Benteng Sorawolio yang Eksotis dan Penuh Misteri

Benteng Sorawolio yang Eksotis dan Penuh Misteri
Nampak dari depan Benteng Sorawolio di Kelurahan Bukti Wolio Indah, Kecamatan Wolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Terlihat dari depan pohon tua yang tumbuh di atas batu benteng tersebut.
Kamis, 22 Desember 2016 14:30 WIB

BAUBAU - Bila Anda menuju ke Kelurahan Bukit Wolio Indah, Kecamatan Wolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, maka anda akan menemukan dua benteng kecil yang berdiri dengan tegak dan kokoh.

Kedua benteng tersebut jaraknya tidak terlalu berjauhan. Bagi masyarakat Kota Baubau, kedua benteng tersebut dinamakan Benteng Sorawolio yang sama-sama terbuat dari batu karang dengan perekatnya menggunakan putih telur ayam.

Kedua benteng tersebut ukurannya tidak teralu besar, mempunyai ketebalan sekitar satu meter dengan tinggi benteng tersebut mencapai sekitar 6-7 meter.

Seorang penjaga benteng, La Ade (50), mengatakan, kedua Benteng Sorawolio ini dibuat pada masa Sultan Buton XIX yakni Sultan Sakiyuddin Darul Alam pada tahun 1712-1750. Benteng tersebut berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan Belanda dan juga perampok.

Ads
“Dahulu ada yang tinggal di dalam benteng ini, namun sekarang sudah tidak lagi. Di dalam benteng terdapat kuburan yang sudah lama ada,” kata La Ade, Rabu (21/12/2016).

Di dalam kedua benteng terdapat tanah yang datar dengan ukuran yang tidak terlalu luas. Namun ada beberapa bagian dinding di Benteng Sorawolio kedua tersebut mengalami kerusakan akibat pohon yang hidup di atas benteng.

“Pernah suatu hari ketika saya lagi pergi ke daerah benteng, tiba-tiba saya melihat sosok yang besar tinggi dan hitam. Kemudian sosok tersebut mengangkat badan saya langsung dibuang dan dibanting di tanah,” ujarnya.

Memang, keberadaan pohon tua dengan batu benteng yang sudah dimakan usia menimbulkan daya magnet yang kuat serta penuh misteri terhadap benteng tersebut.

Walaupun demikian, lanjut La Ade, benteng tersebut tetap dikunjungi warga yang ingin melihat benteng dari dalam. Jarak kedua benteng tersebut sekitar 1 kilometer dari benteng utama Keraton Kesultanan Buton.

“Dulu ada masjid di dalam benteng ini. Karena dimakan usia, sekarang hanya sekarang hanya menyisakan batu tempat pijakan masjid saja,” ucap La Ade.

Editor:Wie Dya
Sumber:Kompas.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww