Sang Duta Anti-Narkoba, Pemuda Mandiri dari Pedalaman Nisam

Sang Duta Anti-Narkoba, Pemuda Mandiri dari Pedalaman Nisam
Azwar Anas
Jum'at, 02 Desember 2016 14:30 WIB
Penulis: Sarina

Belum lama ini, Azwar Anas, pemuda pedalaman Aceh Utara, tepatnya dari Blang Dalam Geunteng, Kecamatan Nisam, terpilih sebagai Duta Anti-Narkoba Kota Lhokseumawe tahun 2016.

Pastas saja, sosok pria mandiri ini menyandang duta tersebut. Putra bungsu dari pasangan Teuku Ilyas dan Cut Rubiyah ternyata selain mandiri juga banyak menoreh prestasi mulai bangku sekolah hingga ke perguruan tinggi.

Azwar, menempuh jenjang pendidikan di SDN 3 Nisam lulus tahun 2005, SMPN 1 Nisam lulus tahun 2008, SMAN 1 Nisam lulus tahun 2011, dan STAIN Malikussaleh Lhokseumawe lulus tahun 2015.

Saat di bangku kuliah, pemuda kelahiran 15 Januari 1993 ini, merupakan salah seorang mahasiswa cum laude lulusan STAIN (UIN sekarang) Malikussaleh Lhokseumawe pada 2015.

Ads
Prestasi-prestasi yang pernah diraih Azwar, ketika di bangku sekolah SMA sering mendapatkan juara umum. Kemudian, semasa kuliah lulus dengan indeks prestasi komulatif (IPK) mencapai 3.83.

Selain prestasi akademik, Azwar juga meraih juara II lomba menulis karya ilmiah tingkat STAIN. Kemudian, juara I  lomba referensi buku dan juara I lomba kreatif mahasiswa tingkat STAIN pada tahun 2014.

 “Selain itu, saya juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai guru teraktif di sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, menjadi Wakil II Agam Aceh Utara dalam pemilihan Duta Wisata tahun 2016, dan menjadi juara I sebagai Duta Anti-Narkoba Lhokseumawe pada tahun 2016,” cerita Azwar.

Sementara dalam kehidupannya, Azwar kini adalah anak mandiri usai tinggal pergi sang ayah untuk selamanya pada 2014. Bahkan keluarganya juga tergolong menengah ke bawah.

“Saya berasal dari keluarga menengah ke bawah. Ayah saya dulu bekerja sebagai seorang pedagang, dan ibu saya hanya sebagai ibu rumah tangga. Namun, pada tahun 2014, ayah saya meninggal dunia,” ungkap Azwar kepada GoAceh, Rabu (30/11/2016).

Awalnya Azwar menempuh pendidikan dengan dibiayai oleh orangtuanya. Namun, setelah ayahnya meninggal dunia, biaya kuliahnya harus ditanggung sendiri.

“Mungkin, untuk saya dalam menempuh jenjang pendidikan sangat sulit dan penuh tantangan. Karena, setelah ayah saya meninggal, biaya kuliah saya tanggung sendiri, segala aktivitas yang menghasilkan uang saya lakukan. Dan dari hasil jerih payah, saya membangun sebuah kedai foto kopi untuk biaya saya sehari-hari,” katanya.

Pun demikian, Azwar sedikit mendapat kemudahan dalam perkuliahannya, karena dia menjadi salah satu penerima beasiswa dari PT Arun. “Setelah saya lulus sarjana ini, saya bercita-cita agar bisa kuliah di luar negri. Namun, saya hanya bisa bersabar dulu,” katanya seraya menyebut keluarganya selalu mendukungnya.

Sementara kini, rutinitas Azwar sekarang, selain sebagai duta anti-narkoba, dirinya, juga salah seorang guru Matematika di sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Sebelumnya, Azwar juga pernah menjadi asisten dosen di kampus STAIN. Karena, syarat menjadi dosen harus berijazah magister,  Azwar tidak bisa melanjutkan pengabdiannya di kampus.

“Sekarang yang saya harapkan, bisa sesegera mungkin melanjutkan pendidikan saya ke luar negeri, karena bayangan sudah ada, tinggal bersabar dan menunggu waktu aja untuk melanjutkannya,” tutur Azwar Anas.

Editor:Kamal Usandi
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww