Militer Myanmar Persenjatai Warga Budha Hadapi Muslim Rohingya

Militer Myanmar Persenjatai Warga Budha Hadapi Muslim Rohingya
Muslim Rohingya. (merdeka.com)
Jum'at, 25 November 2016 14:07 WIB
RAKHINE - Kekerasan militer Myanmar terhadap etnis Rohingya yang notabene muslim di Rakhine, terus berlangsung. Sedikitnya 130 orang muslim tewas dan ratusan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal akibat kebiadaban militer Myanmar dalam beberapa minggu belakangan.

Saat ini ada rencana militer melatih dan mempersenjatai warga non-Muslim untuk menghadapi Muslim Rohingya.

Dilansir dari Reuters, Rabu (23/11), pejabat setempat mengatakan para warga Rohingya menimbulkan ancaman keamanan di negara itu. Pasalnya di sepanjang perbatasan, tentara berjaga-jaga agar tidak ada lagi yang menyerang mereka. Militer berjaga di wilayah Maungdaw, sepanjang perbatasan antara Myanmar dengan Bangladesh.

Pemimpin tertinggi Myanmar disebut-sebut sudah mendesak agar militer menahan diri dengan tidak menyerang etnis ini lagi. Namun, sepertinya perintah Aung San Suu Kyi tidak didengar mereka.

Ads
Warga Rohingya mengaku rumah mereka kini rata dengan tanah. Tak hanya itu, mereka juga mengungkapkan kekejian yang dilakukan militer, diperkosa dan bahkan dibunuh dengan kejam.

Pemimpin politik etnis Rakhine menyebutkan, pemerintah malah mempersenjatai warga Budha untuk melawan etnis yang tinggal berbatasan dengan Bangladesh tersebut. Hal itu bukannya meredam pertempuran, namun malah meningkatkan hawa panas yang sudah ada.

Kepala polisi negara bagian Rakhine, Kolonel Sein Lwin, menyebutkan pasukannya kini mulai merekrut 'polisi daerah' dari mayoritas Muslim di sekitar Maungdaw. Namun, syarat yang diminta adalah mereka harus menjadi warga sah, untuk melawan para pemberontak di negara itu.

"Kandidat yang tidak memenuhi standar pendidikan, dan kriteria semisal tinggi badan minimal, tetap akan diterima untuk program ini. Asalkan mereka warga negara yang sah, mereka harus melayani wilayah mereka sendiri," ujarnya.

Sementara itu Kapten Lin Lin Oo menyebutkan, awalnya ada 100 orang direkrut berusia antara 18 hingga 35 tahun. Mereka akan menjalani program pelatihan selama 16 pekan.

"Mereka akan diberikan senjata dan peralatan lainnya juga," sebut pembantu

Direkrutnya minoritas Muslim di wilayah Maungdaw ini tentunya sebagai pasukan tambahan untuk mengawasi kekuatan yang dimiliki warga Rohingya. Mereka ini akan dibayar dan berada di bawah kendali polisi perbatasan.

Sedikitnya 1,1 juta warga Rohingya kehilangan tempat berteduh akibat dibakar oleh militer Myanmar. Tak hanya itu, perempuan etnis ini mengaku diperkosa oleh tentara.

Kembali bentrokan terjadi di Rakhine, antara warga Rohingya dengan militer Myanmar. Berawal dari diserangnya tiga pos polisi perbatasan di wilayah tersebut pada 9 Oktober lalu, yang menewaskan sembilan anggota polisi.

Diduga pelaku penyerangan adalah kelompok militan Islam yang dikenal sebagai Muslim Rohingya. Sejak peristiwa itu hingga kini sudah lebih dari seratus orang tewas dan ratusan lainnya ditahan oleh militer Myanmar.

Sekitar 150 ribu warga tidak mendapat bantuan pasokan pangan dan obat-obatan, puluhan wanita mengaku diperkosa dan lebih dari 1.200 rumah warga dibumihanguskan. Sekitar 30 ribu warga mengungsi.

Militer Myanmar kini melarang para relawan kemanusiaan dan jurnalis independen memasuki wilayah konflik di Negara Bagian Arakan atau lebih dikenal Rakhine yang dihuni mayoritas warga muslim etnis Rohingya.

Peristiwa serupa pernah terjadi pada 2012. Kala itu, Muslim Rohingya dibantai habis-habisan oleh militer Burma, yang menyebabkan ratusan orang tewas.***
Editor:sanbas
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww