Biografi Imam An-Nawawy, Penulis Kitab Hadits Al-Arba’in an-Nawawiyah

Biografi Imam An-Nawawy, Penulis Kitab Hadits Al-Arba’in an-Nawawiyah
Kajian Hadits Kitab Al-Wafie
Senin, 06 Februari 2017 00:05 WIB
Penulis: Abdurrahman Yusuf

Alhamdulillaahirabbil ‘alamiin, pada pengajian perdana Kajian Hadits Kitab Al-Wafie (syarah Hadits arba’in an-Nawawiyah) yang dihadiri oleh ibu-ibu dan remaja putri di lingkungan Dayah Tahfizhul Qur’an Syaikh Rasyid Al-Mukhlishin Kutablang Lhokseumawe, berlangsung dengan khidmat. Dalam pengajian perdana ini Ustaz Abdurrahman Yusuf memaparkan profil Imam an-Nawawy dan alasan kenapa memilih untuk mengkaji Hadits Arba’in an-Nawawiyah.

Imam an-Nawawy berkata: Kami meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas‘ud, Mu‘azd bin Jabal, Abu Darda’, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudry radhiyallaahu ‘anhum, dari berbagai sanad dengan berbagai riwayat, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang menghafal atas umatku empat puluh hadis daripada (hadis yang) berkenaan dengan agama mereka, nescaya Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam golongan para fuqaha’ dan ulama”.

Dalam riwayat lain: “Niscaya Allah akan membangkitkannya sebagai seorang faqih dan ‘alim”. Dalam riwayat Abu Darda’: “dan adalah aku pada hari qiamat menjadi orang yang memberikan syafa‘at dan saksi kepadanya”. Dalam riwayat Ibnu Mas‘ud: “dikatakan kepadanya (orang yang hafal 40 hadits) masuklah engkau dari pintu syurga yang engkau mahu”. Dalam riwayat Ibnu Umar: “niscaya dia ditulis termasuk dalam golongan ulama’ dan dibangkitkan dalam golongan para syuhada’”.

Para ulama hadis telah sepakat, bahwa Ia adalah hadis dha‘if sekalipun jalan periwayatannya banyak. Dan para ulama telah banyak menulis dan menghimpun 40 hadis tersebut dalam berbagai karya ilmiah mereka, di antaranya ialah Abdullah ibnu al-Mubarak, Muhammad ibnu Aslam al-Thusie al-’Alim al-Rabbany, al-Hasan ibnu Sufian an-Nisa’i, Abu Bakar al-Aajiry, Abu Muhammad ibnu Ibrahim al-Asfahany, al-Daraquthny, al-Hakim, Abu Nu‘aim, Abu Abdul Rahman al-Salmy, Abu Sa‘id al-Maliny, Abu Utsman al-Shabuny, Abdullah ibnu Muhammad al-Anshary, Abu Bakar al-Baihaqy. Namun yang paling masyhur adalah Hadits Al-Arba’in an-Nawawiyah kariya Imam an-Nawawy.

Ads
Al-Imam al-‘Allamah Abu Zakaria Muhyuddin Yahya bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad an-Nawawy ad-Dimasyqi  atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawy, adalah salah seorang ulama besar madzhab Asy-Syafi'i. Ia lahir di desa Nawa, dekat Kota Damaskus, pada Muharram 631 H/1233 M dan wafat pada 24 Rajab 676 H/1277 M di Nawa Damaskus. Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat namanya, an-Nawawy ad-Dimasyqi. Ia adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadis.

Imam an-Nawawy pindah ke Damaskus pada tahun 649 H dan tinggal di distrik Rawahibiyah. Di tempat ini dia belajar dan sanggup menghafal kitab at-Tanbih hanya dalam waktu empat setengah bulan. Kemudian dia menghafal kitab al-Muhadzdzab pada bulan-bulan yang tersisa dari tahun tersebut, di bawah bimbingan Syaikh Kamal Ibnu Ahmad.

Ia memulai rihlah thalabul ilmi-nya ke Dimasyqi dengan menghadiri halaqah-halaqah ilmiah yang diadakan oleh para ulama kota tersebut. Ia tinggal di Madrasah Ar-rawahiyyah di dekat Al-Jami’ Al-Umawiy. Jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri dua belas halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal, ia pun mengungguli teman-temannya yang lain. Ia berkata: “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata, dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku”. [Syadzaratudz Dzahab 5/355].

Semasa hidupnya Dia selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, dan menyebarkan ilmu. Ia juga seorang ulama yang sangat sabar dalam menghadapi berbagai fitnah hidup di masanya dan menjalani kehidupan dengan zuhud, wara’, qana’ah dan sederhana.

Sang Imam belajar pada guru-guru yang amat terkenal seperti Abdul Aziz bin Muhammad al-Ashary, Zainuddin bin Abdud Daim, Imaduddin bin Abdul Karim al-Harastani, Zainuddin Abul Baqa, Khalid bin Yusuf al-Maqdishy an-Nabalusi dan Jamaluddin Ibnu ash-Shairafi, Taqiyuddin bin Abul Yusri, Syamsuddin bin Abu Umar. Dia belajar fiqih hadits pada asy-Syaikh al-Muhaqqiq Abu Ishaq Ibrahim bin Isa al-Murady Al-Andalusi. Kemudian belajar fiqh pada al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin Usman al-Maghriby al-Maqdishy, Syamsuddin Abdurrahman bin Nuh dan Izzuddin al-Arbili serta guru-guru lainnya.

Tidak sedikit ulama yang datang untuk belajar kepada Iman an-Nawawy. Di antara mereka adalah al-Khatib Shadruddin Sulaiman al-Ja’fari, Syihabuddin al-Arbadi, Shihabuddin bin Ja’wan, Alauddin al-Athar dan yang meriwayatkan hadits darinya Ibnu Abil Fath, Al-Mazi dan lainnya.

Imam an-Nawawy meninggalkan banyak karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, di antaranya, dalam bidang hadis: Al-Arba'in An-Nawawiyah, Riyadhush Shalihin, Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim),dll. Dalam bidang fiqih: Minhaj ath-Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu` Syarhul Muhadzdzab, dll. Dalam bidang akhlak: At-Tibyan fi Adab Hamalah al-Quran, Bustanul Arifin, Al-Adzkar, Adab al-Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti, dll.

Secara umum beliau termasuk salafy dan berpegang teguh pada manhaj ahlul hadis, tidak terjerumus dalam filsafat dan berusaha meneladani generasi awal umat dan menulis bantahan untuk ahlul bid’ah yang menyelisihi mereka.

Catatan: Lihat biografi Imam an-Nawawy di; Tadzkiratul Huffazh 4/1470, Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra 8/395, dan Syadzaratudz Dzahab 5/354

Editor:TAM
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww