Home > Berita > Medan

Kisah Pilu Sang Penjual Kacamata Keliling yang Pernah 'Dipalak' di Danau Toba

Kisah Pilu Sang Penjual Kacamata Keliling yang Pernah Dipalak di Danau Toba
Rasman Koto pedagang kacamata keliling di kawasan Danau Toba, Rabu (22/2/2017). (Tribun Medan / Dedy)
Jum'at, 24 Februari 2017 21:45 WIB
MEDAN - Satu per satu kaca mata yang dijajakan dibersihkan dengan sapu tangan oranye oleh Rasman Koto (67), perantau asal Bukit Tinggi yang sudah berdomisili selama 47 tahun sejak Februari 1971 di daerah Siantar-Simalungun.Pria paruh baya kelahiran 14 Desember 1949 ini setiap harinya menjajakan beragam kaca mata di kawasan destinasi wisata Danau Toba.

Legam hitam kulitnya terbakar sinar matahari. Pipinya kemput. Namun itu semua dia lakukan untuk melanjutkan hidup bersama keluarga dan menyekolahkan anaknya.

"Pertama kemari memang jualan pertampahan keliling mulai dari Sidempuan, Batang Toru Sitinjak Saur Matinggi hingga akhirnya menetap di Siantar, numpang di tempat adik yang punya usaha jahit," kenang ayah anak tiga ini, Rabu (22/2/2017).

Ads
Katanya, sudah 12 tahun belakangan menjajakan kaca mata untuk melanjutkan hidup.

Saat ini tiga anaknya sudah menikah dan tak bersamanya, begitu juga istri tercintanya yang telah lama tiada.

Selama menjadi pedagang keliling, dari pekan ke pekan pada tahun 80an ia bercerita banyak bertemu dengan turis mancanegara, juga turis lokal. Tak hanya orang baik, orang yang berbuat jahat padanya juga tak sedikit.

"Pengalaman saya yang syukurnya belum pernah kenak rampok. Tapi dulu, apalagi 80an sering saya dimintai duit sama preman-preman setempat. Tapi syukurnya sekarang sudah gak ada lah," ujar lelaki yang setiap harinya membawa tas seberat 25 kg berisi barang jualan keliling-keliling Danau Toba.

Saat ditanyai penghasilan, Rasman mengaku rezekinya tak menentu. Tapi dirinya tak punya pilihan lain untuk mengais rezeki.

Tak jarang bahkan sehari dirinya tak bisa menjual apa pun.

"Rezeki ya gak menentu, kadang ramai kadang gak. Seharinya biasanya dapat 75 ribu. Tapi kalau gak rezeki mau juga dua hari gak buka dasar, pungkasnya.

Rasman juga bercerita pengalamannya yang harus menumpang di warung-warung di Parapat untuk sekadar istirahat dan tidur malam. Itu dijalani jika tak dapat rezeki. Ia tak bisa pulang ke rumahnya di Jalan Perak, Patuan Anggi di Siantar di mana ia berdomisili selama 47 tahun.

Editor:Fatih
Sumber:tribun medan
Kategori:Medan, Toba Samosir, Umum
wwwwww