Home >  Berita >  Hukrim

ASITA Sumbar: Selama Libur Panjang, 50 Miliar Uang Masuk ke Sumatera Barat

ASITA Sumbar: Selama Libur Panjang, 50 Miliar Uang Masuk ke Sumatera Barat
Ketua DPD Asita Sumbar Ian Hanafiah.
Selasa, 10 Mei 2016 14:38 WIB
Penulis: Calva
PADANG - Libur panjang peringatan Isra Mi'raj dan Kenaikan Isa Almasih, pekan lalu, membawa berkah bagi Sumatera Barat, terutama di bidang industri pariwisata. Diperkirakan sebanyak 50 miliar rupiah uang beredar di Sumbar.

Analisis ini dikatakan Ketua ASITA Sumbar Ian Hanafiah pada GoSumbar.com, Selasa (10/5/2016), sehubungan ramainya kunjungan wisatawan selama liburan ke Sumbar pekan lalu.

Ian menyebutkan, uang yang berputar di Sumbar ini, terutama dalam bisnis perhotelan, daerah wisata, pusat perbelanjaan barang dan kuliner, serta pedagang kaki lima di kawasan lokasi pariwisata.

DPD Asita Sumbar, mencatat di saat libur panjang pekan lalu, 90 persen hotel dan penginapan di Padang dan Bukittinggi berisi wisatawan domestik dan mancanegara. Dengan total jumlah kamar 5.000 unit.

Ads
Selain itu, kata CEO Ero Tour ini, diperkirakan Rp50 miliar uang berputar selama libur panjang 5-8 Mei 2016 lalu. Dengan estimasi wisatawan domestik yang masuk Sumbar 20 ribu orang, dengan menggunakan jasa paket perjalanan wisata minimal Rp1,5 juta (termasuk hotel, transport dan makan) per orang selama empat hari tersebut.

"Selama empat hari tersebut, destinasi yamg menjadi favorit adalah wisata pantai, kepulauan, danau, wisata budaya, sejarah dan taman air atau water park, dan jembatan kelok sembilan," ujar Ian.

Ian mengungkapkan, destinasi pilihan terletak di Padang, Bukittinggi, Tanah Datar, Payakumbuh, Pesisir Selatan dan Pariaman. Dari sisi perekonomian, mayoritas wisatawan domestik memfavoritkan paket kuliner dan oleh-oleh. Sedangkan potensi baru dari wisatawan yang masuk ke Sumbar merupakan warga Tionghoa dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Medan.

"Sebagian besar mereka adalah orang berduit dan length of stay lebih panjang karena mereka tidak terganggu aturan kantor," ujar Ian.  

Peningkatan tersebut seiring dengan beberapa kemajuan seperti berkurangnya pemalakan di lokasi wisata, seperti yang kerap terjadi di Pantai Padang.

Juga seiring dengan banyaknya sektor ekonomi yang terangkat dari usaha mikro, kecil, dan menengah, transportasi, kuliner dan masyarakat di destinasi wisata. Namun masih terdapat kelemahan dari sisi infrastruktur.

"Minimnya toilet, tempat sampah, kurangnya kebersihan di sebagian besar destinasi juga menjadi hal yang penting diperhatikan pemerintah," ucap Ian lagi.

Asita mengingatkan, pemangku kepentingan di Sumbar juga harus menyiapkan lahan untuk rest area atau area istirahat, terutama rute Padang ke Bukittinggi, Painan Pesisir Selatan, dan Padang Solok. (***)
Kategori : Hukrim, Gonews Group
www www