Pentingnya Open Source di Industri Perbankan Indonesia di Tahun 2020

Pentingnya Open Source di Industri Perbankan Indonesia di Tahun 2020
ilustrasi bank. net
Jum'at, 24 Januari 2020 21:19 WIB
Penulis: Ril/Zul
JAKARTA - Transformasi yang terjadi di dunia keuangan dan perbankan dari era analog ke digital telah mengubah banyak hal. Tak hanya perilaku bisnis namun juga bisnis itu sendiri. Menjadikan tingkat persaingan naik ke level lebih tinggi yang lebih kompleks dan butuh persiapan infrastruktur yang lebih baik agar bisa memenangkan persaingan. Tak hanya antar bank, kini layanan financial technology juga mulai unjuk gigi di ranah fintech atau yang biasa disebut Financial Technology seperti: online payment, uang elektronik, micropayment, dll.

Di sisi lain perbankan asing juga semakin agresif dalam melakukan penetrasi pasar dengan aksi korporasi mereka mengakuisisi perbankan lokal. Bangkok Bank membeli saham Bank Permata senilai Rp 37,43 triliun, Mitsubishi UFJ Financial Group mengakuisisi saham Bank Danamon, serta Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) mengakuisisi Bank BTPN.

Data statistik perbankan Indonesia Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada 115 bank umum di Indonesia, per Januari 2019. Terdiri atas empat bank persero, 42 Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) devisa dan 21 BUSN non devisa. Kemudian ada 27 Bank Pembangunan Daerah, 12 bank asing campuran serta sembilan bank asing. Jumlah itu belum termasuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebanyak 1.554 unit.

Ketatnya persaingan, termasuk agresifnya peran bank asing tentu bagus bagi perkembangan industri perbankan nasional. Setiap bank akan dituntut untuk lebih kompetitif, memberikan yang terbaik dari layanan hingga inovasi serta keamanan. Beberapa bank asing dalam kegiatan operasionalnya bahkan telah memanfaatkan sistem berbasis open source dengan pendekatan teknologi terkini, mengikuti perkembangan revolusi industri keempat. Menggunakannya sebagai alat yang terukur dalam pengambilan berbagai keputusan strategis.

Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral sejatinya telah menggagas sistem big data sejak 2014, sebagai salah satu dari lima program transformasi Arsitektur Fungsi Strategis BI 2014-2024. Program tersebut diharapkan bisa mempercepat langkah BI dalam mengendalikan inflasi dan mendukung tercapainya stabilitas sistem keuangan. Karena itu BI terus mendorong bank-bank lokal memperkuat basis teknologi digital agar efisien di tengah makin sengitnya perebutan pasar di industri perbankan dan pembiayaan.

Bank Mandiri adalah salah satu yang telah terbukti sukses mengadopsi teknologi big data. Mengalokasikan dana sebesar Rp.136 miliar untuk investasi infrastruktur big data pada tahun 2017 guna meningkatkan kualitas layanan kredit. Teknologi big data ini dimanfaatkan untuk mengumpulkan dan menganalisis data-data nasabah berupa kebiasaan maupun gaya dalam membelanjakan uang serta melakukan transaksi harian.

Hasil dari pengolahan data tersebut akan dimanfaatkan untuk menentukan creditworthiness atau kelayakan kredit dari setiap nasabah atau untuk menentukan ketertarikan nasabah terhadap suatu produk kredit tertentu.

Selain itu,  hasil analisis big data tersebut juga digunakan untuk memilih cara penyaluran kredit yang tepat dan juga penanggulangan risikonya.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) tahun ini menyiapkan anggaran belanja teknologi informasi (TI) sebesar Rp. 1,13 triliun guna mendorong sistem digital ketimbang membangun infrastruktur konvensional seperti kantor dan mesin ATM. Keputusan ini berdasarkan data transaksi di kantor cabang yang sudah turun 30% secara tahunan.

Kini, BNI terus menggenjot layanan e-channel, mobile banking dan inovasi BNI Sonik, yakni mesin smart kios agar nasabah bisa membuka rekening secara digital. Sementara Bank BTN mengalokasikan belanja modal Rp. 500 miliar untuk infrastruktur TI. Tahun ini, BTN akan lebih fokus membangun ekosistem TI yang salah satunya adalah Application Programming Interface (API) untuk menggandeng perusahaan teknologi finansial dan startup yang bergerak di bidang kredit pemilikan rumah (KPR).

Ads
Semua perusahaan besar, termasuk di sektor keuangan dan perbankan telah menyadari pentingnya invstasi di bidang TI agar bisa melalui masa transformasi digital dengan mulus demi keberlangsungan bisnis di masa depan. Namun tak sedikit perusahaan skala menengah dan kecil yang masih ragu atau terkendala dalam menerapkan solusi TI mereka. Utamanya disebabkan karena ketidaksiapan SDM dan faktor keuangan.

Data Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi atau IP-TIK Nasional 2017, masih rendah, atau berada di level 4,99 dari skala 1-10. Sedangkan pada tingkat global, Indonesia berada di urutan ke-45 dari 140 negara atau ke-4 di wilayah Asia Tenggara, dalam daftar The Global Competitiveness Report 2018, yang dikeluarkan World Economic Forum. Di sisi lain, salah satu tantangan besar Indonesia dalam menyambut revolusi industri 4.0 adalah kesiapan SDM di industri teknologi informasi untuk mencapai potensi ekonomi digital sebesar US$ 150 miliar atau Rp.2.100 triliun pada 2025.

Solusi Open Source

Di era persaingan digital yang panas dan ketat ini, siapapun yang tak memiliki infrastruktur TI mumpuni dipastikan akan tersingkir. Karena itulah software open source bisa menjadi solusi terbaik bagi perusahaan yang ingin memenangkan persaingan. Selain andal dan aman, software berbasis open source  menawarkan kebebasan dan keleluasaan ketimbang software berlisensi yang cenderung kurang adil dan bersifat kapitalistik.

Editor : ZAM
Kategori : Gonews Group, Umum, Ekonomi, Sumatera Utara, Medan
www www