Inilah 10 Orang Terkaya di Indonesia Tahun 2018, Nomor 1 Atlet Asian Games

Inilah 10 Orang Terkaya di Indonesia Tahun 2018, Nomor 1 Atlet Asian Games
Bambang Hartono. (kompas.com)
Sabtu, 15 Desember 2018 22:22 WIB
JAKARTA - Majalah Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia tahun 2018. Mantan Menteri Perekonomian Chairul Tanjung dan atlet Asian Games 2018, Bambang Hartono masuk dalam 10 deretan orang terkaya di Indonesia tahun 2018.Dikutip dari grid.id, Chairul Tanjung berada di urutan 7 terkaya, sedangkan Bambang Hartono menduduki peringkat teratas. Atlet penyumbang medali perunggu di Asian Games 2018 tersebut mampu mempertahankan kedudukannya tersebut selama 10 tahun berturut-turut.

Dilansir grid.id dari laman forbes.com pada Sabtu (15/12/2018), berikut ini daftar 10 orang terkaya di Indonesia versi Forbes pada tahun 2018:

1. Bambang Hartono

Ads
Bambang Hartono menduduki peringkat pertama orang terkaya di Indonesia pada tahun 2018 dengan total kekayaan 35 miliar dollar atau senilai lebih dari Rp 510 triliun.

Atlet Asian Games cabang olahraga (cabor) Bridge tersebut telah mempertahankan kedudukannya selama 10 tahun berturut-turut.

Seperti yang diketahui, keluarga Hartono mendaatkan lebih dari dua pertiga aset kekayaan mereka dari investasi di Bank Central Asia (BCA).

Keluarga Hartono membeli saham di BCA setelah keluarga kaya lainnya, Anthoni Salim kehilangan kendali atas bank tersebut selama krisis ekonomi Asia 1997-1998.

Sumber kekayaan keluarga Hartono tersebut berasal dari pembuatan rokok kretek Djarum yang telah dirintisnya.

Namun kini, perusahaan rokok terbesar di Indonesia tersebut kini dikelola oleh kedua putra Bambang Hartono yaitu Budi dan Victor.

Namun tak hanya dari kedua aset tersebut, kekayaan keluarga Hartono juga didukung oleh merek elektronik Polytron dan real estat utama di Jakarta.

2. Susilo Wonowidjojo

Susilo Wonowidjojo menduduki peringkat kedua dengan total aset kekayaan sebesar 9,2 dollar atau senilai lebih dari Rp 134 triliun.

Susilo Wonowidjojo dan keluarganya mendapatkan kekayaan mereka dari produksi rokok kretek Gudang Garam, yang menghasilkan 70 miliar batang rokok per tahun.

Bisnis tembakau tersebut telah dirintis oleh ayahnya, Surya, yang mendirikan Gudang Garam sejak tahun 1958.

Bisnis keluarga tersebut diteruskan oleh saudara tertuanya, Rachman Halim selama seperempat abad hingga kematiannya pada tahun 2008.

Barulah Susilo Wonowidjojo menjadi direktur utama sejak 2009, sedangkan saudara perempuannya Juni Setiawati menjadi presiden komisaris.

Selain itu, keluarga Wonowidjojo memiliki peran penting dalam perkebunan kelapa sawit melalui Makin Group.

Perbedaan antara nilai bersih peringkat 1 dan peringkat 2 adalah 280%.

3. Eka Tjipta Widjaja

Eka Tjipta Widjaja menduduki peringkat ketiga dengan total aset kekayaan sebesar 9,2 miliar dollar atau senilai lebih dari Rp 125 triliun.

Eka Tjipta Widjaja merupakan seorang imigran Tionghoa ke Indonesia, yang memulai kariernya menjual biskuit saat masih remaja.

Namun kini ia sukses dengan bisnis yang diberi nama Sinar Mas produsen di bidang kertas, real estat, jasa keuangan, agribisnis dan telekomunikasi.

Selain itu, ia juga mendirikan pabrik oleokimia dengan perusahaan Spanyol Cepsa di pulau Riau, Indonesia.

Putra dari Oei Hong Leong mengelola investasinya sendiri dari Singapura di perusahaan raksasa kelapa sawit Golden Agri-Resources.

4. Sri Prakash Lohia

Sri Prakash Lohia menduduki peringkat keempat dengan total aset kekayaan sebesar 7,6 miliar dollar atau senilai lebih dari Rp 110 triliun.

Sebagian besar kekayaan Sri Prakash Lohia dihasilkan dari pembuatan PET dan petrokimia lainnya.

Pada 1970-an ia dan ayahnya pindah dari India ke Indonesia, di mana mereka mendirikan Indorama sebagai pembuat benang pintal.

Sekarang ini ia juga memiliki pembangkit tenaga listrik petrokimia, serta membuat produk industri termasuk pupuk poliolefin, bahan baku tekstil, dan sarung tangan medis.

Meskipun memiliki usaha di Indonesia, namun Lohia kini tinggal di London dan menyerahkan kendali kepada putranya, Amit, yang merupakan wakil ketua di perusahaannya.

Kini Indorama sedang membangun pabrik pupuk kedua di Nigeria, di mana International Finance Corp mengumumkan $ 1 miliar dalam pembiayaan utang pada bulan Juni.

Adik laki-lakinya Aloke Lohia, juga seorang miliarder, tinggal di Thailand, di mana ia menjalankan pembuatan polimer PET Indorama Ventures Public Co.

