Polima, Gema Pancasila dari Baubau Sulawesi Tenggara

Polima, Gema Pancasila dari Baubau Sulawesi Tenggara
Narasumber bedah buku Polima sebagai langkah Dr. H. AS Tamrin, MH Walikota Baubau Buton merevitalisasi nilai-nilai luhur.
Sabtu, 08 Februari 2020 22:30 WIB
Penulis: Zul Marbun
BANJARMASIN - Bedah buku "Polima, Gema Pancasila dari Baubau Buton Sulawesi Tenggara" menjadi agenda khusus rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 di Banjarmasin Kalimantan Selatan, Sabtu sore (8/2) di Golden Tulip Galaxy Hotel.

Tampil sebagai narasumber Dr. H.AS Tamrin, MH Walikota Baubau dua periode 2013-2018 dan 2018-2023 yang juga menjadi salah satu penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2020, Rektor IPDN 2015-2018 Prof. Dr. Ermaya Suradinata, MH MS, Prof. Dr. Djaali dan Dr. Sampara Lukman serta dihadiri Sultan Buton dan Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Pusat Dr. Rajab Ritonga.

Dalam paparan singkat, Dr. H. AS Tamrin menjelaskan Polima dalam bahasa Baubau terdiri dari 1) Po Piapiara=Saling memelihara, 2) Po Maamasiaka=Saling menyayangi, 3) Po Angka-angkataka=Saling mengangkat harkat, 4) Po Mae-maeka=Saling menghargai, dan yang ke 5) Po Binci-binciki Kuli= Saling tidak menyakiti. Falsafah Polima ini kata AS Tamrin, tumbuh dan berkembang dalam sendi kehidupan masyarakat Baubau sebagai perwujudan dari ajaran Islam yang mayoritas diyakini masyarakat secara turun-temurun sejak abad ke-13 atau zaman kerajaan Majapahit.

Ketahanan falsafah Polima ini, kata AS Tamrin terus bertahan hingga saat ini sekalipun keturunan penduduk Baubau sudah merantau ke berbagai penjuru dunia. "Ini selaras dengan jejak warisan arsitektur bangunan tua, kesusasteraan, legenda maupun nilai-nilai budaya adiluhung yang masih ada dan bertahan hingga saat ini di Baubau Pulau Buton," ujarnya.

Lebih jauh dipaparkan AS Tamrin, dia lahir 20 November 1952 di lingkungan Benteng Keraton Buton. Ayahnya bernama Abdul Karim dan ibu bernama Mahiya. AS Tamrin merupakan putra kedua dari 9 bersaudara. Ayah dan ibunya tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang di antara anak-anak. Seluruhnya diajarkan berlaku adil, jujur dan selalu berbuat baik. Juga menjaga moralitas dan hidup rukun. Tidak mendikte tapi lebih banyak memahami, memotivasi dan memberikan banyak nilai-nilai keteladanan.

Ads
Ayah AS Tamrin adalah seorang pegawai negeri rendahan di tingkat kecamatan sembari bertani sayuran, singkong, pisang dan kopi. Sebagai pegawai negeri, ayahnya mendapat jatah beras yang terbatas sehingga hanya bisa menikmati makan nasi pada tanggal muda. Sisanya cuma menikmati Kambose, singkong yang diberi parutan kelapa untuk makanan sehari-hari.

Meski kondisi ekonomi di bawah standar hidup layak, tapi mereka tidak berkecil hati. "Kita merasa tidak ada kekurangan. Saya yang masih kanak-kanak waktu itu tetap bisa bergembira hati, bermain serta bersenda gurau dengan teman-teman sebaya. Keakraban, kekompakan begitu tampak. Sesama warga sekitar hidup dalam suasana kebersamaan, kekeluargaan dan semangat gotong-royong yang tinggi meski semuanya berada dalam keterbatasan dan serba kekurangan tetapi tetap merasa cukup dan bahagia," kisah AS Tamrin.

Hidup merasa cukup meski berada dalam kekurangan, kata AS Tamrin, merupakan ajaran nilai yang disampaikan secara turun-temurun sehingga orang Buton bisa hidup di negeri manapun di penjuru dunia. Nilai-nilai tersebut sudah menjadi parameter hidup sejak 450 tahun silam. Hal itu terdapat di Mukadimah Undang-Undang Dasar Kesultanan Buton yang namanya Martabat Tujuh yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis Shahih Nabi Muhammad Saw. Setiap kali berinteraksi dengan orang, maka nilai-nilai itu menjadi parameter masyarakat Buton.
Editor : ZAM
Kategori : Gonews Group, Umum, Interaksi, Sumatera Utara, Medan
www www