Langkak Kaki Jelajah Negeri, Cegah Penularan HIV

Cak Gareng: Stop Stigma dan Diskriminasi ODHA

Cak Gareng: Stop Stigma dan Diskriminasi ODHA
Cak Gareng (sweater ungu putih) menceritakan pengalamannya saat menjelajahi 22 provinsi dengan berjalan kaki saat di kantor KPA Sumut, Senin (27/2/2017)
Senin, 27 Februari 2017 22:11 WIB
Penulis: Fatih Al Rizki
DIAGNOSIS HIV/AIDS oleh dokter pada tahun 2011 lalu, menjadi awal lembaran baru bagi Wijianto. Pria kelahiran Nganjuk, 7 November 1983 kembali memulai hidupnya, tanpa istri dan anak perempuannya yang masih berusia 1 tahun saat itu. Istri Wijianto memilih untuk pisah lantaran tidak bisa menerima keadaannya.Tindakan diskriminatif yang dilakukan dari orang paling dekat atau istrinya itulah membuat pria yang akrab disapa Cak Gareng justru bangkit. Ia berusaha untuk survive dari penyakitnya dan membuktikan kalau Ia sebagai ODHA juga bisa menjalani hidup seperti manusia pada umumnya.

"Alhamdulilah kalau istri dan anak saya negatif. Tapi isteri gak terima, dia nanya dapat dari mana virus ini, kemudian kita pisah. Saat itu kondisi saya sedang lemah, otomatis makin drop dan akhirnya harus dirawat lagi dengan penyakit penyerta saat itu Stevens Johnson (penyakit kulit)," ujarnya membuka cerita, Senin (27/2/2017) di kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumut.

Saat dirawat di rumah sakit, memang Gareng tidak memberi tahu kedua orangtuanya mengenai kondisinya saat itu. Sebab, Gareng khawatir keduanya malah menjadi cemas. "Kebetulan saya anak tunggal. Tapi akhirnya orangtua tahu sendiri, gak tahu siapa yang membocorkan. Alhamdulilah orangtua menerima keadaan saya seperti ini," katanya sembari menduga risiko Ia menjadi ODHA karena pengguna narkoba suntik (penasun).

Ads
Sebentar di kampung halaman, Gareng kembali ke Jakarta untuk bekerja. segala pekerjaan dilakukan, bahkan sampai menjadi penjual bakso keliling. "Kalau pembeli saya tahu saya ODHA pasti banyak yang gak beli itu yah," katanya sambil tersenyum.

Pengetahuan soal HIV Aids, kata Gareng terus Ia cari, kemudian Ia pun dipertemukan oleh Yayasan Pelita Ilmu, KPA Nasional, dan Kemenkes. Setelah banyak sharing dan belajar serta mendengarkan curahan hati rekan sesama ODHA yang belum bisa survive juga masih menerima diskriminasi dari lingkungannya, Gareng pun menyampaikan niatannya melakukan kampanye menghapus stigma negatif dan stop diskriminasi ODHA dengan keliling Indonesia.

"Ternyata Yayasan Pelita Ilmu, KPA juga mendukung, akhirnya saya lakukan perjalanan 'Langkak Kaki Jelajah Negeri, Cegah Penularan HIV' ini start mulai dari Jakarta. Sebelumnya, saya juga buat surat menyatakan bahwa saya tidak akan menuntut siapapun jika ada hal hal yang tidak diinginkan terjadi saat dalam perjalanan. Saya juga minta surat dari KPA Nasional, agar saat saya kehabisan ARV bisa saya ambil ke rumah sakit di daerah-daerah. Saya pun akhirnya merealisasikan keinginan tersebut. Tepat tanggal 7 November saat saya ulang tahun, saya mulai perjalanan ini," katanya.

Wijianto berangkat dari Jakarta seorang diri dengan membawa bekal tiga lembar kaos, dua celana pendek. Tak lupa, Gareng juga membawa selembar spanduk kecil yang bertuliskan berbagai kata dukungan stop diskriminasi pada HIV AIDS dan stop penularannya.
wwwwww