Februari 2017, BI Mencatat Sumut Alami Deflasi Sebesar 0,59 Persen

Februari 2017, BI Mencatat Sumut Alami Deflasi Sebesar 0,59 Persen
Minggu, 05 Maret 2017 11:09 WIB

MEDAN - Berbeda dengan nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,23%, Sumatera Utara (Sumut) pada bulan Februari 2017 justru mencatatkan deflasi sebesar 0,59% (mtm). Realisasi ini sangat positif dan memberikan keyakinan bahwa inflasi Sumut pada tahun 2017 dapat dijaga pada kisaran sasaran inflasinya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumut Arief Budi Santoso mengatakan, deflasi tersebut sejalan dengan pola musimannya bahkan bahkan dengan level yang lebih rendah dibandingkan historisnya "Rata-rata inflasi Februari 7 tahun terakhir tercatat deflasi 0,29%," katanya.

Dengan perkembangan inflasi bulan sebelumnya (0,45% mtm) yang juga lebih rendah dari pola historisnya, hingga Februari Sumatera Utara masih mengalami deflasi 0,13% (ytd), sementara nasional tercatat inflasi 1,21% (ytd). Secara tahunan inflasi IHK Sumatera Utara menurun dari 5,89% menjadi 4,98% (yoy), berada dalam kisaran sasaran inflasi Bank Indonesia, yaitu sebesar 4%±1% (yoy).

Menurut dia, pasokan yang membaik mendorong deflasi kelompok volatile food sebagai faktor utama deflasi di Februari 2017. Kelompok volatile food (VF) pada Februari 2017 kembali mengalami deflasi sebesar -3,43% (mtm), jauh lebih dalam dari deflasi yang terjadi pada bulan sebelumnya (-0,57%, mtm). Realisasi ini sejalan dengan rata-rata historisnya selama 7 tahun terakhir yang mengalami deflasi sebesar -1,26% (mtm). Penurunan harga terutama terjadi pada cabai merah (-0,79%), seiring dengan masuknya musim panen di beberapa sentra produksi seperti Karo, Batubara, Mandailing Natal dan Tapanuli Utara. Namun, harga ikan mengalami kenaikan karena berkurangnya pasokan akibat cuaca buruk, yang menjadi penahan deflasi yang lebih dalam. Secara tahunan, inflasi kelompok VF turun tajam menjadi 5,46% (yoy) dibandingkan bulan sebelumnya (10,05%).

Ads
Tekanan inflasi di Februari bersumber dari kelompok administered prices (AP) tercatat sebesar 0,79%(mtm) dengan intensitas lebih rendah dibanding bulan sebelumnya (1,72% mtm). Selain harga rokok, inflasi bersumber dari dampak kenaikan tarif listrik daya 900 VA masih tercatat di bulan Februari sebesar 0,14%. Di sisi lain, tarif angkutan udara mengalami deflasi 11,79%, yang menjadi faktor penahan kenaikan harga pada kelompok ini. Secara tahunan, inflasi kelompok ini masih rendah (4,46% yoy).

Kelompok inti juga mengalami inflasi sebesar 0,39% (mtm) atau 4,83% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,57% (mtm) dan 5,42% (yoy). Inflasi inti terutama disumbang oleh kenaikan harga komoditas mobil yang diduga karena kenaikan biaya pengurusan STNK dan BPKB, kenaikan biaya operasional tahunan, serta kenaikan harga sewa rumah.

Secara spasial, keempat kota IHK di Sumut mengalami deflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Sibolga 1,34% (mtm), tertinggi kedua di Sumatera setelah Jambi yang deflasi sebesar 1,40% (mtm). Secara tahunan (yoy), seluruh kota IHK mencatat inflasi di bawah 5%, kecuali Pematangsiantar (5,22%).

Dengan perkembangan tersebut, inflasi Sumatera Utara di 2017 diperkirakan terkendali pada sasaran inflasi 4%±1% (yoy). Dalam kaitan ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Provinsi Sumatera Utara akan berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga dengan melakukan berbagai kebijakan untuk tetap menjaga pasokan dan dan kelancaran distribusi bahan pokok serta mengantipasi risiko inflasi terutama penyesuaian administered prices sejalan dengan kebijakan lanjutan reformasi subsidi energi oleh Pemerintah. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Provinsi Sumatera Utara akan konsisten menjalankan program-program sesuai roadmap pengendalian inflasi.

Editor:Wewen
Sumber:medanbisnis
Kategori:Ekonomi, Gonews Group, Medan, Sumatera Utara
wwwwww