Home > Berita > Umum

Ini Pendapat Mahasiswa Soal Keberadaan Go-Jek

Ini Pendapat Mahasiswa Soal Keberadaan Go-Jek
Nanda, (kanan) Mahasiswa Fisipol jurusan Ilmu Komunikasi UMSU dan rekannya Farid (kiri) ketika ditemui di kampusnya.
Senin, 20 Maret 2017 20:15 WIB
Penulis: Kamal

MEDAN - Massa aksi yang tergabung dalam Solidaritas Angkutan Transportasi Umum (SATU) melakukan unjukrasa di depan Kantor Walikota Medan, Senin (20/3/2017). Kedatangan ratusan pabetor itu menuntut agar angkutan berbasis Online seperti Go-Jek dan Grab Car segera ditutup.

Aksi demo abang becak Kota Medan ini, mendapatkan reaksi pro dan kontra di tengah masyarakat.

Seperti yang disampaikan Farid Achyadi Siregar. Mahasiswa semester VI Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ini mengatakan, kehadiran Go-Jek sesuai dengan tuntutan zaman.

"Memang dia tidak punya izin. Tapi kehadirannya berguna untuk kemajuan. Karena, kehadiran Go-Jek berguna sesuai tuntutan zaman," kata Farid saat ditemui GoSumut di kampus UMSU, Jalan Mukhtar Basri Medan.

Ads
Menurutnya, dewasa ini, masyarakat lebih memilih angkutan berbasis online daripada angkutan konvensional. Jika ditanya, mahasiswa program studi Jurnalistik ini tidak setuju angkutan berbasis aplikasi itu ditutup.

"Saya tidak setuju Go-Jek ditutup. Karena, menggunakan Go-Jek lebih efisien, baik itu dari segi ekonomi maupun efisiensi waktu," jelas pemuda berkacamata ini.

Untuk itu, dirinya berharap, agar pemerintah menyerukan kepada pihak manajemen Go-Jek untuk segera melangkapi izin operasionalnya.

"Saya berharap, Go-Jek mengurus izinnya. Demikian juga pemerintah, harus mendorong itu," harapnya.

Sementara itu, Rahmad Sedia Ananda Tanjung rekan Farid sesama mahasiswa Jurnalistik justru berpendapat berbeda.

Nanda malah mengharapkan Go-Jek segera ditutup karena telah mengurangi pendapatan Betor yang notabene memiliki izin operasional. Sementara Go-Jek sama sekali tidak memiliki izin.

Bahkan, Nanda menuding ada orang kuat yang memback-up Go-Jek sehingga angkutan berbasis aplikasi ini berani beroperasi.

"Walaupun tidak mengantongi izin, dia (Go-Jek) berani beroperasi. Pasti ada dekingnya. Mungkin orang kuat," tudingnya.

Kepada pemerintah, Nanda berharap agar dapat bertindak tegas. Sebab, ia merasa persolan ini bukan permasalahan sepele.

"Pemerintah harus mengambil tindakan tegas. Ini bukan persoalan ecek-ecek," harapnya.

Bahkan, kata dia, di Pulau Jawa persoalan ini telah merenggut korban jiwa.

"Maka dari itu, jangan sempat jatuh korban di Kota Medan yang kita cintai ini hanya karena persoalan ini," tambahnya.

wwwwww