Home >  Berita >  Medan

Activated Clay, Karbon dan Kalsium Organik Sebagai Materials Makrifat Menaturalisasi Produk Pangan Sintetik Menuju Kinerja Produk Halalan Toyyiban

Activated Clay, Karbon dan Kalsium Organik Sebagai Materials Makrifat Menaturalisasi Produk Pangan Sintetik Menuju Kinerja Produk Halalan Toyyiban
Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang S.Si M.Si dan Dr. Dara Aisyah M.Si.
Kamis, 13 Februari 2020 13:43 WIB
Penulis: Zul Marbun
MEDAN - Judul di atas menjadi topik bahasan menarik yang disampaikan Pakar Metamaterials dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (FMIPA USU) Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang S.Si M.Si bersama Dr. Dara Aisyah M.Si pada Muzakarah diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut pada Ahad keempat Februari 2020 di aula Kantor MUI Sumut Jalan Sutomo Ujung Medan.

Kepada GoSumut.com, Muhammad Sontang Sihotang yang Anggota Pusat Unggulan Inovasi Green Kitosan Advanced Materials Universitas Sumatera Utara (USU) yang diketuai Prof. Dr. Harry Agusnar M.Sc itu mengucapkan terimakasih kepada Sekretaris Umum MUI Sumut Dr. Ardiansyah yang telah mengundangnya mengisi Muzakarah.

Topik tersebut sengaja dihadirkan Muhammad Sontang Sihotang mengingat banyaknya campuran makanan masa kini yang tidak sehat bahkan cenderung merusak organ tubuh seperti penyedap rasa vetsin atau MSG, pengawet bahan pangan seperti formalin, borax dan natrium karbonate, pewarna makanan dan sebagainya.

Ditemukannya Air Karbon, Kalsium Organik (Hidroxyapatite) dari tulang ikan/ kulit kerang dan Clay yang diproses dari limbah kawasan pesisir oleh dirinya bersama Dr. Dara Aisyah M.Si menjadi fenomena penting dalam upaya (ijtihad) Muhammad Sontang Sihotang untuk menaturalisasi campuran bahan pangan yang tidak baik tersebut dapat diikhtiari secara makrifat menjadi media penawar bahan pangan menjadi lebih baik atau Halalan Thoyyiban.

Penjelasannya sebagai berikut: Allah memerintahkan manusia untuk memakan makanan yang halal lagi baik (Halalan Thoyyiban). Al Qur’an, Surat Al Maidah : 88 yang artinya menggariskan: "dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thoyyib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada- Nya”.

Maknanya Allah memerintahkan kita untuk memakan makanan yang bukan cuma halal, tapi juga baik (Halalan Thoyyiban) agar tidak membahayakan tubuh kita. Bahkan perintah ini disejajarkan dengan bertaqwa kepada Allah, sebagai sebuah perintah yang sangat tegas dan jelas.

Perintah ini juga ditegaskan dalam ayat yang lain, seperti yang terdapat pada Surat Al Baqarah : 168 yang artinya: “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.

Penting kita ketahui, halal itu bukan sekedar halal wujudnya, tapi juga dari sumber bagaimana mendapatkannya pun harus halal. Kalau sumbernya haram seperti dari uang korupsi, mencuri, merampok, maka makanan yang dibeli dari uang itu lalu dimakan meski wujudnya halal, namun akan berubah menjadi haram. Dan akan membuat si pemakannya disiksa di api neraka.

Nabi Muhammad Saw. berkata: Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya. (HR. Ath-Thabrani). Sesungguhnya Allah baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik. Allah menyuruh orang mukmin sebagaimana Dia menyuruh kepada para rasul, seperti firmanNya dalam surat Al Mukminun ayat 52: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan-makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shaleh.” Allah juga berfirman dalam surat Al Baqarah 172: “Hai orang-orang yang beriman makanlah di antara rezeki yang baik-baik.”

Kemudian Rasulullah menyebut seorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan wajahnya kotor penuh debu menadahkan tangannya ke langit seraya berseru: “Ya Robbku, Ya Robbku”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia diberi makan dari yang haram pula. Jika begitu bagaimana Allah akan mengabulkan doanya? (HR. Muslim) Kemudian semua yang berasal dari laut adalah halal untuk dimakan, sebagaimana ayat berikut ini: “Dihalalkan bagimu (ikan) yang ditangkap di laut dan makanan yang berasal dari laut” QS Al Maidah : 94.

Beberapa ayat berikut ini juga menyebutkan bahwa dalam Al-Qur’an hanya sedikit yang tidak halal. Namun dengan perkembangan teknologi, yang sedikit itu bisa menjadi banyak karena masuk ke dalam makanan olahan secara tidak terduga sebelumnya.

Beberapa larangan yang terkait dengan makanan haram tersebut adalah: QS Al Maidah ayat 3: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tecekik, yang dipukul, yang jatuh ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali kamu sempat menyembelihnya".

Ads
QS Al Baqarah ayat 173: “Sesungguhnya Allah yang mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan yang disembelih dengan nama selain Allah”. QS Al Maidah ayat 4: “Dan makanlah binatang yang ditangkap dalam buruan itu untukmu dan sebutlan nama Allah ketika melepaskan hewan (anjing) pemburunya".

QS Al An’ am ayat 121: “Dan janganlah kamu makan sembelihan yang tidak menyebut nama Allah dan sesungguhnya yang demikian itu fasik".

QS Al Baqarah ayat 219: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi; Katakanlah : “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya".

QS An Nisa ayat 43: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”

Dari serangkaian ayat di atas, beberapa yang diharamkan adalah: 1. Bangkai 2. Darah 3. Babi 4. Binatang yang disembelih selain menyebut nama Allah 5. Khamar atau minuman yang memabukkan.

Selain itu dilarang memakan binatang buas yang bertaring seperti anjing, kucing, harimau, dan sebagainya. Hadis riwayat Abu Tsa`labah ra., ia berkata: Nabi saw. melarang memakan binatang buas yang bertaring. (Shahih Muslim No.3570). Haram juga memakan keledai: Bahwa Rasulullah saw. melarang makan daging keledai piaraan. (Shahih Muslim No.3583) Kelima hewan ini haram dimakan, berdasarkan hadits Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu-, beliau berkata: “Rasulullah SAW melarang membunuh shurad, kodok, semut, dan hud-hud. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shohih).

Nabi pernah bersabda: “Lima jenis hewan yang harus dibunuh, baik di tanah haram maupun di tanah biasa, yaitu : ular, kalajengking, tikus, anjing buas dan burung rajawali” (H.R. Abu Daud) dalam riwayat lain disebutkan juga burung gagak. Imam Syafi’ie mengharamkan hewan yang hidup di 2 alam (di air dan di darat) seperti kodok, buaya, kura-kura dan kepiting.

Selain halal, makanan juga harus baik. Meski halal tapi jika tidak baik, hendaknya tidak dikonsumsi. Di antara kriteria makanan yang baik adalah: 1. Bergizi tinggi 2. Makanan lengkap dan berimbang. Waktu SD kita belajar makanan 4 sehat 5 sempurna seperti nasi/jagung, lauk/pauk, sayuran, buah-buahan, dan terakhir susu. Semua makanan tersebut mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Ada baiknya ditambah dengan herbal seperti madu, pasak bumi, habbatus saudah, minyak zaitun, dan sebagainya agar tubuh kita sehat. 3. Tidak mengandung zat-zat yang membahayakan bagi kesehatan kita, misalnya kolesterol tinggi atau bisa memicu asam urat. 4. Alami. Tidak mengandung berbagai zat kimia seperti pupuk kimia, pestisida kimia, pengawet kimia (misalnya formalin), pewarna kimia, perasa kimia (misalnya biang gula/aspartame, MSG, dsb) 5. Masih segar. Tidak membusuk atau basi sehingga warna, bau, dan rasanya berubah. 6. Tidak berlebihan. Makanan sebaik apa pun jika berlebihan, tidak baik.
Editor : ZAM
Kategori : Medan, Sumatera Utara, Interaksi, Umum, Gonews Group
www www