Regenerasi Pebalap Dinilai Lamban, Rifat Sungkar Siap Orbitkan Kaum Muda Lewat Pertamax Sprint Rally 2016

Regenerasi Pebalap Dinilai Lamban, Rifat Sungkar Siap Orbitkan Kaum Muda  Lewat Pertamax Sprint Rally 2016
Rifat Sungkar. (GoNews/Azhari)
Senin, 12 September 2016 17:14 WIB
Penulis: Azhari Nasution
SERANG - Regenerasi pembalap di Indonesia ternyata berjalan sangat lambat. Jumlah pembalap yunior yang muncul dan  berani bersaing dengan pembalap-pembalap senior di berbagai ajang balap nasional masih jauh dari yang diharapkan.

Kondisi ini tak luput dari perhatian pereli dunia asal Indonesia, Rifat Sungkar yang kini berprofesi sebagai promotor. Melalui ajang Pertamax Sprint Rally (PSR) 2016 'gawenya' bersama PT Pertamina, Rifat ingin  mengorbitkan pembalap-pembalap yunior.

Untuk itu, pihaknya lebih memprioritaskan pembalap yunior ketimbang pembalap senior. Langkah tersebut bertujuan untuk memberi kesempatan kepada pembalap-pembalap yunior unjuk gigi. Sehingga dapat mempercepat proses regenerasi pembalap di Indonesia.

"Regenerasi pembalap Indonesia itu lambat. Lambatnya setengah mati. Kenapa? Karena orang belum mencoba sudah menyerah," ujar Rifat saat ditemui GoNews.co, disela-sela kejuaraan Pertamax Sprint Rally seri II yang digelar malam hari, di Sirkuit Tembong Jaya Serang, Banten, akhir pekan kemarin.

Ads
"Karena itu saya tidak meprioritaskan mereka yang senior tapi saya memprioritaskan mereka yang junior. Kalau di event saya ini ibaratnya 'diceburkan' saja dulu. Balapnya lihat saja nanti. Kita buat sistematika yang memudahkan," imbuhnya.

Rifat menjelaskan lazimnya ada tiga kualifikasi pembalap dalam balapan yakni pembalap senior, junior dan pemula namanya seeded A, seeded B sama non seeded. Namun di PSR 2016, lewat inovasi yang trengginas Rifat menciptakan sistematika yang membuat para pembalap di tiga tingkatan tersebut berkompetisi.

"Di event saya seeded A kena 2 detik perkilo meter,  seeded B kena 1 detik perkilo meter sedangkan non seeded 0. Jadi  kalau 5 kilo meter non sidit punya tabungan 10 detik, maia seeded A nya tidak boleh lengah tetap pol juga gas nya. Semuanya tetep pol karena di press oleh status diri masing-masing. Dan sistematika ini berjalan dengan sangat baik. Mendorong semuanya ke atas," papar putra promotor otomotif kenamaan Helmy Sungkar ini.

"Jadi terjadilah kompetisi yang menarik," tandasnya.

Selain memberi kelonggaran dari sisi aturan lomba, Rifat juga membuka kelas-kelas lomba untuk mobil cc rendah. "Saya tuh hanya bikin tujuh kelas, grupnya itu di bawah 1600 dan di atas 1600. "Semudah itu. Jadi mobilnya apa, 1600 oke. Tarikan depan tarikan belakang atau Jeep 4x4. Progresn bagus, antusiasme dan konsistensi peserta luar biasa," tuturnya.

Orbitkan Pembalap Yunior

Rifat melanjutkan, dalam rangka memberi peluang pembalap yunior untuk berkiprah. Pihaknya akan melombakan kelas Jeep JR 2. 

"Di kelas ini peserta kita bebaskan, boleh memakai mesin apapun. Pokoknya yang terpenting mereka mau ikut dulu," jelas Rifat.

"Karena untuk  tarikan dua roda belakang itu bagaimana skillnya,  bukan bagaimana mesinnya. Misalkan jeep 4x4 popel depannya cabut saja tidak apa-apa.  Semudah itu lah, ayo kita having fun agar meriah kompetisinya," tambahnya.

Rifat menegaskan pihaknya sengaja memudahkan aturan.

"Bikin gampang semuanya. Aturannya juga peserta telat lapor 1 menit biasa kena 10 detik atau kecepatan 1 menit kena 1 menit. Di sini tidak demikian telat lapor 1 menit cukup 2 detik saja. Kita maafkan, yang penting mereka ikut serta. Pokoknya semuanya gampang saja deh. Lagi pula, pertandingan itu di SS bukan di kartu kontrol," tegasnya.

Rifat menekankan seluruh inovasi yang dilakukannya bertujuan untuk merangkul orang-orang yang belum balap untuk jadi pembalap. Sasarannya bukan hanya dari kalangan 'berduit' tetapi juga anak-anak kampung. 

"Kita akan lombakan kelas promosi. Dengan uang pendaftaran Rp 300 atau 400 ribu kita ajak mereka balapan. Pendaftarannya juga akan relatif lebih mudah. Saya akan pikirkan sistematikanya. Intinya kita mau orbitkan mereka," terangnya.

"Pemenangnya akan kita kasih hadiah berupa fasilitas dan ilmu. Kita akan berikan media ecperience. Kita sekolahkan dia Public Relation. Kita persiapkan dia jadi pembalap sesungguhnya bukan hanya pintar nyetir," imbuhnya.

Nantinya pembalap yunior yang berhasil diorbitkan diharapkan dapat menularkan pengaruh positif kepada kalangan anak-anak muda agar tertarik menjadi pembalap. Rifat mengaku target tertinggi dari upaya dan inovasi yang dilakukan adalah untuk mencari pengganti dirinya di masa yang akan datang."Karena itulah PSR kita fokuskan untuk pembibitan," tukasnya.

Demi memuluskan rencananya untuk melahirkan penerus, Rifat bahkan sampai rela mengurangi frekuensi balapan di luar negeri. 

"Balapan di luar negeri 1-2 kali saja, setidaknya untuk menunjukkan kalau kita masih eksis. Sebab ada yang lebih penting yakni rombongan di belakang saya yang perlu diperhatikan. Agar kelak ada yang menggantikan saya," ujarnya. ***
Editor : Muslikhin Effendy
Kategori : Gonews Group, Peristiwa, Olahraga
www www