Home >  Artikel >  SerbaSerbi

Benda Yang Ada Sejak Masa Kekhalifahan Ini Selalu Diburu Setiap Ramadhan

Benda Yang Ada Sejak Masa Kekhalifahan Ini Selalu Diburu Setiap  Ramadhan
Salah satu jalan di Mesir yang oenuh dengan lentera Fanoos
Jum'at, 10 Juni 2016 22:04 WIB
KAIRO - Setiap daerah atau negara, ada keunikan tersendiri dalam menyambut atau menjalan puasa selama buoan suci ramadhan. Begitu pula halnya di Mesir. Di negara 'Firaun' ini, ada suatu benda yang selalu diburu warganya. Benda ini telah ada sejak masa kekhalifahan ratusan tahun silam.Lentera warna-warni yang terbuat dari logam dan kaca dengan berbagai ukuran, yang dikenal dengan nama fanoos dalam Bahasa Arab, menjadi pemandangan umum di Mesir selama bulan suci Ramadhan.

Kenaikan harga tak menghalangi pembeli untuk memenuhi toko yang menjual fanoos, yang di Mesir berawal dari Kekhalifahan Fathimiyah atau Fathimiyyun ratusan tahun lalu. Benda itu
mulanya berfungsi menerangi jalan yang gelap tapi belakangan menjadi mainan tradisional anak-anak untuk bermain di luar rumah pada malam Ramadhan.

Di Permukiman Sayyidah Zainab di Ibu Kota Mesir, Kairo, ratusan fawaneess (bentuk jamak dari fanoos) yang menarik hati tergantung sebagai pajangan di kios khusus pada malam Ramadhan.
Saat itu banyak orang berbelanja buat anak mereka atau memanfaatkannya sebagai hiasan di gerbang rumah, koridor atau lobi hotel, restoran, kantor dan tempat lain.

Ads
Nour Oraby, seorang mahasiswi yang berusia awal 20-an tahun, berkeliling di pasar tersebut untuk mencari fanoos sampai ia memilih fanoos tradisional yang berukuran sedang dan hiasan
pinggir kacanya dicat merah, biru, kuning dan hijau.

''Membeli fanoos menjadi keharusan di Mesir, sebab ini adalah bagian dari kebudayaan selama Bulan Suci. Dan saya telah membeli lentera sejak saya masih kecil,'' kata perempuan muda
tersebut kepada Xinhua.

Namun ia mengeluh kenaikan harga juga merambah sampai ke pasar fawaneess. ''Saya benar-benar terganggu oleh kenaikan harga semua barang, bukan cuma fanoos, terutama karena penghasilan kebanyakan keluarga Mesir sangat kecil,'' kata Nour Oraby.

Mesir telah menderita akibat resesi ekonomi dalam kerusuhan politik lima tahun belakangan, yang mengakibatkan kemerosotan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Mesir, cadangan devisa yang rendah, devaluasi pound Mesir terhadap dolar AS. Akibat semua
itu ialah harga pangan, layanan dan barang lain naik.

Dalam satu dasawarsa belakangan, pedagang Mesir mengimpor fawaneess, yang mirip mainan dan berlandaskan teknologi, kebanyakan dari Cina. Namun, tahun ini dan akibat naiknya nilai
tukar dolar AS serta kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan, para pedagang telah mengimpor lebih sedikit fawaneess.

Mereka memilih lebih mengandalkan fanoos buatan tangan rakyat Mesir, bahkan mereka menjual fanoos baru yang terbuat dari kayu.

''Tahun ini, harga fanoos naik karena beberapa alasan. Jadi, penjualan berkurang dibandingkan dengan penjualan tahun lalu. Itu sebabnya mengapa kami mengurangi impor fawaneess sebab kami memahami kondisi keuangan pembeli,'' kata Umm Abdullah, wanita yang berusia 30-an tahun dan menjual fanoos.

Umm Abdullah mengatakan ia telah menjadi pedagang musiman fanoos selama 10 tahun sekarang. Ia sadar daya beli masyarakat rendah, tapi para orang tua terpaksa membeli benda tersebut karena itu adalah tradisi Ramadhan dan itu menghibur anak-anak saat mereka bermain dengan fanoos terutama di permukiman kelas bawah.

Mahmoud Fathy, pedagang lentera Ramadhan lain, mengatakan kondisi ekonomi di negeri tersebut membuat rakyat memilih membeli lentera Ramadhan yang lebih murah sebab mereka hanya menggunakannya selama Ramadhan.***

Editor : Hermanto Ansam
Sumber : antara.com
Kategori : SerbaSerbi
www www