Home > Berita > Umum

Kisah Anak Tukang Masak Asal Indonesia Jadi Kepala Teknisi Boeing di AS, Gajinya Wow!

Kisah Anak Tukang Masak Asal Indonesia Jadi Kepala Teknisi Boeing di AS, Gajinya Wow!
Akmal Rizqi (36).
Minggu, 19 Februari 2017 19:36 WIB
MENEKUNI bidang perawatan pesawat, khususnya spesialisasi avionika, telah mengantarkan Muhamad Akmal Rizqi (36) ke jenjang bergengsi di maskapai papan atas Amerika Serikat, United Airlines.Di maskapai berlogo bola dunia ini, Rizqi dipercaya menjadi Kepala Proyek Avionika Boeing 787 Dreamliner.

Sebelumnya ia menangani berbagai pesawat yang dimiliki United Airlines baik buatan Airbus maupun Boeing.Ketika baterai pesawat 787 Dreamliner pada Januari  2013 bermasalah dan menyebabkan 50 pesawat 787 yang dioperasikan di berbagai maskapai harus di-grounded, Rizqi bersama tim United Airline dan Boeing segera mencari solusinya.

loading...
Dua baterai Lithium-Ion yang memanas dan menyebabkan tidak berfungsinya sumber kelistrikan tersebut, setelah diselidiki ternyata membutuhkan desain housing baru dengan penambahan ventilasi udara.

Ads
“Sebenarnya masalah baterai adalah masalah dari vendor, namun tim United Airlines dan Boeing segera melakukan perbaikan terkait housing-nya. Setelah enam bulan kami berhasil mengatasinya,” ujar Rizqi kepada Angkasa di Jakarta saat ia “pulang kampung” tahun 2013 silam.

Kiprah Rizqi di United Airlines diawali tahun 2006 setelah ia bekerja di beberapa maskapai seperti Jet Blue, Tower Air, Kalita Air, dan Continental Airlines.

Rizqi dibawa ke negeri Paman Sam oleh ayahnya, Mucharor Zuhri asal Blitar, yang berprofesi sebagai chef dan bekerja di restoran Nusantara di New York. Saat itu ia masih bersekolah di SDN 07 Pagi, Jakarta.

Rizqi lalu meneruskan sekolah dasar di sana dan masuk ke tingkat SMA di Aviation High School, Queens, New York, lulus 1998.

Karena nilai pelajarannya bagus dan ia selalu menjadi juara kelas, Rizqi pun mendapat beasiswa ke Vaughn College of Aeronautics and Technology, Queens, New York.

Ini adalah salah satu perguruan tinggi aviasi dan engineering yang mendapat pengakuan dari FAA.

Ia pun lulus tahun 2002 dengan mengantongi ijazah Bachelor of Science bidang Aeronautical Engineering.Apa yang menyebabkannya tertarik pada dunia penerbangan?Dengan mata berbinar ia menjawab, “Dunia engineering khususnya perawatan pesawat terbang telah menarik minat saya sejak kecil. Enggak tahu kenapa, pokoknya saya suka pekerjaan perawatan pesawat, mulai dari perawatan mesin hingga software avionik pesawat. Semua,” ujarnya.

Di pekerjaannya saat ini ia pun amat menikmatinya. Terlebih dari sisi pendapatan pun sudah sangat mencukupi diri dan keluarganya.

Berapa memang gajinya? Ia awalnya ragu-ragu menjawab.Namun setelah membeberkan, Angkasa berani menyebut kalau gajinya tersebut lebih besar dari gaji pilot paling senior di maskapai Garuda Indonesia.

Editor:Fatih
Sumber:Tribunbali.com
Kategori:Umum
wwwwww