PARIS - Sekitar 1.500 orang tewas di Prancis dalam kurun waktu Juni dan Juli 2019 akibat gelombang panas. Dikutip dari beritasatu.com, Menteri Kesehatan Prancis Agnès Buzyn, saat berbicara di radio Prancis, Ahad (8/9), mengatakan, setengah dari warga yang meninggal berusia di atas 75 tahun.

Buzyn menjelaskan, berkat langkah-langkah pencegahan, angka itu 10 kali lebih rendah dari periode yang sama pada 2003 ketika gelombang panas mematikan menghantam Eropa. Prancis mencatat suhu tertinggi 46 derajat Celcius pada Juni. Ibu kota Prancis, Paris, mencatat rekor suhu tinggi 42,6 derajat Celcius pada Juli.

''Kami telah memantau 1.500 kasus kematian tambahan dalam bulan-bulan itu. Gelombang panas memengaruhi kesehatan hampir 20 juta orang,'' kata menteri.

Menurut Departemen Kesehatan Prancis, 567 orang meninggal selama gelombang panas pertama Prancis tahun 2019, dari 24 Juni hingga 7 Juli. Selanjutnya, 868 meninggal selama gelombang yang kedua yakni 21 hingga 27 Juli.

Buzyn mengatakan, 10 orang telah meninggal saat bekerja. Selama musim panas, peringatan merah - kategori peringatan paling parah – telah dikeluarkan di beberapa daerah di Prancis.

Selama masa panas, banyak sekolah dan acara publik ditutup untuk meminimalkan paparan publik.

Taman-taman besar dan kolam renang juga dibuka di beberapa kota untuk membantu orang tetap tenang. Otoritas Paris mengatur saluran telepon darurat dan mengatur ''kamar dingin'' sementara di gedung-gedung kota.***