Membangun Desa Menata Kota Dengan Iman dan Takwa Menuju Sumut Bermartabat

Membangun Desa Menata Kota Dengan Iman dan Takwa Menuju Sumut Bermartabat
Penulis (kiri) foto bersama Gubsu H. Edy Rahmayadi usai Shalat Zuhur di Masjid Agung Medan.
Sabtu, 21 Maret 2020 08:54 WIB
Penulis: Zul Anwar Ali Marbun
Basis Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) termasuk Provinsi Sumatera Utara (Sumut) sesungguhnya adalah Desa atau Kampung. Ibukota Provinsi Sumut, Medan, 430 tahun silam adalah Kampung yang dibuka Guru Patimpus di sekitar kawasan Petisah sekarang.

Seiring perjalanan waktu dan perkembangan zaman, Medan berubah menjadi kota besar dengan penduduk saat ini lebih dari 2 juta jiwa. Seiring itu beragam problem muncul menyertainya. Yang paling dirasakan adalah kepadatan penduduk, kemacetan lalulintas dan degradasi lingkungan.

Kondisi yang dialami Kota Medan juga dirasakan Kota-kota besar maupun Kota-kota Kecamatan sebagai kota penyangga yang berada di wilayah Provinsi Sumatera Utara seperti Binjai, Pematangsiantar, Tebing Tinggi, Lubuk Pakam, Delitua, Batangkuis, Perbaungan, Sei Rampah dan seterusnya hingga ke kawasan pantai barat Sumut. Problemnya hampir menyerupai, yakni jalanan pasar yang macet, dan tata ruang yang kurang tertata dengan baik.

Pada Pemilihan Umum Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2018 hadir pasangan Eramas, Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah (Gubsu-Wagubsu) dengan semangat dan visi "Membangun Desa Menata Kota Menuju Sumut Bermartabat".

Mewujudkan visi besar ini tidaklah mudah. Satu periode sepertinya tak cukup waktu untuk mewujudkannya. Namun langkah besar di tahun pertama kepemimpinan Eramas, setidaknya telah dimulai dengan peletakan pondasi awal peradaban bermartabat yakni perlunya penguatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Khusus bagi Aparatur Sipil Negara(ASN) muslim di Kantor Gubsu Jalan Pangeran Diponegoro No.30 Medan misalnya, diinstruksikan Gubsu supaya menghentikan pekerjaan sejenak untuk bersegera melaksanakan Sholat berjamaah di Masjid Agung begitu tiba waktunya.

Tujuan instruksi ini tidak lain untuk mendidik ANS Kantor Gubsu agar taat beribadah kepada Allah Sang Pencipta Kehidupan. Sekaligus sebagai perwujudan keimanan dan ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT. Tidak cuma PNS yang diimbau, tapi Gubsu Edy dan Wagubsu Ijeck (panggilan akrab keduanya) ikut langsung memberi contoh dengan ikut Sholat berjamaah di Masjid Agung Medan bila sedang bertugas di Kantor Gubsu.

Pentingnya Iman dan Takwa

Hampir di setiap kesempatan pelantikan pejabat eselon II dan III di tahun pertama kepemimpinan pasangan Eramas, Gubernur Edy Rahmayadi selalu menekankan pentingnya keimanan dan ketakwaan di segala sisi. Kepada seluruh jajaran ASN ditekankan pentingnya bekerja dengan ikhlas karena Allah. "Kalau mau cari kaya jangan jadi PNS," begitu pesan Edy Rahmayadi berkali-kali saat melantik pejabat di jajaran Pemprovsu. Apa maknanya ini?

Itulah makna sejatinya pengabdian. Apabila pengabdian sudah bersandarkan pada materi dunia. Itu bukanlah pengabdian tapi pamrih, ada maunya. Minset pengabdian para ANS yang dikehendaki pasangan Eramas adalah pengabdian tanpa pamrih, yakni ibadah dengan melayani masyarakat semata karena Allah.

Merugikah minset pengabdian seperti ini? Tidak. Karena dalam pendekatan metodologi metafisika Tasawuf yang diyakini pasangan Eramas. Jika bekerja dengan orientasi ibadah karena Allah, tidak hanya berkah (rezeki) dunia yang akan diperoleh tapi juga keberkahan di akhirat juga akan didapat.

