Tombak Sulu-sulu, Gua Muasal Kelahiran Sisingamangaraja I

Tombak Sulu-sulu, Gua Muasal Kelahiran Sisingamangaraja I
Sabtu, 12 Agustus 2017 09:01 WIB

Humbahas-Salah satu situs budaya yang ada di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) adalah tombak sulu-sulu. Tombak ini ini adalah sebuah gua batu yang dalam keyakinan sebagian orang Batak (Toba) merupakan muasal kelahiran Sisingamangaraja.

Salah satu situs budaya yang ada di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) adalah tombak sulu-sulu. Tombak ini ini adalah sebuah gua batu yang dalam keyakinan sebagian orang Batak (Toba) merupakan muasal kelahiran Sisingamangaraja.

Dalam folklore yang berkembang di masyarakat Humbahas, disebutkan di sanalah ibunda Sisingamangaraja I, yakni Boru Pasaribu menerima “wahyu” dari Tuhan.

Dalam cerita rakyat itu dikisahkan Boru Pasaribu sengaja datang ke gua itu untuk berdoa meminta anak laki-laki. Ia pun melakukan tapa demi tujuannya itu.

Ads
Tak berapa lama ia pun bermimpi kelak akan mendapat seorang anak laki-laki. Mimpinya terbukti. Boru Pasaribu melahirkan seorang anak laki-laki. Dikatakan ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak akan menjadi seorang raja di Bakkara.

Diduga hal itu terjadi kurang lebih pada abad ke 16 M. Anak laki-laki itu kemudian diberi nama Manghuntal. Manghuntal inilah yang dikenal sebagai Sisingamangaraja I. Dari sinilah trah Sisingamangaraja dimulai. Mereka memerintah negeri Bakkara. Trah ini berakhir pada Sisingamangaraja XII yang gugur di tangan Belanda pada 1907.

Cerita ini juga diakui Raja Tonggo Sinambela, cicit Sisingamangaraja XII. Menurutnya, cerita-cerita rakyat seperti itu adalah bagian dari sejarah masyarakat itu sendiri.

“Yang harus dilihat adalah nilai dan kearifan yang ada di dalamnya,” ujar Raja Tonggo.

Secara fisik, tombak sulu-sulu termasuk unik. Ia dililit akar-akar pohon besar yang menjuntai. Pohon itu dalam bahasa lokal disebut pohon sangka madeha. Posisi gua batu berada di tebing jurang. Tepat di kaki bukit dengan posisinya tersembunyi. Lokasinya jauh dari pemukiman. Untuk menuju ke sana, harus melewati sejumlah perkampungan dan persawahan. Memasuki tombak sulu-sulu, seolah memasuki kawasan hutan yang gelap dan dingin.

Dalam terminologi bahasa Batak Toba, tombak sulu-sulu memiliki arti tersendiri. Terdiri dari dua kata. Yakni tombak dan sulu-sulu.

Tombak dalam bahasa Indonesia berarti hutan belantara. Sedangkan sulu-sulu adalah obor atau penerang. Dalam arti tombak sulu-sulu adalah hutan belantara yang memancarkan setitik cahaya.

Selain tombak sulu-sulu, ada beberapa situs sejarah-budaya yang berkaitan dengan dinasti Sisingamangaraja lainnya yang ada di Baktiraja. Antara lain, Aek Sipangolu, Kompleks Istana Sisingamangaraja (I-XII).

Di kompleks istana sendiri ada terdapat sejumlah situs budaya yang berkaitan dengan dinasi Raja Sisingamangaraja. Antara lain, Makam Sisingamangaraja XI, batu siungkap-ungkapon, tikar 7 lapis, rumah bolon dan bale pasogit (rumah ibadah Sisingamangaraja dan pengikutnya).

Editor : Wen
Sumber : medanbisnis
Kategori : Sumatera Utara, Humbang Hasundutan, Pendidikan, Umum
www www