Tren Harga Komoditas Perkebunan yang 'Kinclong' Kerek Daya Beli Petani

Tren Harga Komoditas Perkebunan yang Kinclong Kerek Daya Beli Petani
Petani karet
Rabu, 15 Maret 2017 14:59 WIB

MEDAN - Tren harga komoditas perkebunan yang 'kinclong' memberikan keuntungan pada petani di sektor tersebut. Tingkat kemampuan (daya) beli petani perkebunan ikut terdongkrak.

Berbanding terbalik dengan petani di sub sektor tanaman pangan dan hortikultura yang pada periode sama daya belinya justru anjlok.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara (Sumut), daya beli petani perkebunan rakyat per Februari 2017 yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat naik 0,73% dari 98,49 menjadi 99,20.

Sementara NTP subsektor tanaman pangan (padi dan palawija) turun 2,01% dari 96,88 menjadi 94,94 dan subsektor hortikultura turun 2,61% dari 97,55 pada Januari 2017 menjadi 95,01.

Ads
"Besaran NTP sangat tergantung dari harga hasil produksi petani. Belakangan, harga sejumlah komoditas perkebunan cukup bagus. Trennya positif karena terdorong sentimen dari perekonomian global. Sebaliknya harga sejumlah produk pangan dan hortikultura justru mengalami penurunan sehingga berdampak pada daya beli petaninya," kata pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin di Medan.

NTP merupakan perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. Hal ini merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar produk pertanian dengan barang/jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Jika harga hasil produksi lebih rendah dibandingkan dengan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian, wajar daya beli petaninya rendah. Begitu juga sebaliknya.

Karena itu, kata Gunawan, harga komoditas perkebunan yang bagus memberikan keuntungan pada petani. Karena harga yang didapatkan lebih besar dari biaya produksi yang dikeluarkan.

Begitupun, tambah Gunawan, meskipun NTP-nya naik, namun indeks yang masih berada di bawah 100 harus juga diupayakan agar terdongkrak. Karena itu sebenarnya memiliki urgensi yang lebih besar untuk diatasi. "Bukan hanya terfokus pada NTP keseluruhan," katanya.

Editor:Wewen
Sumber:medanbisnis
Kategori:Ekonomi, Gonews Group, Medan, Sumatera Utara
wwwwww