'Mr Clean' Mar'ie Muhammad, Dirjen Pajak dan Menteri Keuangan yang Hingga Pensiun Tak Punya Rumah Pribadi, Menolak Dikubur di Makam Pahlawan

Mr Clean Marie Muhammad, Dirjen Pajak dan Menteri Keuangan yang Hingga Pensiun Tak Punya Rumah Pribadi, Menolak Dikubur di Makam Pahlawan
Mar'ie Muhammad
Senin, 12 Desember 2016 13:45 WIB
JAKARTA Bangsa Indonesia kehilangan tokoh teladan, Mar'ie Muhammad. Sosok yang dijuluki 'Mister Clean' ini menghembuskan nafas terakhirnya, Minggu (11/12) dinihari.

Mari'e pernah sebagai Dirjen Pajak tahun tahun 1988-1993 dan kemudian Menteri Keuangan tahun 1993-1998.

Di tengah pemerintahan Orde Baru yang dikenal korup, Mar'ie tidak terpengaruh. Dia bahkan sampai dijuluki 'Mister Clean' karena jujur, bersih dari segala macam suap dan korupsi.

Selain dikenal sebagai sosok yang bersih dan berintegritas, Mar'ie juga dikenal banyak orang sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja. Jabatan yang diembannya tak lantas membuat lupa diri.

Ads
Mar'ie Muhammad meninggal dunia pada Minggu (11/12) dini hari. Banyak pejabat yang memberikan penghormatan terakhir dan mengantarkannya sampai ke pemakaman di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Sebut saja Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menghadiri pemakaman.

"Beliau tidak hanya selalu membersihkan diri sendiri tetapi membersihkan institusi. Warisan beliau selalu dikenang abadi, meskipun beliau pergi. Saya sangat kehilangan," kata Menteri Sri sembari terisak di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Minggu (11/12).

Menteri Sri lantas bercerita tentang sosok Mar'ie selama berkiprah di Direktorat Pajak dan Kementerian Keuangan. Mar'ie, kata Menkeu Sri, sangat laik dijadikan contoh oleh siapa pun karena sosoknya yang sederhana dan konsisten.

Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Chatib Basri, juga memiliki cerita unik mengenai kepribadian Mar'ie Muhammad. Menurutnya, kisah ini menunjukkan bagaimana kesederhanaan Mar'ie Muhammad.

"Dia pernah cerita agak sedih dan lucu juga. Beliau mesti urus pajak, mungkin orang pajak tak kenal beliau yang pernah jadi dirjen pajak dan menkeu. Jadi prosesnya ditunggu dari awal sampai ngantre, dan lain-lain," ujarnya saat ditemui di rumah duka Mar'ie Muhammad, Jakarta, Minggu (11/12).

Panjangnya antrean dan lamanya proses, lanjut Chatib, tidak membuat Mar'ie saat itu protes. "Orangnya sederhana. Dan Pak Mar'ie tidak komplain dengan itu," tambahnya.

Chatib melanjutkan cerita dia bersama Mar'ie Muhammad juga ada saat dirinya bekerja sebagai staf khusus periode 2006-2010 untuk melakukan reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan. Mar'ie tidak segan untuk marah jika proses reformasi birokrasi belum menunjukkan kemajuan.

Anggota Komisi XI DPR M Misbakhun juga memiliki kesan mendalam terhadap sosok Mar'ie Muhammad. Menurutnya, Mar'ie Muhammad tidak pernah membangun pencitraan pribadi untuk menunjukkan dirinya sebagai sosok yang bersih tapi beliau membuktikan dalam tindakan nyata.

"Tauladan sikap dan perbuatan beliau yang demikian tetap relevan dan aktual sampai saat ini untuk dijadikan panutan oleh generasi berikutnya para pemimpin negeri ini. Para calon pemimpin negeri yang kelak akan memimpin negeri ini," terang Misbakhun.

"Sosok Pak Mar'ie sangat sederhana dan bersahaja. Anak Kampung Ampel Surabaya ini, kala di rumah lebih sering memakai sarung dan kaos oblong. Rumah yang beliau punya saat ini adalah diperoleh sebagai hak beliau karena pengabdian pada negara yang Pak Mar'ie tidak mau tanda tangan fasilitas negara untuk dirinya sendiri. Sehingga Menteri Keuangan berikutnya yang harus tanda tangan fasilitas tersebut karena tahu ternyata sampai pensiun dari pengabdian panjang pada negara, Pak Mar'ie tidak punya rumah pribadi," tambahnya.

Misbakhun mengaku membayangkan seandainya sosok Mar'ie Muhammad ini ada pada zaman pasca reformasi. Ia yakin Mar'ie akan semakin menjadi tauladan seperti halnya sosok Baharuddin Lopa.

Semasa menjabat sebagai Dirjen Pajak, Mar'ie berusaha membersihkan institusi itu dari para pegawai korup yang main mata dengan pengusaha pengemplang pajak.

Buat Mar'ie, jangankan pengusaha, Presiden Soeharto saja harus menyetorkan data yang benar sebagai wajib pajak. Tahun 1989, Direktorat Pajak sedang mengumpulkan data untuk pajak bumi dan bangunan (PBB). Mar'ie pun datang sendiri memimpin tim ke Jl Cendana, kediaman Presiden Soeharto. Mar'ie membawa pita ukur. Dia mengukur sendiri luas rumah Soeharto di Jl Cendana.

Berkat upaya bersih-bersih Mar'ie itulah selama lima tahun Ditjen Pajak mengumpulkan uang pajak sebesar Rp 19 triliun. Padahal targetnya cuma Rp9 triliun.

Sebelum dimakamkan di TPU Tanah Kusir, jenazah terlebih dahulu disalatkan di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mar'ie meninggal di RS Pusat Otak Nasional, Jakarta Timur di usia yang menginjak 77 tahun.

Mar'ie diketahui menolak difasilitasi negara untuk dimakamkan di TMP Kalibata.

"Negara sudah memfasilitasi untuk dimakamkan di TMP Kalibata, tapi wasiat almarhum dan juga keluarga kompromi, keinginan keluarga dan almarhum juga di Tanah Kusir," kata anggota DPD AM Fatwa.***
Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww