Dosen dan Mahasiswa Fisika FMIPA USU Ciptakan Alat Pengusir Hama dan Lalat Buah

Dosen dan Mahasiswa Fisika FMIPA USU Ciptakan Alat Pengusir Hama dan Lalat Buah
Tim Pengabdian Masyarakat FMIPA USU foto bersama dengan perangkat Desa Narigunung 1, Karo dan pemilik kebun.
Kamis, 21 November 2019 06:24 WIB
Penulis: Ril/Zul
MEDAN - Dosen dan mahasiswa fisika dari FMIPA USU baru-baru ini berhasil menciptakan alat pengusir hama dan lalat buah dengan gelombang ultrasonik di Kabupaten Karo.

Para dosen dan mahasiswa terdiri atas Siti Utari Rahayu, Susilawati, Suharman dan Herty A Sianturi (dosen Fisika dan Kimia FMIPA USU) serta para mahasiswa dari fakultas itu terdiri atas Fathurrahman, Jacky Gunawan Manurung dan Ardiansyah Sembiring.

Menurut Siti Utari Rahayu selaku Ketua Tim Pengabdian Masyarakat USU, serangan hama lalat buah yang menimpa petani sangat merugikan. Petani mengalami kerugian gagal panen, sehingga banyak petani jeruk beralih profesi menjadi petani jagung dan hasilnya tidak sebanyak bertanam jeruk.

“Hal inilah yang mendasari kami menciptakan teknologi yang dapat membantu para petani,”ucapnya.

Ads
Dia menjelaskan, pihaknya telah mensurvei ke lokasi perkebunan jeruk di Desa Narigunung pada 1 Maret 2019. Selanjutnya, tim mengadakan penyuluhan dan pemasangan alat pada 5 Agustus 2019 serta masih berkomunikasi dengan pemilik kebun sampai sekarang dalam memantau keefektifan alat, karena alat itu dipasang di perkebunan jeruk Romen Ginting.

“Dalam hal ini, tim pengabdian menerapkan teknologi gelombang ultrasonik untuk mengusir hama lalat. Teknologi ini dapat membuat lalat buah stres meninggalkan area perkebunan,”ujarnya.

Selain itu, kata Siti Utari Rahayu, untuk mengurangi populasi lalat buah, tim Pengabdian Masyarakat USU juga memberikan 40 perangkap lalat buah yang dibuat dari botol mineral bekas dan metal eugenol. Hasil ini juga dipresentasikan pada Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat tahun 2019 di Fakultas Pertanian USU.

“Alat dan perangkap ini sangat membantu kami dalam menghalau lalat buah.Biasanya lalat buah akan takut untuk datang jika kami mulai menghidupkan mesin pestisida. Namun, jika mesin itu mati, lalat akan membali datang keesokan harinya,”ucap Ginting pemilik kebun jeruk.

Dalam pengabdian ini, warga di sekitarnya merasa antusias atas teknologi yang diterapkan tim. Bahkan, salah seorang wargameminta kepada tim pengabdian masyarakat USU untuk dapat memberikan solusi atas tumbuhnya yang ditransfer lumut di batang pohon jeruk yang berusia tua, yang menurut pengamatan mereka menyebabkan buah jeruk menjadi lebih kecil.

Sementara itu, informasi dari Tim Pengabdian Masyarakat USU, salah satu kendala yang dihadapi petani jeruk di Karo adalah hama lalat buah, “Bactrocera sp (Diptera : Tephridae).

Lalat buah ini merupakan hama yang menyerang tanaman holtikultura di daerah tropis dan subtropics. Lalat buah meletakkan telurnya di bawah kulit buah. Kemudian menetas menjadi larva yang mengkonsumsi daging buah. Sehingga, buah akan menjadi lebih cepat busuk dan jatuh dari pohon sebelum waktunya. Serangan lalat buah juga terjadi di Desa Narigunung 1, Karo, sehingga merugikan warga setempat.*
www www