Home >  Berita >  Umum
Menelusuri Jejak Narkoba Indonesia

Pengakuan Terpidana Mati Freddy Budiman Lewat Harris Azhar Sedikit Mirip dengan Adegan Film American Gangster

Pengakuan Terpidana Mati Freddy Budiman Lewat Harris Azhar Sedikit Mirip dengan Adegan Film American Gangster
Freddy Budiman
Minggu, 31 Juli 2016 12:36 WIB
Penulis: Hermanto Ansam
JAKARTA - Anda pernah menyaksikan film American Gangster? Alur cerita masuknya narkoba terbaik Vietnam ke Amerika yang melibatkan banyak jenderal dan pejabat tinggi negara di negara adikuasa itu, ternyata juga bisa terjadi di Indonesia.American Gangster merupakan sebuah film kriminal yang dirilis pada tahun 2007. Film ini disutradarai oleh Ridley Scitt. Pemain utamanya di film ini ialah Denzel Washington, Russell Crowe, Chiwetel Ejiofor, Josh Brolin, dan Lymari Nadal. Dirilis pada 2 November 2007.

Dalam film itu digambarkan bagaimana keterlibatan para jenderal dari Angkatan Udara Amerika dan pasukan Amerika di Vietnam memuluskan masuknya narkoba terbaik Vietnam ke Amerika melalui pangkalan udara militer, lalu diamankan oleh para polisi untuk sampai ke tangan pengedar.

Jika benar apa yang disampaikan Freddy kepada Koordinator Kontras Harris Azhar bahwa bisnis narkobanya juga melibatkan petinggi Polri dan TNI, sungguh Indonesia dalam bahaya, karena jika menyimak film American Gangster, kualitas narkoba yang masuk pastilah kelas wahid yang bisa menghancurkan generasi muda.

Ads
''Curhatan atau celotehan Freddy Budiman yang dituturkan ulang oleh Koordinator Kontras Haris Azhar merupakan persoalan serius dan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dalam hal ini keseriusan Presiden Joko Widodo dalam memberantas segala macam yang bersangkutan dengan narkoba. Persoalan bandar dan terlibatnya beberapa oknum pejabat harus mendapatkan perhatian besar dari presiden,'' ujar Rozak Asyahri dari Pusat Advokasi Hukum dan HAM (Paham) Indonesia, Sabtu, (30/07/2016).

"Komitmen anti narkoba tidak hanya bisa dibuktikan dengan melakukan eksekusi mati terhadap para bandar narkoba, ini yang harus benar-benar diperhatikan oleh pemerintah" katanya.

Dirinya juga mengingatkan, agar publik juga tidak membully Harris Azhar. "Setidaknya diselidiki dulu, apakah ini memang benar atau salah, jangan dibully lah, kan bisa ditelusuri, kalau benar gimana," tanya Rozaq.

Rozaq menegaskan, jika ocehan Freedy Budiman itu benar, oknum penegak hukum, TNI, bea cukai hingga sipir yang turut serta membantu peredaran narkoba juga harus ditindak. "Ini kan seperti pagar makan tanaman, oleh karenanya Presiden perlu turun tangan untuk menunjukkan komitmennya dalam memberantas narkoba," kata kandidat doktor dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia tersebut.

Menurutnya, uang yang diberikan Freddy kepada aparat itu adalah suap, dan dampaknya negara Indonesia dibanjiri oleh narkoba. "Seharusnya KPK juga serius menanggapi informasi ini. Karena kerugian bukan hanya materiil, ini berkaitan nyawa puluhan orang yang mati setiap harinya. Lebih penting dari itu ini menyangkut masa depan bangsa," demikian Rozaq.

Dirinya juga mengapresiasi Kepolisian dan pihak BNN yang tidak serta merta membully Azhar, bahkan memberikan tanggapan yang mendinginkan susasana. "Ya tapi apapun itu, jika benar pihak Kepolisian dan BNN harus benar-benar tegas. Jangan lagi ada toleransi," pungkasnya.

Sebelumnya, Koordinator Kontras, Haris Azhar dalam Konfrensi persnya kembali menegaskan apa yang telah ditulisnya tentang pertemuannya dengan terpidana mati Freddy Budiman adalah hal yang benar. Bahkan iapun berujar siap membuktikan tulisanya itu.

Haris juga siap mempertanggung jawabkan apa yang disampaikannya kepada publik. Tulisan Haris sendiri sudah diposting di website Kontras dan tersebar di seluruh media sosial maupun media online.

"Tulisan tersebut saya bikin, saya susun baru pada hari Senin yang lalu. Saya dapati (pertemuan dengan Freddy Budiman) pada tahun 2014 di tengah masa kampanye pilpres, saya berkesempatan diundang salah satu pelayanan rohani suster Royani," cerita Haris saat menggelar Konfrensi Pers di Kantor Kontras, Jakarta, Jumat, (29/7/2017).

Dia menjelaskan, setelah bertemu dengan pimpinan LP di Nusakambangan bernama Sitinjak, lalu ia bertanya soal tantangan memimpin Lapas Nusakambangan. Kemudian, datanglah pejabat BNN yang Haris tidak tahu apa jabatannya, kemudian menanyakan kepada Sitinjak perihal dua kamera pengawas di sel Freddy Budiman dan John Kei.

"Ada juga cerita bagaimana misalnya duit untuk LP harus dikurangi dalam jumlah yang signifikan sampai puluhan juta karena digunakan untuk kampanye pilpres 2014," kata Haris.

Dalam pertemuannya dengan Fredi Budiman, Haris mendapatkan informasi Freddy membeberkan bagaimana praktek peredaran narkoba dia selama ini. Fredi, kata Haris, bahkan menyebut ada orang BNN, Polri dan juga petingg TNI yang mobilnya digunakan untuk membawa narkoba.

"Petinggi TNI itu bersama dia (Fredi) mengangkut narkoba," kenangnya.

Ditanya soal tanggapan BNN dan ajakan Mabes Polri untuk mengkaji serta mendalami tulisanya tersebut, Harris juga mengaku siap.

"Memang pihak Mabes sudah menghubungi saya, dan saya rasa sah-sah saja. Jika memang pihak Kepolisian ingin secara detail saya akan beberkan," aku Harris kepada GoNews.co, Jumat (29/07/2016) malam.

Namun Harris belum mengaku belum bisa memastikan kapan pertemuan itu akan berlangsung. ***

Kategori : Umum
www www