Minta Maaf ke Komisi VII DPR, Chappy Hakim Bantah Pukul Mukhtar Tompo

Minta Maaf ke Komisi VII DPR, Chappy Hakim Bantah Pukul Mukhtar Tompo
Dirut PT Freeport Indonesia Chappy Hakim. (tempo.co)
Jum'at, 10 Februari 2017 07:43 WIB
JAKARTA - Direktur Utama PT Freeport Indonesia Chappy Hakim meminta maaf kepada Komisi VII DPR terkait insiden usai rapat dengar pendapat di Gedung DPR, Kamis (9/2). Namun Chappy hakim membantah telah memukul anggota Komisi VII DPR Mukhtar Tompo.

''Tidak benar telah terjadi pemukulan sebagaimana pemberitaan di media. Hal ini sejalan dengan pernyataan Pak Mukhtar sendiri bahwa tidak terjadi pemukulan,” kata Chappy dalam keterangan tertulisnya, Kamis malam, 9 Februari 2017, seperti dikutip dari tempo.co. 

Komisi VII DPR menggelar rapat dengar pendapat dengan sejumlah perusahaan tambang termasuk PT Freeport Indonesia. Chappy menuturkan rapat dengar pendapat antara DPR dan 9 perusahaan tambang termasuk Freeport Indonesia berjalan kondusif dan konstruktif.

Menurut Chappy, seusai rapat Muhktarlah yang menghampiri dirinya. Chappy lalu mempertanyakan tanggapannya mengenai ketidakkonsistenan perusahaan dan meminta Mukhtar untuk menunjukkan ketidakkonsistenan tersebut.

Ads
''Saya sangat menghargai Komisi VII DPR atas masukan dan pertanyaan yang konstruktif yang diajukan oleh para anggota Dewan,'' kata Chappy.

Chappy mengatakan, yang terjadi selepas rapat dengan Komisi VII  adalah hal yang tidak diinginkan oleh pihak manapun.Chappy mengaku dengan tulus memohon maaf kepada Komisi VII DPR atas polemik yang terjadi. Selain itu, ia memastikan akan tetap mematuhi hukum dan seluruh peraturan di Indonesia.

''Saya berharap dapat terus bekerjasama dan berkontribusi kepada seluruh pemangku kepentingan di Papua dan Indonesia,'' kata Chappy.

Sedangkan Mukhtar mengatakan, Chappy Hakim menunjuk dirinya dengan kasar ke arah dada sambil membentak dengan suara keras. Mukhtar menilai mungkin pernyataannya di Twitter-beberapa waktu lalu mengenai pembangunan smelter yang dianggap tidak serius lalu membuat Chappy marah.

Mukhtar menambahkan Freeport sepertinya tidak ada niat untuk membangun smelter karena terus menunda.

Bahkan Mukhtar menilai Freeport justru meminta izin untuk mengekspor konsentrat. Dalam akun Twitter @MukhtarTompo, ia tampak menuliskan cuitan. ''Freeport melanggar UU No. 4 2009 Pasal 103 dan 170, komitmen bangun smelter hanya sandiwara. Dibuat spt sinetron yg berseri..,'' kata dia dalam akun Twitternya pada Rabu, 7 Desember 2016.***
Editor:hasan b
Sumber:tempo.co
Kategori:Politik, Peristiwa, Gonews Group
wwwwww