Tak Cuci Tangan Usai Bersihkan Kotoran Kucing, Waspadai Alzheimer

Tak Cuci Tangan Usai Bersihkan Kotoran Kucing, Waspadai Alzheimer
ilustrasi
Jum'at, 27 Januari 2017 10:46 WIB
JAKARTA - Pada kasus tertentu, hewan peliharaan yang lucu dan menggemaskan kadangkala membawa risiko tersendiri bagi pemiliknya. Seperti halnya kucing.Sebuah studi terbaru mengungkap, parasit yang umumnya ditemukan pada kotoran kucing ditengarai dapat memicu penyakit kepikunan atau Alzheimer.

Parasit yang dimaksud adalah Toxoplasma gondii. Sebelumnya, parasit ini disarankan untuk dihindari oleh ibu hamil atau mereka yang sedang berusaha untuk memiliki keturunan karena dapat memicu gangguan pada calon janin.

Persoalannya, pemilik kucing kadangkala tidak mencuci tangannya setelah memegang hewan peliharaannya atau membersihkan kandangnya. Saat inilah parasit tersebut masuk ke tubuh mereka dan 'merangkak' ke otak.

Karena inilah peneliti menduga parasit tersebut dapat memicu sejumlah penyakit pada otak, di antaranya Alzheimer, skizofrenia ataupun gangguan mood. Hipotesis mereka mengatakan, parasit tersebut disinyalir dapat mengubah susunan kimiawi di otak manusia, sehingga membuatnya rentan terserang penyakit.

Peneliti mengujicobakan teori mereka pada tikus. Satu kelompok tikus diinfeksi dengan parasit ini dan kelompok tikus lainnya mengalami modifikasi otak hingga menyerupai kondisi otak saat diserang penyakit Alzheimer.

Setelah dites, keduanya memperlihatkan gejala yang sama, di antaranya terjadi gangguan pada kemampuan belajar dan memori mereka. Indikasi yang cukup menonjol terletak pada perubahan susunan kimiawi otak pada tikus yang terinfeksi T gondii.

Bahkan keberadaan parasit tersebut terbukti meningkatkan kemungkinan si tikus untuk terserang Alzheimer. Demikian seperti dilaporkan Daily Mail.

Editor Journal of Parasitology di mana studi ini dipublikasikan, Michael Sukhdeo mengaku sepakat dengan temuan dari peneliti Lorestan University of Medical Sciences di Iran tersebut.

Menurutnya, T gondii berpeluang besar untuk memicu Alzheimer karena parasit ini memang gemar tinggal di dalam otak. "Bila ini terbukti pada manusia, maka parasit tersebut harus benar-benar dihindari untuk meminimalisir risiko pada janin maupun orang dewasa," pesannya.

Baru-baru ini, Toxoplasma gondii juga dikaitkan oleh peneliti dari Juarez University di Meksiko dengan gejala Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD), versi ekstrem dari Premenstrual Syndrome (PMS). Menurut peneliti, perempuan dengan PMDD berpeluang lebih besar mengalaminya karena terkena infeksi parasit tersebut.

Ini karena infeksi tokso memicu pelepasan neurotransmitter di otak yang berpengaruh pada mood atau suasana hati.

Ads
Editor:sisie
Sumber:Detik.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww