Home >  Berita >  Peristiwa
PON XIX Jawa Barat 2016

Kata Imam Nahrawi PON Jabar Berjalan Baik, Tapi Buktinya Masih Rusuh dan Seorang Atlet dari DKI Dapat 10 Jahitan

Kata Imam Nahrawi PON Jabar Berjalan Baik, Tapi Buktinya Masih Rusuh dan Seorang Atlet dari DKI Dapat 10 Jahitan
Atlet DKI Jakarta yang masih dalam perawatan. (istimewa)
Senin, 26 September 2016 03:54 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
BANDUNG - Meski Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi yang diutus langsung oleh Presiden Joko Widodo guna mengevaluasi pelaksanaan PON Jabar mengatakan sudah berjalan dengan baik, namun kisruh terus terjadi pada perhelatan PON Jawa Barat 2016.

Insiden terjadi pada cabang hoki saat DKI Jakarta melawan Papua di Komplek Stadion Si Jalak Harupat, Jumat (23/9/2016).

Saat itu, DKI sedang memimpin 1-0 atas Papua. Tiba-tiba, ada pemain Papua nomor 9 yang menyerang pemain DKI, Mochammad Ramdani. Laga itu sendiri berakhir dengan kemenangan 2-0 DKI.

Dari pengakuan pelatih hoki putra DKI, Ahriandi Gusmana, sejatinya tak ada kejadian yang menjadi pemicu insiden tersebut. Karenanya, ia heran mengapa pemain Papua tersebut melakukan kekerasan.  

Ads
"Ketika pertandingan berjalan, tiba-tiba pemain belakang kami, Bayu Rahmat, dipukul pakai stik di bagian perut. Melihat rekannya kesakitan, Ramdani yang hendak menghampiri Bayu langsung kena pukul oleh orang yang sama di bagian kepala," jelas Ahriandi atau yang akrab disapa Acel itu.

Akibat pukulan tersebut, Ramdani harus mendapatkan 10 jahitan di kepalanya. Sebelumnya, laga memang sempat dihentikan setelah Ramdani mendapatkan pukulan dari pemain Papua.

Kondisinya yang sudah lemas membuat tim medis langsung membawanya ke RSUD Soreang. Dari sana, Ramdani dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk menjalani MRI.  

"Karena hasilnya bagus, Ramdani dibawa pulang ke hotel. Tapi, di hotel ia justru merasa pusing dan mual-mual sehingga tim medis KONI DKI merujuknya ke RS Borromeous," jelas Acel.

Hingga Minggu (25/9/2016), Ramdani masih mendapatkan perawatan intensif. Dengan kondisi itu, Ramdani dipastikan tak akan bisa lagi bermain untik DKI di PON Jabar 2016.

Pasalnya, konsisi Ramdani membutuhkan waktu setidaknya hingga sepekan untuk memulihkan diri. Sayang, sang pelaku justru tak mendapatkan sanksi tegas. Sang pemain hanya dilarang tampil dalam tiga laga.

"Saat ini kami menyerahkan semuanya ke manajer dan KONI DKI. Kami juga sedang mengumpulkan bukti dari foto dan video kejadian itu. Sebab, ini ada faktor kesengajaan," tuturnya.

Kepada GoNews.co, Wakil Ketua KONI Muddai Madang meminta agar PON Jabar kembali di evaluasi. Menurut Muddai, bukan hanya soal kekisruhan atlet dan penonton, namun masih banyak ketidakjujuran yang dilakukan wasit/ hakim dalam PON-19.

Padahal, hasil PON ini bertujuan untuk menjaring atlet-atlet potensial. "Bagaimana PON bisa menjadi acuan untuk menjaring atlet potensia jika sistem penilaiannya masih mengecewakan," kata Muddai Madang disela sela-sela kunjungan nya di Arena PON-19.

Mantan Ketua KONI Sumatera Selatan ini, PON -19 ini mengatakan seyogyanya PON melahirkan juara juara yang berkualitas. Artinya, atlet yang meraih medali ini benar-benar yang terbaik. "Kalau kemenangan atas keberpihakan untuk apa menjadi juara ternyata tidak dihargai,” katanya.

Evaluasi secara menyeluruh penyelenggraan PON-19, kata Muddai, sangat penting agar atlet binaan PON-19 bisa menapak karir ke jenjang yang lebih baik lagi. Muddai Madang mengungkapkan, jajaran pengurus KOl sangat mengapresiasi langkah Kemenpora yang akan menetapkan cabor yang dipertandingkan di PON ke depan mengacu pada cabor Olimpiade.

"KOI sependapat dengan Kemenpora bahwasanya ke depan PON mempertandingkan cabor Olimpiade. Karena dari hasil PON inilah lahir atlet-atlet yang akan memperkuat kontingen Indonesia di SEA Games , Asian Games dan Olimpiade," ujarnya. ***
Sumber : GoNews.co dan Liputan6.com
Kategori : Peristiwa, Pemerintahan, Olahraga
www www