Home >  Berita >  Medan

Misran Lubis: Pola Penggunaan Anak Laki-laki oleh Kaum Gay Sudah Lama Berlangsung

Misran Lubis: Pola Penggunaan Anak Laki-laki oleh Kaum Gay Sudah Lama Berlangsung
Direktur Eksekutif PKPA Misran Lubis
Jum'at, 02 September 2016 16:36 WIB
Penulis: James Aries
MEDAN - Kecenderungan pergeseran perdagangan anak dan perempuan belakangan ini polanya berubah dan sindikatnya semakin rapi. Sindikat yang pernah terungkap adalah mami (germo) dari perdagangan anak ini telah melibatkan pelajar dan mahasiswa. Di Medan ada beberapa sekolah dan perguruan tinggi yang diduga sebagai tempat untuk mendapatkan ‘teman tidur’ para hidung belang. Banyak orang yang sengaja datang ke Medan hanya untuk menikmati Ayam Kampus (istilah untuk wanita yang bisa dibayar), baik kalangan pelajar atau mahasiswa.Seperti disampaikan Direktur Eksekutif Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Misran Lubis, Jumat (2/9/2016) saat dihubungi lewat selularnya menyampaikan, korban Traficking yang ada di Medan kebanyakan berasal dari Deli Serdang, Langkat dan Jawa serta dari NTT. Kota Medan sebagai kota tujuan juga sebagai kota transit untuk selanjutnya dikirim ke Bandar Baru, Bukit Maraja dan tempat lainnya di Sumatera Utara serta lintas provinsi di Indonesia.


Data perdagangan anak dan eksploitasi seksual berdasarkan laporan dari PKPA adalah, tahun 2010 (4 kasus), 2011 (13 kasus), 2012 (4 kasus), 2013 (34 kasus) dan 2014 (21 kasus). Dari beberapa kasus yang ditangani, beberapa diantaranya telah disadarkan dan bekerja di sektor lain.

Terungkapnya kasus 99 anak yang terlibat prostitusi kaum gay di Jawa, menurut Misran Lubis pola penggunaan anak laki-laki oleh kaum gay dalam prostitusi sebenarnya sudah lama berlangsung. Riset PKPA tentang prostitusi anak di Kota Medan tahun 2013 menemukan adanya “anak peliharaan” kaum waria.

“Jadi, prostitusi anak yang sebagian modusnya adalah praktik kejahatan trafficking tidak hanya dialami kaum perempuan, tetapi anak laki-laki juga ikut dibisniskan. Tidak hanya kaum gay, kaum pedhopilia juga memanfaatkan anak laki-laki sebagai objek pemuas nafsunya,” tandas Misran.

Menyikapi hal ini, tambah Misran jalan paling ampuh adalah perhatian dan pengawasan orangtua yang melekat dan penanaman nilai-nilai agama sebagai benteng bagi anak agar tidak mudah tergoda dengan iming-iming apa pun.

Ads
Editor : Arif
Kategori : Medan, Gonews Group, Umum
www www