Home >  Artikel >  SerbaSerbi

Media Turki Sebut Warga AS yang Tewas di Suriah Teroris

Media Turki Sebut Warga AS yang Tewas di Suriah Teroris
Dari kiri ke kanan: Levi Shirley, William Savage, dan Robert MacTaggart. Ketiganya adalah warga AS yang berperang di Suriah memerangi ISIS bersama kelompok Kurdi. [Sindonews/Ian]
Minggu, 18 September 2016 10:21 WIB
ANKARA - Koran harian Turki, Daily Sabah, dalam editorialnya menghina pelabelan pahlawan yang diberikan kepada warga Amerika Serikat (AS) yang tewas di Suriah. Media yang dikenal sebagai corong dari Presiden Recep Tayyep Erdogan itu menyebut 3 warga AS sebagai teroris karena bergabung dengan pasukan Kurdi untuk memerangi ISIS.Editor Daily Sabah, Mehmet Celik dalam tulisan editorialnya mengecam ucapan 'Selamat datang Pahlawan' kepada tiga warag AS yang tewas di Suriah karena berperang bersama pasukan YPG Suriah yang disebut sebagai teroris. Ia bahkan menyatakan penghormatan AS kepada warganya itu akan menambah ketegangan kedua negara ke dalam tingkatan yang baru terkait kemitraan Washington dengan kelompok Kurdi.

Celik kemudian menegaskan posisi pemerintah Turki terhadap pasukan Unit Perlindungan Rakyat (YPG) Kurdi Suriah yang dinilai sebagai cabang dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK), kelompok yang dicap sebagai teroris baik oleh Turki maupun AS. Namun, Departemen Luar Negeri AS tidak memberikan cap serupa kepada YPG seperti dikutip dari Sputniknews, Minggu (18/9/2016).

Tiga warga AS yang tewas diidentifikasi sebagai Levi Shirley (24), Jordan McTaggart (22), dan William Savage (27). Kedatangan peti mati yang membawa ketiganya disambut dengan pengibaran bendera setengah tiang akan di atas gedung Capitol sebagai bentuk penghormatan kepada masing-masing keluarga ketiga pemuda tersebut.

"Meskipun Ankara berulang kali menegaskan bahwa PYD dan YPG merupakan ancaman keamanan nasional untuk Turki di sepanjang perbatasan selatannya karena berafiliasi dengan PKK, Washington mengatakan bahwa PYD dan YPG adalah mitra dalam memerangi ISIS di Suriah, mengabaikan peringatan Turki," tulis Celik.

Celik percaya bahwa AS seharusnya tidak menghormati warganya yang tewas itu atau berisiko mengasingkan Turki sebagai sekutu yang terlibat konflik cukup lama dengan Kurdi. Hubungan AS dengan Turki semakin merenggang setelah Washington belum juga mengekstradisi Fethullah Gulen yang diduga menjadi dalang kudeta 15 Juli lalu dengan alasan kurangnya bukti yang diperlukan dalam proses hukum di AS.
Ads
Editor : Kamal Usandi
Sumber : sindonews.com
Kategori : SerbaSerbi
www www