lain.

“Kami percaya anak di bawah umur akan mempertimbangkan dan berkonsultasi dengan orang dewasa ketika mereka diminta untuk mengirim foto bugil, jika mereka tahu hal tersebut kini ilegal," demikian pernyataan dari seorang pejabat senior di Kepolisian Tokyo.

Tercatat, ada 376 korban foto "selfie" cabul yang separuhnya adalah murid jenjang SMP.

Angka itu merupakan angka korban di seluruh Jepang pada 2015 silam.

Sementara, sebanyak 40 persen korban lainnya adalah siswa SMA. Data tersebut dirilis Kepolisian Nasional Jepang.
Statistik dari enam bulan pertama tahun 2016 menunjukkan telah ada 239 korban.

Angka itu meningkat dari 207 korban para periode yang sama di tahun 2012. Pemerintah Kota Tokyo berencana memulai pembahsan tentang ide tersebut pada bulan ini.

Selanjutnya, sebuah rancangan peraturan diharapkan sudah tersusun pada saat musim panas mendatang. Kemungkinan, rancangan itu akan menjadi bahan revisi dalam peraturan tentang kepemudaan.

Jika revisi ini berjalan mulus, maka peraturan ini akan menjadi regulasi pertama di Jepang yang mengatur spesifik tentang isu tersebut.

Disebutkan, sebagian besar gambar porno diminta dikirimkan oleh orang yang ditemui korban secara online.

Sebanyak 80 persen dari kasus tersebut dialami para korban yang tak memiliki kawan di kehidupan nyata.

Pemkot Tokyo meyakini menyebarnya penggunaan internet hingga ke kalangan anak-anak juga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus semacam ini.

Sejalan dengan tak adanya aturan untuk permintaan foto telanjang, sebagian besar dari insiden yang telah terjadi dijerat dengan UU pornografi anak.

Atau, UU pemerasan, ketika pelaku meminta tebusan agar foto yang telah berada di tangannya tak disebarluaskan.

Sebagian besar anak di bawah umur yang menjadi korban mengaku takut bercerita dengan orang dewasa di sekitarnya tentang kejadian yang telah menimpa mereka.

Umumnya, para korban baru menghubungi polisi ketika telah menjadi korban pemerasan.(tnc)