Home >  Berita >  Umum

Layanan Psikolog di Fasyankes, Dinkes Medan: Itu Sudah Dihandle Tenaga Medis

Layanan Psikolog di Fasyankes, Dinkes Medan: Itu Sudah Dihandle Tenaga Medis
Ketua PPNI Kota Medan Farida Aruan (kanan) menyerahkan cenderamata kepada Sekretaris Dinas Kesehatan Medan Irma Suryani usai pencanangan izin praktik mandiri bagi perawat. (Analisa/Mahjijah Chair)
Senin, 29 Agustus 2016 16:45 WIB
Penulis: Fatih Al Rizki
MEDAN - Usulan Direktur Minauli Consulting, Irna Minauli, agar BPJS Kesehatan mengkaver pelayanan psikolog di fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes), merupakan ide yang bagus. Apalagi, saat ini, Dinas Kesehatan Kota Medan memiliki anggaran puluhan miliar rupiah untuk menanggung kesehatan masyarakat dengan meluncurkan program Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan Medan Sehat (JPKMS) yang sat ini sudah terintegrasi ke BPJS Kesehatan.Sebagaimana yang dikatakan Irna Minauli, stres dapat menurunkan daya tahan tubuh (imunitas) seseorang. Bahkan, penderita penyakit berat seperti kanker atau penyakit lainnya, cenderung akan mengalami depresi.

Begitupun, sebut Sekretaris Dinkes Medan, Irma Suryani, kalau stres yang dialami pasien, secara level di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), itu bisa dihandle tenaga medis yang ada di pelayanan kesehatan tersebut.

“Karena untuk urusan di 155 penyakit, salah satu yang dihandle yakni depresi. Sepanjang pengalaman, yang namanya pasien berobat, kita juga melakukan komunikasi. Contoh, kalau orang yang mengalami masalah lambung, stres sedikit gampang terpancing sakit lambungnya,” ujar Irma, Senin (29/8/2016).

Kalau orang dengan keluhan lambung, kata Irma, dokter atau para medis (perawat) yang ketemu dengan pasien ini, tentunya mereka akan mewanti-wanti dengan membangun komunikasi.

“Bu, banyak pikiran ya?Jadi, (hal-hal seperti itu yang kita komunikasikan). Kita itu dalam merawat pasien tidak terkotak-kotak. Kita melihatnya secara keseluruhan. (Dalam memberikan pelayanan), kita juga support, motivasi (pasien agar cepat sembuh),” jelasnya.

Menurut Irma, kalau dibutuhkan tenaga ahli seperti psikolog ataupun konsultan di FKTP, sepanjang itu baik, kenapa tidak dilaksanakan. Namun, hal ini kembali lagi dari ketersediaan anggaran.

Ads
“Tapi, karena kondisi kita tidak punya tenaga yang memadai, kita maksimalkan saja tenaga yang sudah ada. Kenapa? Karena dokternya, perawatnya, ataupun bidan, kan memang kita dibekali ilmu psikolog. Karena itu satu bagian
yang utuh, tidak terpisah-pisah. Hati, pikiran, badannya itu, satu,” jawabnya.

Memang, kata Irma, pendapat seorang psikolog tentang stres dapat menurunkan daya tahan tubuh, itu memang benar adanya. “Kita kan juga ada ilmu ekonomis dan efektif. Kalau tenaganya cukup, boleh. Tapi kalau tenaganya tidak cukup, (yang ada) saja dioptimalkan. Makanya ke depan, salah satu program yang sedang dikembangkan Kemenkes itu adalah program kesehatan jiwa,” timpalnya kembali.

Caranya, kata Irma, dengan memanfaatkan tenaga kesehatan yang ada untuk melaksanakan program tersebut. “Kemenkes saat ini sedang menyusun standar minimal yang baru. Belum disahkan. Dalam standar itu, ada program kesehatan jiwa,” tuturnya.

Editor : Arif
Kategori : Umum, Pemerintahan, Gonews Group, Medan
www www