Pakde Kamari, Sosok Pria Pengangkat Ratusan Jasad Manusia dari Sungai di Malang

Pakde Kamari, Sosok Pria Pengangkat Ratusan Jasad Manusia dari Sungai di Malang
Pak Kamari dengan rekan Tim SAR. (beritajatim)
Senin, 06 Februari 2017 01:06 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
MALANG - Siapa yang tak kenal dengan Kamari yang biasa disapa dengan sebutan Pakde Kamari. Bagi Tim SAR di wilayah Malang Raya, pria berumur 60 tahun, warga Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, punya jasa besar dalam mengurus jasad manusia yang ditemukan mengapung di Bendungan Sengguruh, Kepanjen.

Atas dedikasinya yang tanpa pamrih itu, Kamari pun memperoleh bantuan hibah dari komunitas Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) 05 Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu (5/2/2017), dengan label nama WIS KOMPAK.

Lalu siapa sebenarnya Kamari? Kegelisahan itu diawali dari personel WIS KOMPAK di bawah naungan RAPI Kepanjen yang melihat, sudah beberapa waktu lamanya, Kamari tidak terlihat lagi berada di sekitar Bendungan Sengguruh.

Bendungan ini cukup besar. Termasuk kawasan vital karena di dalamnya, terdapat Pembangkit Listrik untuk pasokan Jawa-Bali.

Ads
Komunitas RAPI Kepanjen yang juga terjun dalam bidang sosial hingga Tim SAR, akhirnya mengetahui jika Kamari, tak bisa bekerja lagi disekitar bendungan karena perahu yang selama ini ia pergunakan, rusak parah.

Sehari-hari, Kamari mencari barang bekas dan rongsokan untuk dijual. Sarana kerja satu-satunya adalah, sebuah cadik atau perahu kayu berukuran kecil.

Sambil mengarungi bendungan, di tengah aktivitasnya mencari sesuap nasi, Kamari sudah mengangkat jasad manusia dari bendungan berjumlah ratusan.

"Kalau jumlah jenasah ada berapa saya tidak hapal. Yang pasti banyak mas," terang Kamari, Minggu (5/2/2017) selepas menerima hibah perahu dari Komunitas WIS KOMPAK di bawah kendali RAPI 05 Kepanjen.

Kamari menceritakan, ia sudah mengarungi Sungai Brantas hingga mengarah ke Bendungan Sengguruh saat usianya masih remaja. Meski usianya sudah menginjak 60 tahun, Kamari masih sering menemukan jasad manusia yang terapung di bendungan.

Jika itu yang terjadi, Kamari biasanya langsung memberi kabar pada Tim SAR ataupun petugas penjaga bendungan. Tak lama berselang, ia sendiri yang mengangkat jasad tersebut kedalam perahu miliknya.

Saat menerima hadiah perahu, Kamari pun mengaku bersyukur. "Saya tidak minta apa-apa kok. Diberi ya terimakasih, tidak diberi juga tidak apa-apa. Karena rejeki sudah ada yang mengatur, pasti ada saja rejeki itu," papar Kamari.

Kamari sudah mengarungi bendungan sejak tahun 1965. Pada masa itu, ia kerap menemukan jasad manusia dengan kondisi memprihatinkan. Karena jaman dulu belum seramai saat ini, usai menemukan jasad manusia yang terapung disungai, Kamari lalu menguburkannya seorang diri. 

Ia membuat lubang menggunakan alat seadanya untuk menguburkan mayat-mayat yang tidak ia kenali dan tanpa identitas kala itu.

"Kalau jaman dulu banyak mayat mengapung di sungai kan. Saya angkat sendiri. Saya kuburkan di sekitar jembatan. Makamnya ada sampai sekarang," tutur Kamari.

Dalam satu masa, Kamari bahkan pernah menguburkan sedikitnya 25 jasad manusia tanpa identitas. Banyaknya mayat saat itu, membuat air irigasi menuju ke sawah warga berubah menjadi warna merah darah. Karena masyarakat takut, ia pun dengan sukarela membawa jasad-jasad tersebut untuk dikebumikan secara layak.

"Saya hanya kasihan saja melihat jasad-jasad seperti itu mas. Siapa lagi kalau bukan saya, karena orang-orang juga pada takut semua waktu itu," kenang Kamari.

Uniknya, meski cukup lama menghabiskan waktunya di atas perahu dan menyusuri sungai hingga bendungan, Kamari rupanya tak bisa berenang. Jika melihat mayat terapung, Kamari cukup mendekatkan perahunya dan menarik bagian tubuh jasad tersebut untuk dibawa ke dalam perahu yang ia tumpangi.

Sementara itu, Kapolsek Kepanjen Kompol Mas Ahmad Sujalmo yang secara sukarela memberikan hadiah perahu pada Kamari menjelaskan, keberadaan Kamari selama ini sangat membantu tugas kepolisian.

Terutama soal penemuan jenasah manusia yang mengapung di sungai. "Saya tahu sendiri. Perahunya pak Kamari ini bocor. Kami ingin peduli dan memberikan bantuan dengan wujud perahu yang baru ini. Kalau ditempat lain bisa, di Kepanjen juga harus bisa, harus saling peduli," ucap Sujalmo.

Hal yang sama juga dikatakan Camat Kepanjen, Abai Saleh. Dengan bantuan perahu yang baru, mudah-mudahan bisa digunakan Kamari dan rekan-rekan Tim SAR yang kebetulan berada di sekitar bendungan.

"Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Pak Kamari. Meski Pak Kamari sendiri bukan warga Kepanjen, tapi mau membantu tugas-tugas Tim SAR khususnya Komunitas Wis Kompak dibawah naungan RAPI Kepanjen," pungkasnya.

Perahu yang diterima Kamari punya berat 4 kwintal dengan panjang 7 meter. Perahu itu, bisa ditumpangi 5 hingga 6 orang penumpang. Perahu itu dilapisi cat khusus perahu. ***
Sumber:beritajatim.com
Kategori:Gonews Group, Peristiwa
wwwwww