Home >  Berita >  Peristiwa
PON XIX Jawa Barat 2016

Kisruh PON, Giliran Cabor Renang Indah DKI yang Akan Laporkan Tuan Rumah ke FINA

Kisruh PON, Giliran Cabor Renang Indah DKI yang Akan Laporkan Tuan Rumah ke FINA
Manajer tim renang indah DKI Rudy Salahuddin Ramto (Foto: MTVN/Roni Kurniawan)
Kamis, 22 September 2016 19:11 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
BANDUNG - Tim renang DKI memutuskan walk out dari pertandingan di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 Jawa Barat karena adanya batasan usia yang dinilai tidak sesuai dengan aturan.

Kontingen DKI pun mundur dari pertandingan pertama nomor solo technical routine putri yang berlangsung di kolam renang FPOK UPI, Jalan Setiabudi Bandung, kamis 22 September.

Tim DKI tidak bisa mengikuti pertandingan karena adanya batasan usia dalam technical hand book (THB), yakni 26 tahun. Manajer tim renang indah DKI Rudy Salahuddin Ramto menegaskan, aturan pada THB tersebut tidak sesuai aturan yang telah disahkan oleh PB PRSI dan KONI Pusat.

"Bahkan surat keabsahan itu sudah dikeluarkan pada 15 September kemarin. Masa hanya dengan waktu dua hari bisa diubah lagi. Jadi ini memang ada permainan kalau saya lihat, THB itu memang sengaja, dengan alasan sudah dicetak, kami sudah bilang bahwa itu tidak sesuai," ujar Rudy kepada awak media sebelum perlombaan cabor renang indah nomor solo technical routine putri dimulai.

Ads
Bahkan, menurut Rudy, techinal delegated (td) pun mengatakan bahwa sudah menerima surat tersebut, dan itu tidak menjadi masalah. Namun, hanya kerena enam daerah lain mempermasalahkan, akhirnya dilakukan voting pada saat manajer meeting.

"Jadi tidak menegakkan aturan yang sudah dibikin oleh organisasi yang memiliki legalitas. Makanya sudah begitu mau dilakukan voting, sudah pasti kalah lah. Satu banding enam," kesalnya.

Dengan adanya masalah tersebut, kontingen DKI berencana akan melaporkan permasalahan itu hingga ke Federasi Aquatik/Renang Dunia (FINA).  Sebab, lanjutnya, pada pertandingan bertaraf internasional tidak ada peraturan pembatasan umur maksimal.

"Kami mundur di semua pertandingan. Kan ada 3 nomor.  Kami menyayangkan, pengorbanan anak-anak itu kan sudah bertahun-tahun. Mengorbankan sekolah, biaya, tenaga. Kalau hanya untuk pemaksaan kehendak egois daerah, bukan di PON lah mestinya," tukasnya.

"Kami akan lapor ke FINA. Semua akan kami tempuh dari PB PON, KONI. Bahwa aturan dari Ketum KONI dan PB PON tidak digubris," tegasnya. ***
www www