Kembali ke penekanan pentingnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Ternyata tidak hanya kalangan ASN yang disasar dan diwanti-wanti pasangan Eramas, kepada wartawan yang bukan ASN pun diminta untuk beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik.

Pendeknya semua lini tugas dan pengabdian siapa saja yang berkiprah di Sumut sangat dituntut pasangan Eramas untuk melandaskannya pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Tujuannya tidak lain untuk mencapai "goal" Sumut bermartabat.

Pasangan Eramas yang sama-sama religius meyakini tanpa landasan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT mustahil Sumut bermartabat bisa dicapai. Pondasi dasar ini harus dikuatkan terlebih dahulu.

Ads
Menata Infrastruktur

Ketika basis keimanan dan ketakwaan telah menyatu dalam nafas kehidupan ASN dan personal elemen masyarakat, seiring itu lompatan selanjutnya yang dilakukan pasangan Eramas adalah melakukan penataan infrastruktur Sumatera Utara beriringan dengan program Pemerintah Pusat diantaranya pembangun jalan tol trans Sumatera yang bersentuhan dengan pengembangan Danau Toba sebagai kawasan strategis pariwisata nasional, pembangunan jalan layang kereta api Medan - Bandara Kualanamu Deli Serdang, pembangunan pelabuhan internasional di Kuala Tanjung Kabupaten Batubara yang tersambung dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangke di Kabupaten Simalungun, pembangun jalan tol Medan - Tebing Tinggi - Danau Toba, plus pembangunan jalan tol dalam Kota Medan menyusuri tepian sungai dan yang teranyar pembangunan Sport Centre dan Stadion bertaraf internasional di atas lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN-2 sekaligus menyongsong Sumut-Aceh tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024.

Untuk mendukung Kota Medan sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Utara yang cantik, tertib dan bersih (bermartabat), Gubernur Edy Rahmayadi bersama Wakil Gubernur Musa Rajekshah sangat mendorong kinerja Pelaksana Tugas Walikota Medan Ir. H. Akhyar Nasution MSi dalam melakukan penataan kawasan Heritage Kesawan dan Lapangan Merdeka sebagai Pedestrian Malioboronya Medan.

Diyakini pasangan Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah, ukuran kesejahteraan tidak semata terletak pada kemegahan dunia, materi ataupun harta. Dalam metafisika Tasawuf yang berlandaskan pada ruh atau qalbu, ukuran kesejahteraan adalah rasa bahagia (qona'ah). Meski sedikit dan apa adanya tetapi tetap merasa cukup atas rezeki yang diberikan Allah SWT.

Hidup "bertasawuf" ini jugalah yang dilakoni warga Tibet yang bermukim di lembah perbukitan Himalaya sana, sekalipun mereka bukan muslim. Meski mereka tinggal di rumah bambu yang sederhana, tapi mereka bahagia. Karena ukuran kesejahteraan bagi mereka adalah kebahagiaan. Mereka pun dijuluki sebagai manusia paling berbahagia di dunia.

Ukuran rasa bahagia sebagai indeks kesejahteraan masyarakat juga sempat menjadi tolak ukur ketika Kota Bandung dipimpin Ridwan Kamil. Tak heran implementasi ukuran kesejahteraan itu ditunjukkan dengan ramainya warga Kota Bandung mengunjungi taman-taman Kota yang beragam tematik.

Masyarakat Desa di Sumatera Utara perlu meyakini bahwa hidup di Desa sesungguhnya jauh lebih enak di tengah kemajuan teknologi informasi. Udara yang bersih merupakan nilai plus yang tidak dimiliki kawasan perkotaan. Bahan pangan yang segar dan alami, bahkan menjadi dambaan masyarakat kota.

Jika demikian halnya untuk apalagi warga desa berbondong-bondong pindah ke kota seperti yang terjadi selama ini. Untuk membetahkan warga desa tinggal di desa. Sarana prasarana desa terus didorong pasangan Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah untuk tumbuh dan berkembang sesuai kebutuhan masyarakat desa. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) terus didorong untuk tumbuh di seluruh wilayah Sumatera Utara dengan sumberdaya unggulan yang dimiliki masing-masing desa seperti Desa Wisata Tani, Desa Wisata Budaya, Desa Wisata Padi, Desa Wisata Buah, Desa Wisata Sejarah, Desa Wisata Religi, Desa Wisata Pantai, dan sebagainya dengan tetap menyediakan rumah-rumah ibadah yang rapi dan bersih.
www www