Home > Berita > Umum

Bangunan Bersejarah Jadi Tempat Sampah

Bangunan Bersejarah Jadi Tempat Sampah
Tugu monumen perjuangan di kawasan Lapangan Merdeka, Jalan Balai Kota, Senin (30/1/2017) Medan.
Senin, 30 Januari 2017 16:58 WIB
Penulis: Wen
MEDAN - Banyak bangunan-bangunan bersejarah di Kota Medan yang tidak terawat, baik itu berbentuk bangunan, atau pun tugu-tugu monumen.Seperti halnya Monumen Perjuangan Kemerdekaan Nasional Indonesia, yang berada di Kawasan Lapangan Merdeka, terlihat tidak terawat. Bahkan, di sekitar area dipenuhi sampah, Senin (30/1/2017).

Menurut Adi yang sedang berolahraga di Lapangan Merdeka mengatakan, sampah yang ditinggalkan oleh para pengunjung, membuat nilai dan keindahan sejarahnya jelas berkurang.

"Aku rutin kemari, Bang. Kalau lari sore di sini, tidak pernah aku lihat itu bersih. Selalu jorok begitu. Orang yang buang sampah tidak menghargai sejarah," ucap Adi.

Ads
Pantauan GoSumut, tidak ada satu pun petugas kebersihan yang membersihkan area peninggalan monumen bersejarah itu.

Menurut Ichwan Azhari salah satu Sejarawan di Kota Medan mengatakan, dirinya sangat menyesalkan pemerintah, yang membiarkan monumen-monumen peninggalan bersejarah terbengkalai dan tak terawat.

"Itu bukti Pemko Medan, tidak merawat memori sejarah di Lapangan Merdeka," ucap Ichwan Azhari melalui telepon.

Dirinya juga sangat menyesalkan kepada pemerintah kota, yang hanya menerima pemasukan dari Merdeka Walk, tapi malah menelantarkan memori sejarah yang ada di Lapangan Merdeka tersebut.

Sebagaimana yang diketahui, monumen perjuangan di Lapangan Merdeka ini dibangun untuk mengenang perjuangan dari para pemuda yang mengibarkan sang saka merah putih secara resmi di Kota Medan, pada tanggal 6 Oktober 1945. Monumen ini diresmikan pada 9 Agustus 1986 oleh Almarhum Jenderal (Purn) Achmad Thaher.

Monumen ini mempunyai makna di tiap bagian fisiknya. Seperti pelataran 45 x 23,30 meter yang berarti tahun 1945, jumlah 17 anak tangga di bagian pelataran pertama pada sisi depan dan sisi kanan yang melambangkan tanggal 17, dan 8 anak tangga pada pelataran kedua menuju bangunan utama yang melambangkan bulan Agustus, serta puncak monumen yang terdiri dari lima bagian yang melambangkan sila-sila dari Pancasila.

"Achmad Thaher tahun 1945 adalah komandan yang mengawal pembacaan proklamasi di Lapangan Merdeka," ujar Ichwan di kutip dari facebooknya.
Editor:Fatih
Kategori:Umum, Peristiwa, Pemerintahan, Gonews Group, Medan
wwwwww