Udang Kecepe Banjir di Aceh Singkil, Perekonomian Masyarakat Meningkat

Udang Kecepe Banjir di Aceh Singkil, Perekonomian Masyarakat Meningkat
Masyarakat menjemur udang hasil jaringannya, untuk memenuhi pesanan udang kering di Aceh Singkil
Kamis, 04 Agustus 2016 19:17 WIB
Penulis: Helmi

SINGKIL - Rezeki selalu datang tiba-tiba dan tanpa diduga-duga. Sama seperti rezeki musiman yang datangnya hanya saat-saat tertentu. Begitu pula dengan rezeki masyarakat pesisir ini. Saat pemusim udang baring atau udang sabu (udang kecepe), yang hanya singgah setahun sekali.

Saat banjir udang baring ini, masyarakat pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menangguk udang sebanyak-banyaknya dan meninggalkan aktivitas rutinnya seperti berdagang atau para pekerja yang tidak terikat.

Sebab, udang baring ini banyak diburu, baik masyarakat lokal maupun luar daerah. Olahan terasi hasil udang baring Aceh Singkil khususnya Desa Kayu Menang Kecamatan Kuala Baru sangat banyak diburu peminatnya dan sudah dikenal sampai luar daerah.

Salah satu pedagang di kawasan Gosong Kecamatan Singkil Utara Kabupaten Aceh Singkil, Yardi (45) kepada GoAceh, Kamis (4/8/2016) mengaku bersyukur saat musim banjir udang baring.

Ads
Katanya, kebutuhan keluarganya sangat terbantu dari hasil penjualan udang tersebut, karena lebih mudah dan cepat pemasarannya. "Banyak peminat udang ini, terkadang ada juga memesan yang masih basah," ujarnya sambil sibuk membalik-balik udang yang sedang dijemur.

Jika musimnya tiba, mayoritas masyarakat pesisir di Kabupaten Aceh Singkil, di antaranya, Singkil Utara, Singkil dan Kuala Baru Desa Kayu menang yang di kenal sebagai daerah penghasil terasi itu, terus memusatkan aktivitasnya di kawasan tepi pantai untuk mengumpulkan udang.

Alat tangkap yang di pakaipun, berbahan jaring yang sudah dirancang berbentuk kerucut agar mangsa bisa lebih mudah terperangkap.

Apalagi pengolahannya pun terbilang mudah. Untuk penjualan udang hanya melalui proses penjemuran. Ada juga yang membeli basah dengan harga relatif sesuai kebutuhan, bisa Rp5 ribu atau Rp10 ribu.

Namun, jika yang sudah kering atau sudah diolah menjadi terasi, bisa mencapai Rp50 sampai Rp60 ribu perkilo gram. "Lagi musim udang sabu sudah empat hari ini, kalau mau datang," tambah warga Gosong Telaga, Riduan kepada GoAceh.

Di tempat berbeda, masyarakat Gosong Telaga Barat Kasmudin, juga mengaku selalu membuat terasi dengan gotong-royongkan bersama keluarga. Terutama saat menumbuk udang menjadi halus menggunakan perlengkapan tradisional, lesung. Proses penumbukan itulah memerlukan tenaga ekstra sehingga dilakukan bersamaan.

"Tiap kilogramnya terasi udang sabu dijual Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. Jika beli dalam jumlah banyak pengrajin bersedia mengurangi harganya," ujar Kasmudin yang mengaku banyak mendapat pesanan terasi dari luar daerah.

Proses pembuatan terasi udang ini pun cukup mudah. Setelah dibersihkan udang sabu dijemur kering, lalu ditumbuk di lesung hingga setengah halus. Lalu dijemur kembali sampai kering. Proses terakhir masuk kembali ke lesung dan campur air sedikit kemudian tumbuk sampai menyatu hingga mudah dibentuk sesuai ukuran yang diinginkan.

Editor : Kamal Usandi
Kategori : Gonews Group, Ekonomi
www www