Ini Cerita Legenda Si Boko Nan Durhaka, Asal Muasal Lima Pulau di Sungai Pisang

Ini Cerita Legenda Si Boko Nan Durhaka, Asal Muasal Lima Pulau di Sungai Pisang
Salah satu dari lima pulau nan eksotis di Sungai Pisang, Kota Padang. (Humas Padang)
Jum'at, 15 Juli 2016 10:48 WIB
Penulis: Charlie Ch Legi
BISA JADI tidak banyak yang tahu dengan cerita yang satu ini. Legenda "Si Boko" yang durhaka itu merupakan asal muasal lima pulau yang ada di Sungai Pisang, Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Bagaimana kisahnya?

Cerita legenda ini didapatkan Humas dan Protokol Kota Padang dari salah seorang tokoh masyarakat yang ada di daerah itu. Di sela-sela kunjungan Safari Ramadhan Walikota Padang di daerah tersebut, S. Datuak Rajo Lenggang menceritakan kisah tersebut.

Syahdan, Boko merupakan lelaki muda tanggung yang ingin hidup berkecukupan. Berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, akhirnya Boko memilih untuk mencoba mengadu peruntungan di negeri seberang. Boko berpamitan kepada ibundanya. Dengan berat hati, ibunda melepas kepergiannya ke rantau orang. Di dalam hati, Boko bertekad akan meraih mimpi yang selama ini diidam-idamkannya.

Berlayarlah Boko menuju rantau. Tanpa bekal cukup. Di rantau, Boko bekerja keras. Hingga akhirnya sukses dan hidup berkecukupan. Suatu hari, Boko bersama awak kapalnya berlayar menuju Sungai Pisang. Boko tak menyangka kapalnya singgah di kampung halamannya. Kedatangan Boko diketahui ibundanya.

Ads
Dengan perasaan yang bercampur aduk, ibunda Boko berlari ke tepi pantai. Begitu melihat anaknya dari kejauhan, air matanya jatuh bercucuran. Boko terlihat tampan dengan pakaian mewah. Hatinya girang melihat anaknya telah sukses mengadu peruntungan di negeri orang. Hal ini membuat ibunda Boko ragu untuk mendatangi anaknya itu. Namun dengan keberanian dan naluri keibuan, si ibu menemui anaknya ke atas kapal. Boko kemudian dipeluk.

Boko lantas merasa kaget ketika dipeluk. Boko kemudian mendorong ibunya. "Kamu siapa?" tanya Boko dengan nada keras. "Saya ibumu, Nak, apakah kamu lupa?" jawab si ibu sambil terus menangis.

Boko menepis tangan ibunya. Sehingga ibunya pun tercampak. "Kamu bukan ibuku. Ibuku tidak tua renta dan lusuh seperti kamu!" hardik Boko. Kapal kemudian menepi di sebuah pulau karena Boko memerintahkan awak kapal untuk menurunkan ibunya di pulau dimaksud. Saat di pulau itu, ibunda Boko kembali menegaskan bahwa dirinya adalah ibu kandung Boko. Lagi-lagi Boko mengelak mengakui bahwa wanita tua itu ibunya.

"Saya ibumu, Boko! Saya berani bersumpah di pulau ini bahwa aku adalah ibumu!" sebut ibunya dengan nada meninggi.

Seketika angin laut semakin kencang. Badai datang. Riak laut berganti ombak besar yang mengombang-ambing kapal milik Boko. Namun begitu, Boko tetap tidak mengakui ibunya.

Seketika alam murka. Hujan deras disertai badai turun dari langit. Kapal Boko pecah di tengah laut. Isi kapal tumpah di perairan. Ibunda Boko terbawa ombak besar. Termasuk Boko beserta awak kapalnya. Ibunda Boko kemudian terdampar di sebuah pulau yang tak jauh dari tempatnya bersumpah tadi. Di pulau itu Ibunda Boko murka bak setan.

"Saya ibumu Boko!," teriak ibunda Boko dengan lantang. Sementara di pulau lain yang tak jauh dari lokasi itu, warga pun terdengar "berkuai-kuai". Menghardik keras dan meminta tolong atas kejadian alam yang berlangsung saat itu.

Sementara, suara Boko yang dari tadi lantang menepis kebenaran ibunya, mulai tak terdengar lagi. Hanya, isi kapalnya yang terus ke tengah laut. Peti berisi emas yang diangkut Boko tumpah. Begitu juga kapal dan isinya seperti kancah yang sedang "tajarang" (di atas tungku) dan lainnya ikut terbawa air laut.

Setelah kejadian itu, alam terlihat tenang dan damai. Ketika memandang ke laut, ombak terlihat begitu tenang. Namun ada perubahan di perairan, lima pulau membentang di depan Sungai Pisang. Di tempat ibu Boko bersumpah tadi terdapat pulau yang akhirnya dinamakan Pulau Pasumpahan. Kemudian tak jauh dari itu, sebuah pulau yang dinamakan Pulau Setan merupakan tempat Ibu Boko kerasukan dan murka terhadap anaknya.

Pulau lain yang tak jauh dari itu dinamakan Pulau Sikuai, tempat warga "berkuai-kuai" ketika alam murka atas perilaku Boko. Kemudian pulau lain yang dinamakan Pulau Peti adalah bekas peti emas milik Boko yang berubah menjadi pulau. Sedangkan Pulau Batu Jarang bermuasal dari kancah-kancah yang "terjarang" di atas kapal Boko. (disarikan kembali oleh Charlie Ch. Legi)
Editor : Calva
Kategori : Gonews Group, Umum
www www