Home > Berita > Umum

Empat Kali Raih WTN Tapi Jalan di Medan Masih 'Babakbelur'

Empat Kali Raih WTN Tapi Jalan di Medan Masih Babakbelur
Ruas jalan berlubang terlihat di Jalan Gaharu persimpangan dengan Jalan Muchtar Basri, satu diantara mobil yang sedang melintasi lubang yang berada di jalan tersebut. Jum'at (3/2/2017).
Jum'at, 03 Februari 2017 14:49 WIB
Penulis: Wen

MEDAN - Banyaknya lubang di ruas Jalan Gaharu membuat para pengendara kesulitan untuk melintasinya, dan hingga saat ini belum ada perbaikan yang dilakukan, Jum'at (3/2/2017).

Jalanan ini sudah lama dibiarkan rusak dan tidak diperbaiki, lubang-lubang dibiarkan begitu saja, sehingga kalau hujan turun membuat air tergenang lubang tersebut, terakhir kali ada penggalian yang dilakukan di sepanjang Jalan Gaharu samapai Jalan Muchtar Basri, Medan.

Menurut Nanda warga yang bermukin di Jalan Gaharu tersebut mengatakan, sudah lama dibiarkan begitu saja, sempat dilakukannya perbaikan tetapi tetap masih kembali rusak dan tak terurus.

"Terakhir ada penggalian pipa disini, sempat pernah di perbaiki, tapi kebanyakan pasir jadinya belubang kembali lah, jalannya,"ucap Nanda saat berada didepan rumahnya.

Ads
Sementara itu kalau tiba musim hujan, jalanan ini seperti kubangan hewan, banyaknya lubang yang terisi air, bahkan lumpur yang di hasilkan oleh penggalian membuat abu yang berterbangan hingga masuk kedalam rumah, membahayakan kesehatan bagi warga yang berada disana.

"Kalau hujan beceklah jalan ini, kalau panas seperti saat ini, abunya terbang-terbang, masuk kedalam rumah,"ucapnya lagi kepada GoSumut.

Padahal Kota Medan mendapatkan penghargaan Wahana Tata Nugrah (WTN) keempat kalinya oleh Menteri Perhubungan Ir, Ir Budi Karya Sumadi di Merlynn Park Hotel Jalan KH Hasyim Anzhari , Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (31/1).

Menyatakan bahwa Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada kota-kota yang dinilai mampu menata trasportasi publik dengan baik. Penilaian dilakukan atas kategori kota metropolitan, kota besar, kota sedang, dan kota kecil. Dalam melakukan penilaian, ada sejumlah aspek yang menjadi dasar pertimbangan diantaranya aspek penataan transportasi yang berkelanjutan berbasis kepentingan publik, serta rahmah lingkungan.

Penghargaan yang dianugrahkan pemerintah pusat setahun sekali kepada pemerintah kabupaten/kota dinilai berhasil menata prasarana lalu lintas dan angkutan jalan. Namun banyak diruas jalan berlubang dan tidak layak untuk dilalui oleh penggendara.

wwwwww