5. Anthoni Salim

Anthoni Salim menduduki peringkat kelima dengan total aset kekayaan sebesar 5,3 miliar dollar atau senilai lebih dari Rp 77 triliun.

Anthoni Salim merupakan pemimpin Salim Group, perusahaan induk yang dikelola keluarga dengan investasi di bidang makanan, perbankan, dan telekomunikasi.

Salim adalah CEO dari $ 4 miliar total penjualan di tahun 2017 PT Indofood, salah satu pembuat mie instan terbesar di dunia, di mana keluarganya memiliki aset lebih dari 50%.

Selain itu Salim Group memiliki sekitar 44% investasi di perusahaan di First Pacific, Hong Kong, yang memiliki aset $ 17,2 miliar di enam negara.

Saudaranya Andree Halim, memiliki 50% pembuat roti QAF Singapura. Sister Mira mendirikan sebuah perusahaan perdagangan yang mendistribusikan produk-produk Indofood di China.

Selama krisis keuangan Asia 1997-1998, Salims kehilangan kendali atas Bank Central Asia dan kini diambil alih keluarga Hartono, yang sekarang adalah keluarga terkaya di negara Indonesia.

6. Tahir

Tahir menduduki peringkat keenam dengan total aset kekayaan sebesar 4,4 miliar dollar atau senilai lebih dari Rp 64 triliun.

Tahir merupakan pendiri Mayapada Group, sebuah perusahaan dalam perbankan, jaringan rumah sakit dan, yang paling menonjol, real estat.

Putrinya, Grace, adalah komisaris utama Propertindo Mulia Investama, perusahaan properti yang terdaftar pada 2018.

Dia juga merupakan pemilik lisensi yang menerbitkan Forbes Indonesia.

Istrinya Rosy adalah putri Taipan-Indonesia bernama Mochtiar Riady.

7. Chairul Tanjung

Chairul Tanjung menduduki peringkat ketujuh dengan total aset kekayaan sebesar 3,4 miliar dollar atau senilai lebih dari Rp 49 triliun.

Salah satu sumber kekayaan Chairul Tanjung berasal dari CT Corp Chairul Tanjung terkenal karena menerbitkan kartu kredit, mengoperasikan hypermarket dan menjalankan stasiun TV.

Trans Retail-nya memiliki toko kelontong di bawah merek Carrefour dan Transmart.

Kelompoknya juga mengendalikan waralaba Wendy di Indonesia dan memiliki waralaba Versace, Mango dan Jimmy Choo.

Pada 2017, CT Corp menjual 49% saham di lengan asuransinya kepada Prudential Financial AS, yang bertaruh pada pertumbuhan asuransi jiwa.

CT Corp menandatangani kesepakatan dengan AccorHotels of France pada bulan November 2017 untuk membuka 30 hotel di Indonesia.

8. Boenjamin Setiawan

Boenjamin Setiawan menduduki peringkat kedelapan dengan total aset kekayaan sebesar 3,2 miliar dollar atau senilai lebih dari Rp 46 triliun.

Boenjamin Setiawan, yang memiliki gelar doktor dalam bidang farmakologi, mendirikan Kalbe Farma di sebuah garasi pada tahun 1966 dengan lima saudara kandungnya.

Kalbe Farma sekarang adalah perusahaan farmasi terbesar di Indonesia.

Perusahaan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada tahun 1991; Setiawan dan saudara-saudaranya bersama-sama memiliki 48%.

''Dr. Boen,'' begitu ia dijuluki, juga mengendalikan Mitra Keluarga yang diperdagangkan secara publik, yang mengoperasikan 12 rumah sakit.

9. Jogi Hendra Atmadja

Jogi Hendra Atmadja menduduki peringkat kesembilan dengan total aset kekayaan sebesar 3,1 miliar dollar atau senilai lebih dari Rp 45 triliun.

Jogi Hendra Atmadja adalah kepala Mayora Group, salah satu perusahaan makanan terbesar di Indonesia yang menjual kopi, sereal, permen, biskuit, dan banyak lagi.

Mayora Group menjual mereknya, termasuk Kopiko, Danisa dan Roma, di lebih dari 90 negara dan mempekerjakan hingga 30.000 orang.

Keluarganya adalah imigran Cina yang mulai membuat biskuit di rumah pada tahun 1948 dan secara resmi membentuk Mayora Group pada tahun 1977.

Atmadja dan keluarganya, termasuk saudara laki-laki dan sepupu, memiliki 75% saham di PT Wedaah Indah yang diperdagangkan oleh publik, perusahaan andalan grup tersebut.

10. Prajogo Pangestu

Prajogo Pangestu menduduki peringkat kesepuluh dengan total aset kekayaan sebesar 3 miliar dollar atau senilai lebih dari Rp 43 triliun.

Prajogo Pangestu memulai kariernya di bisnis kayu pada akhir tahun 1970-an.

Perusahaannya ialah PT Barito Pacific Timber yang menjadi perusahaan publik pada tahun 1993 dan berganti nama menjadi Barito Pacific setelah mengurangi bisnis perkayuannya pada tahun 2007.

Pada tahun 2007, Barito Pacific mengakuisisi 70% dari perusahaan petrokimia Chandra Asri, yang juga berdagang di Bursa Efek Indonesia.

Pada tahun 2011 Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di negara itu.

Chandra Asri Petrochemical bekerja sama dengan produsen ban Perancis Michelin pada tahun 2015 untuk mengembangkan pabrik karet sintetis di Indonesia.***

Editor:hasan b
Sumber:grid.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww