Larangan Trump Ditangguhkan Hakim James Robart, Tangis Haru Imigran Muslim Pecah di Bandara John F Kennedy

Larangan Trump Ditangguhkan Hakim James Robart, Tangis Haru Imigran Muslim Pecah di Bandara John F Kennedy
Fariba Tajrostami, Imigran Asal Iran memeluk saudaranya sambil menangis haru di Bandara John F Kennedy. (dream)
Senin, 06 Februari 2017 13:47 WIB
NEW YORK - Deraian air mata haru tak kuasa ditahan Fariba Tajrostami (32), ketika kakinya melewati gerbang Bandara John F Kennedy, New York, Amerika Serikat. Senyum bahagia pun tersungging di bibirnya.

Wanita itu telah ditunggu saudaranya di bagian penjemputan bandara itu. Seketika, Tajrostami langsung memeluk saudaranya, dan pecahlah tangis kebahagiaan mereka.

''Saya sangat senang. Saya sudah tidak bertemu saudara saya selama sembilan tahun,'' ujar Tajrostami, kepada Associated Press.

Tajrostami adalah seorang pelukis Iran yang hendak menempuh pendidikan seni di AS. Dia adalah satu dari sekian banyak imigran asal tujuh negara Muslim terkena dampak larangan Presiden Donald Trump.

Ads
Pada Jumat pekan lalu, Hakim Federal James Robart menangguhkan larangan itu. Saat putusan itu keluar, bandara-bandara di seluruh AS secara serentak membuka jalur keluar bagi para imigran Muslim.

Putusan itu membuat para imigran Muslim, termasuk Trajostami, merasa sangat bersyukur. Mereka kini bisa kembali menapakkan kaki di tanah Negeri Paman Sam tersebut.

Sebelumnya, Tajrostami berusaha terbang ke AS melalui Turki lebih dari sepekan lalu. Tetapi, upayanya gagal lantaran visanya selalu ditolak.

''Saya menangis dan sangat kecewa. Semua yang ada di pikiran saya, apa yang akan saya lalukan, saya sangat kecewa tentang semua ini. Saya pikir semua telah berakhir,'' kata Tajrostami.

Selain untuk belajar seni, Tajrostami pergi ke AS agar bisa bersama dengan suaminya. Sang suami pindah ke AS enam bulan lalu dan memegang visa resmi. Di AS, suami Tajrostami tinggal di Dallas dan bekerja sebuah diler mobil.

Kebahagiaan yang sama juga dirasakan oleh Abdullah Alghazali. Di Bandara JFK, dia memeluk dan mencium anaknya, Ali Abdullah Alghazali, 13 tahun.

Tangis kebahagiaan berderai dari matanya. Kerinduan pada sang putra lantaran enam tahun tidak bertemu, terbayar sudah. Abdullah lebih dulu tinggal di AS.

Ali dan ibunya, Musarlah Alghazali, meninggalkan Yaman dan tinggal di Mesir selama satu setengah tahun akibat perang saudara. Musarlah tinggal di AS sejak dua setengah bulan lalu, tapi Ali masih di Mesir dengan sepupunya karena visanya belum disetujui.

Bocah laki-laki itu baru bisa pergi ke AS Sabtu lalu, setelah larangan yang diberlakukan Trump ditangguhkan.

''Saat dia pergi ke bandara agar bisa ke sini, mereka menghentikannya dua pekan lalu. Saya coba lagi pekan berikutnya, Kamis, tapi mereka tetap menolaknya,'' kata Abdullah.

''Mereka mengatakan dapat perintah dari Pemerintah AS tidak membolehkah siapapun dengan visa atau kartu hijau datang ke AS,'' ucap Abdullah.***
Editor:hasan b
Sumber:dream.co.id
Kategori:Gonews Group, Peristiwa
wwwwww