JAKARTA - Isu pemutusan hubungan kerja ( PHK) ribuan karyawan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk berhembus kencang beberapa hari belakangan. Sejumlah media turut menuliskan kabar tersebut. Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim memberikan penjelasan lengkap seputar kondisi BUMN tersebut dan isu yang berkembang. Sejak 10 tahun lalu ungkapnya, Krakatau Steel sudah menyimpan sejumlah persoalan yang membuat perusahaan pelat merah itu harus rugi 7 tahun berturut-turut.

Sejak ditunjuk sebagai nakhoda baru Krakatau Steel pada September 2018 lalu, Silmy menyadari besarnya masalah dan pentingnya upaya penyelamatan perusahaan. Ia menilai perlunya restrukturisasi perusahaan agar kinerja Krakatau Steel menjadi optimal. Oleh karena itu, restrukturisasi mulai dijalankan sejak Januari 2019.

Ada 4 hal dalam restrukturisasi tersebut yakni penjualan asset non core, mencari mitra strategis, spin off atas unit/divisi yang semula cost center menjadi profit center dan merampingkan organisasi agar tidak birokratis dan lincah.

Khusus dua poin terakhir, inilah yang berkaitan dengan karyawan. Silmy mengatakan bahwa upaya penyelamatan Krakatau Steel turut melibatkan anak-anak usaha. "Saya mengajak seluruh anak usaha KS untuk gotong royong bersama-sama menyelamatkan KS karena ini industri yang strategis," ujarnya seperti dilansir dari Kompas.com, Sabtu (22/6/2019).

Ia lantas menjelaskan dua poin terakhir dalam restrukturisasi Krakatau Steel. Perampingan Dua hal ini langsung berkaitan dengan karyawan sebab menurutnya banyak hal yang perlu direstrukturisasi, termasuk struktur perusahaan. Spin off unit atau divisi merupakan titik awal dari perampingan struktur di Krakatau Steel.

Tujuannya yakni untuk mengoptimalkan unit atau divisi kerja di Krakatau Steel. Caranya yakni dengan digabungkan ke anak usaha Krakatau Steel sehingga kerjanya tidak hanya melayani Krakatau Steel saja namun juga perusahaan lainnya. 

"Misalnya divisi water treatment, atau divisi yang menangani manajemen logistik, termasuk misalnya divisi yg menangani asset KS, dan divisi perawatan," kata dia.

"Ini nantinya akan optimal jika juga melayani perusahaan lain. Dan ini bisa mendapat pendapatan dari perusahaan lain kan," sambung pria 44 tahun itu.

Silmy menjamin, dalam upaya restrukturisasi Krakatau Steel, pihaknya tidak akan semena-mena. Untuk menjalankan spin off unit atau divisi misalnya, ia akan menawarkan opsi kepada karyawan. Misalnya ada karyawan di satu unit ternyata berlebih, maka karyawan tersebut akan ditawari pindah ke unit lain yang lebih membutuhkan.

Soal isu PHK karyawan, ia enggan menyebutkan sebagai hoaks sebab pemutusan hubungan kerja bisa terjadi sebagai konsekuensi dari upaya restrukturisasi yang dilakukan.

"Pasti ada yang saya reposisi, biasanya ada yang enggak mau, ya bisa mengundurkan diri atau mengambil program pensiun dini. Simpel sebenarnya," kata dia.

Pria kelahiran Tegal itu menyadari, tidak semua pihak akan senang dan menerima upaya proses transformasi dan restrukturisasi di tubuh Krakatau Steel tersebut. Namun ia menegaskan bahwa hal itu perlu dilakukan untuk membuat kinerja Krakatau Steel lebih efisien.

Sehingga tetap bisa bertahan di tengah kondisi industri baja yang beberapa pihak menilai sedang mengalami distrupsi. Saat ini berbagai negara penghasil baja terus menghasilkan produk yang lebih kompetitif di dunia dengan produktivitasnya yang tubuh.

"Kalau KS tidak bisa kompetitif maka seluruh karyawan akan jadi korban. Jadi lebih baik saya pilih selamatkan KS daripada 100 persen tidak bekerja," ucapnya.***