Perajin Sepatu Lokal Keluhkan Serbuan Produk Impor

Perajin Sepatu Lokal Keluhkan Serbuan Produk Impor
Seorang perajin sepatu dan sandal di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor sedang merapikan sepatu-sepatu yang siap dijual ke toko grosir, Senin (15/2/2016). Di tengah ancaman persaingan bisnis dengan produk dan merk terkenal, para perajin sepatu dan sandal d
Rabu, 04 Januari 2017 08:30 WIB
BOGOR - Para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) alas kaki di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor Jawa Barat mengeluhkan banyaknya produk sepatu impor yang membuat sepatu buatan IKM lokal kalah saing dipasaran.Kepala Koperasi Sandal Sepatu Bogor (Kosebo) Mamun mengatakan, IKM di wilayah Desa Mekar Jaya, Kecamatan Ciomas Bogor telah ada sejak tahun 1969 yang hingga kini usaha tersebut menjadi turun-menurun.

Namun, seiring perkembangan zaman dan persaingan di era globalisasi, IKM di kawasan tersebut mengalami pasang surut pesanan sepatu dari pelanggan.

Dia mengeluhkan, saat ini kondisi pasar sepatu lokal kurang memihak kepada pelaku IKM Ciomas, sebab, salah satu lapak atau pusat perdagangan sepatu di Bogor yaitu pasar Anyar tidak lagi menguntungkan bagi kalangan IKM alas kaki Ciomas.

Dia menegaskan, hal ini terjadi karena produk lokal kalah bersaing dengan produk impor yang membanjiri pasaran.

"Di sini yang (pusat) terbesar di Indonesia cuma di Pasar Anyar. Sepatu (dari) China juga dijual di Pasar Anyar, sekarang lebih dari separuhnya. Gara-gara itu (pengusaha) banyak yang mati suri," keluh Mamun saat kunjungan kerja Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ke IKM Ciomar Bogor, Selasa (03/01/2017).

Dia mengakui, secara kualitas memang sepatu impor lebih memiliki kualitas dan harga yang murah jika dibandingkan produk lokal.

"Karena kualitas (sepatu China) lebih bagus dan lebih murah. Mereka kerja gunakan mesin, kalau kami kan handmade," paparnya.

Mamun menambahkan, selain persoalan daya saing produk IKM yang menjadi persoalan pengembangan IKM di Ciomas adalah akses permodalan dan juga akses pasar terhadap produk.

"Jadi yang dibutuhkan itu pemasaran, modal pun kalau nggak ada pesan ya percuma, mau dikasih modal besar juga percuma, hanya akan memperluas kemiskinan," kata dia.

Sebab bunga bank setiap bulan jalan terus, kalau kita enggak bisa mengelola buat apa, ada modal tapi nggak ada orderan (pesanan). Jadi yang diinginkan itu pesanan yang pasti, baru ditunjang dengan modal."

Selain itu, dirinya berharap kedepan pemerintah sebagai pemangku kepentingan agar membantu para pelaku IKM dapat mengembangkan bisnisnya, salah satunya dengan kebijakan yang memberikan akses pasar dan peningkatan pesanan.

"Yang diharapkan itu Peraturan Daerah (Perda) dikeluarkan, PNS, Pelajar di sini pakai produk Ciomas, udah dengan itu bisa hidup semua," lanjut dia.

"Jadi bukan cuma tempat dan modal saja, karena tempat sekarang tidak menjamin dapat order. Makanya harus ada pesanan. Insya Allah kami bisa bikin, dengan kualitas dan garansi."

Berdasarkan data Kemenperin pada tahun 2012 impor produk alas kaki 387 juta dollar AS, angka tersebut naik 8,5 persen dari tahun sebelumnya sebesar 357 juta dollar AS.







Ads
Editor:Sisie
Sumber:kompas.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww