Terduga Jaringan Teroris Tolitoli Ditangkap di Kampung Inggris

Terduga Jaringan Teroris Tolitoli Ditangkap di Kampung Inggris
Ilustrasi. (istimewa)
Senin, 13 Maret 2017 22:34 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
KEDIRI - Detasemen 88 Anti Teror menangkap seorang terduga teroris asal Toli Toli, Sulawesi Tengah. Pelaku diketahui sedang belajar Bahasa Arab di kampung Inggris, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Penangkapan terduga teroris oleh tim Densus ini mengejutkan warga di Dusun Tegal Sari, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri pukul 10.45 WIB siang tadi.

Pelaku yang diketahui bernama Mahbub, 36 tahun, warga asal Jalan Hanjala, no 10 A Tuweley, Baolan, Toli Toli, Sulawesi Tengah ini ditangkap aparat kepolisian saat sedang bersepeda di Jalan Asparaga RT 02, RW 15.

"Dia berada di Kediri sejak awal bulan Februari 2017," kata salah satu sumber di Kepolisian, Senin (13/3/2017).

Ads
Masih menurut sumber tersebut, Mahbub tinggal di Asrama Putra yang menjadi tempat kursus Bahasa Arab Al-Asriyyah milik Laila Nurshia, 52 tahun.

Tempat tersebut dikontrak oleh Ustadz Mohamad Lutfi asal Jepara, Jawa Tengah dan dipergunakan sebagai tempat belajar Bahasa Arab. Selain Bahasa Inggris, Desa Tulungrejo juga dikenal sebagai gudang tempat kursus Bahasa Inggris hingga dikenal sebagai kampung Inggris.

Pengintaian terhadap Mahbub ini sudah dilakukan sejak bulan lalu oleh tim Densus 88. Hingga pada akhirnya siang tadi saat pelaku sedang mengendarai sepeda pancal keluar dari tempat kursus tiba-tiba dipepet anggota Densus dan dimasukkan ke dalam mobil petugas.

Dengan cepat kendaraan itu melaju meninggalkan lokasi tanpa hiruk pikuk sama sekali.

Warga baru menyadari adanya penangkapan itu setelah tim Densus melakukan penggeledahan di tempat kursus Mahbub pada pukul 12.30 WIB hingga sore hari.

Dari tempat itu petugas mengamankan identitas Mahbub, pakaian, serta uang tunai sebesar Rp 100 ribu dan bukti transfer bank.

Kepala Kepolisian Resor Kediri Ajun Komisaris Besar Sumaryono menolak berkomentar tentang penangkapan itu. Dia berdalih hanya membantu penyergapan yang dilakukan tim Densus 88 dari Mabes Polri. Kegiatan penyergapan ini dilakukan mulai dari siang sampai sore. "Polres hanya melakukan back up kepada Densus saja," katanya singkat.

Sementara itu Lutfi, pimpinan Lembaga Al-Asriyyah menjelaskan Mahbub datang ke tempatnya satu bulan lalu untuk belajar Bahasa Arab. Rencananya Mahbub akan mengambil program paket belajar dua bulan, sebelum akhirnya ditangkap polisi.

Menurut Lutfi, perilaku Mahbub sama sekali tidak mencurigakan. Seperti kebanyakan siswa lainnya, dia aktif mengikuti pelajaran. Karena itu tak banyak yang memperhatikan secara khusus kehadiran Mahbub disana mengingat tingginya hilir mudik peserta belajar yang datang.

"Dia datang sendirian saat mendaftar di sini. Rencananya bulan depan dia akan mudik," kata Lutfi yang ikut mendampingi penggeledahan di kamar Mahbub.

Kawasan Kampung Inggris memang dipenuhi warga dari luar kota dan menjadi tujuan belajar bahasa Inggris. Belakangan bermunculan kursus Bahasa Arab dalam jumlah banyak meski belum mampu menyaingi jumlah lembaga kursus Bahasa Inggris.

Pertumbuhan jumlah lembaga belajar ini sangat pesat karena rata-rata didirikan oleh para alumnus lembaga di sekitar itu. Ketika menguasai dengan baik, mereka mendirikan tempat kursus baru secara bebas.

Ada dua metode pembelajaran disini, yakni menginap di asrama atau yang biasa disebut camp, atau belajar di tempat kursus. Banyak siswa yang memilih tinggal di camp karena tak perlu keluar tempat kos untuk menuju lokasi belajar. Sebab masing-masing camp dilengkapi infrastruktur pengajar.***
Sumber:Tempo.co
Kategori:Gonews Group, Peristiwa, Hukrim
wwwwww