Home >  Artikel >  SerbaSerbi

Muhterem Aras, Muslimah Pertama Jadi Ketua Parlemen di Jerman

Muhterem Aras, Muslimah Pertama Jadi Ketua Parlemen di Jerman
Muhterem Aras.(yeniposta.de)
Jum'at, 13 Mei 2016 23:16 WIB
JAKARTA - Muhterem Aras, politisi Partai Hijau berhasil mengantongi suara terbanyak sehingga. berhak menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah di negara bagian Baden-Wurttemberg. Ini merupakan pertama kalinya seorang wanita muslim terpilih menjadi ketua parlemen di Jerman.

"Kita menuliskan sejarah baru hari ini," ujar Aras seperti dilansir Independent, Jumat (13/5/2016).

Media The Local juga mengungkapkan, kemenangan Aras di parlemen negara bagian di barat daya Jerman itu seolah menyampaikan pesan 'keterbukaan, toleransi dan keberhasilan dalam berintegrasi'. Aras terpilih pada 11 Mei 2016 lalu. Ia berhasil mendapatkan suara mayoritas secara signifikan.

Aras dipilih oleh 96 anggota parlemen lokal menjadi 'Landtags Prasident'. Meski demikian, kemenangan Aras tidak disambut dengan suka cita semua pihak. Media Suddeutsche Zeitug melaporkan, anggota parlemen dari kelompok sayap kanan, Alternative for Germany (AfG) menolak untuk memberi tepuk tangan kala Aras memberikan sambutan pertamanya.

Ads
Sekadar informasi, Aras (50) lahir di Turki. Kemudian ia pindah ke sebuah kota dekat Stuttgart dengan kedua orangtuanya. Ia pun menekuni ilmu perekonomian sebelum mendirikan perusahaan konsultasi pajak sendiri.

Karier politiknya dimulai pada tahun 1992 dengan bergabung di Partai Hijau. Partai politiknya mendominasi parlemen negara bagian Baden-Wurttemberg.

Pemilihan pimpinan parlemen dilakukan di tengah ketegangan isu agama, imigrasi dan ekstrimisme berlangsung di Jerman. Di mana belum lama ini, seorang pria di Jerman yang meneriakkan 'Allahu Akbar' ditikam oleh empat pelaku kejahatan di sebuah stasiun.

Sebuah jajak pendapat yang dirilis pada pekan lalu menunjukkan, hampir dua pertiga warga Jerman beranggapan bahwa agama Islam tidak masuk menjadi bagian dari konstitusi negara mereka. Sekitar 60 persen dari 1.003 responden mengatakan agama tidak memiliki 'tempat' di negaranya, sedangkan 34 persen lainnya beranggapan sebaliknya.***
Editor : sanbas
Sumber : detik.com
Kategori : SerbaSerbi
www www